Posts Tagged ‘kromatografi gas’

ASTM D-4815 mengatur prosedur untuk menentukan kandungan ethers dan alcohols dalam gasolines dengan menggunakan Gas Chromatography (GC). Secara spesifik, jenis senyawa yang ditentukan meliputi methyl tert-butylether (MTBE), ethyl tert-butylether (ETBE), tert-amylmethylether (TAME), diisopropylether (DIPE), methanol, ethanol, isopropanol, n-propanol, isobutanol, tert-butanol, sec-butanol, n-butanol dan tert-pentanol (tert-amylalcohol).

Rentang pengukuran yang ditangani oleh standard ini adalah Ethers: 0.1 s/d 20.0 mass % dan Alcohols: 0.1 s/d 12.0 mass %.

Konfigurasi GC. Konfigurasi GC yang disyaratkan dalam standard ini adalah: Injection System, bisa berupa Splitting-type injection system, jika menggunakan capillary column atau FID detector. Atau bisa menggunakan on-column injector & autosampler sejauh dapat memenuhi batasan sample size, efisiensi dan detector linearity. Atau bisa juga menggunakan microlitre syringes yang dilengkapi dengan automatic syringe injectors dan liquid sampling valve.

Oven, (Main) oven berisi nonpolar column dan polar column serta valve. Bisa juga dilengkapi auxiliary oven yang digunakan untuk menempatkan polar column dan valve (untuk kasus ini, main oven hanya berisi