Posts Tagged ‘surat Nabi kepada Hiraclius’

Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah kepada pembesar Bushra. Lantas surat itu diserahkan kepada Heraclius lalu dibacanya, isi surat itu adalah:

Bismillahirrahmanirrahim.

Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya

Kepada Heraclius, pembesar Romawi

Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk

Amma Ba`du,

Sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat, dan Allah akan memberi pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan memikul dosa-dosa kaum Arisi!

Wahai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai ilah selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).
(QS. Ali `Imran:64)

Abu Sufyan berkata: Begitu selesai mengatakan perkataan itu dan selesai membaca surat tersebut, gaduhlah orang-orang yang ada di sekitarnya, dan suara-suara kian meninggi. Maka kami pun dikeluarkan dari ruangan itu. Setelah keluar, aku katakan kepada sahabat-sahabatku : Sungguh persoalan Ibnu Abi Kabsyah ini akan menjadi besar, dia sampai ditakuti oleh Raja Bani Ashfar (Bangsa Romawi).

Sejak saat itu aku terus diliputi keyakinan bahwa kemenangannya (Nabi Muhammad) akan tampak, hingga Allah memasukkan aku ke dalam Islam.

Dan Ibnu An Nathur, seorang penguasa Iliya’ dan sahabat Heraclius, adalah seorang pemuka Nashara di negeri Syam, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya’ dengan keadaan terlihat sangat bermuram durja. Para menterinya berkata kepadanya : Kami lihat keadaan tuan sangat muram.
Lalu Ibnu Nathur melanjutkan: ”Heraclius adalah seorang ahli nujum. Ketika mereka bertanya perihal penyebabnya (dia muram), ia berkata : Tadi malam aku melihat lewat ilmu nujum bahwasanya raja yang berkhitan telah berkuasa, siapakah di antara bangsa-bangsa ini yang berkhitan?

Mereka menjawab : Tidak ada yang berkhitan melainkan bangsa Yahudi, tetapi janganlah membuat tuan khawatir keadaan mereka itu. Tulislah perintah ke seluruh negeri dalam kerajaan anda, agar mereka mereka membunuh setiap orang Yahudi yang ada.

Ketika mereka sedang sibuk mengurus masalah tersebut, dihadapkan kepada Heraclius seorang utusan raja Ghassan. Utusan itu menceritakan perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah Heraclius mengorek keterangan darinya, ia berkata : Bawalah laki-laki ini dan periksalah, apakah dia berkhitan atau tidak. Mereka pun memeriksanya dan ternyata memang dia berkhitan. Dan ketika ditanya tentang bangsa Arab, dia menjawab : Orang Arab semuanya dikhitan.

Heraclius berkata; ‘Inilah raja umat ini, sesungguhnya dia telah muncul.

Kemudian heraclius mengirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengan Heraclius (untuk menceritakan perihal munculnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Lalu ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hims, tetapi sebelum tiba di Hims, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius bahwa nabi tersebut (Muhammad) telah muncul  dan bahwa dia benar-benar seorang Nabi.

Maka Heraclius mengundang para pembesar Romawi di sebuah aula istananya di Hims. Ia perintahkan agar semua pintu dikunci.

Kemudian Keraclius muncul dan berkata; ‘Wahai sekalian bangsa Romawi, maukah kalian semua memperoleh kemenangan dan petunjuk, serta kerajaan tetap utuh di tangan kalian? Kalau mau, berbaiatlah kepada Nabi ini (Muhammad).

Dengan serta merta para pembesar Romawi berhamburan ke pintu-pintu bagaikan keledai liar yang panik, namu mereka dapati semua pintu telah terkunci. Begitu Heraclius melihat kebencian mereka dan tidak ada lagi harapan bahwa mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad), maka ia berkata : Suruhlah mereka kembali kepadaku !

Lalu ia berkata : Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati kalian. Kini saya telah melihat keteguhan itu.

Lalu mereka sujud di hadapan Heraclius dan mereka ridha kepadanya.
Demikianlah akhir kisah Heraclius.

Diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma’mar dari az – Zuhri

[Hadits no. 7 ini tercantum juga pada hadits no: 51, 2681, 2804, 2941, 2978, 3174, 4553, 5980, 6260, 7196, dan 7541]

 

Sumber : Fathul Bari ( Syarah Shahih Bukhari), terbitan Pustaka Imam Syafi’i

 

Artikel terkait : Kisah Heraclius dengan Abu Sufyan

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’,  dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri ia berkata: telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abdullah bin ‘Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya:

Bahwa Heraclius mengundang rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam, pada saat berlakunya perjanjian Hudaibiyah antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya’ mereka menemui Heraclius atas undangan Heraclius untuk didiajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi.

Heraclius berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraclius berkata:

Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?.
Abu Sufyan berkata, “maka aku menjawab”, Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia.

Heraclius berkata: Dekatkanlah dia denganku dan tempatkan sahabat-sahabatnya di belakangnya.

Lalu Heraclius berkata melalui penerjemahnya: Katakan kepada mereka bahwa aku akan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap orang ini, jika ia berdusta kalian katakanlah bahwa ia berdusta !

Ia (Abu Sufyan) berkata: “Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya.

Abu Sufyan berkata: Maka yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah:

Bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?

Aku jawab: Dia berasal dari keturunan mulia.

Tanyanya lagi: Apakah ada orang lain yang menyerukan ajaran ini  sebelum dia? Aku jawab: Tidak ada.

Tanyanya lagi: Adakah di antara bapak-bapaknya yang berasal dari keturunan raja? Jawabku: Tidak ada.

Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang lemah? Jawabku: Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang yang lemah.

Dia bertanya lagi: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang? Aku jawab: Pengikutnya terus bertambah.

Dia bertanya lagi: Apakah ada yang murtad disebabkan benci terhadap agamanya? Aku jawab: Tidak ada.

Dia bertanya lagi: Apakah kalian menuduhnya sebagai seorang pendusta sebelum ia menyerukan ajaran ini? Aku jawab: Tidak.

Dia bertanya lagi: Apakah dia pernah berkhianat? Aku jawab: Tidak pernah, sekarang ini kami berada dalam ikatan perjanjian dengannya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan perjanjian tersebut.

Abu Sufyan berkata : Aku tidak kuasa menambah-nambah perkataan selain dari kalimat tersebut.

Dia bertanya lagi: Apakah kalian berperang melawannya? Aku jawab: Iya.

Dia bertanya lagi: Bagaimana kesudahan perang tersebut?

Aku jawab: Perang antara kami dan dia seimbang. Terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia.

Dia bertanya lagi: Apa yang diperintahkannya kepada kalian?

Aku jawab: Dia menyuruh kami: ‘Sembahlah Allah semata dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. ‘

Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturrahim.

Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang nasab orang itu, lalu kamu katakan bahwa orang itu dari keturunan mulia. Demikianlah keadaan para Rasul, meraka diutus dari nasab yang mulia di antara kaumnya.

Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang yang menyerukan ajaran ini sebelumnya, kamu jawab, “Tidak”. Seandainya ada orang lain yang menyerukan ajaran ini sebelumnya, niscaya aku katakan bahwa orang ini hanya meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa.

Aku tanyakan juga kepadamu adakah dari bapak-bapaknya yang berasal dari keturunan raja, maka kamu jawab, “Tidak”. Sekiranya ada salah seorang dari bapaknya yang berasal dari keturunan raja, niscaya aku katakan bahwa ia hanya seorang yang menuntut kerajaan bapaknya.

Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian menuduhnya pendusta sebelum menyerukan ajaran ini, kamu menjawabnya, “Tidak”. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah.

Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang lemah? Kamu menjawab, “orang-orang yang lemah yang mengikutinya. Memang begitulah pengikut para Rasul.

Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah pengikutnya bertambah atau berkurang, kamu menjawab, “Pengikutnya terus bertambah”.

Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna.

Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan benci terhadap agamanya setelah memeluknya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati.

Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin berkhianat.

Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturrahim.

Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa dia pasti akan muncul, namun aku tidak menduga jika dia berasal dari bangsa kalian. Seandainya aku bisa sampai ke sana, tentu aku akan berusaha keras menemuinya. Dan sekiranya aku telah bertemu, pasti aku akan basuh kedua kakinya.

 

bersambung…
(insyaAllah tentang Surat Rasulullah kepada Heraclius)

 

Dikutip dari : Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari), Kitab Permulaan Wahyu, Hadits ke 7
Terjemahan Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari, Terbitan Pustaka Imam Syafi’i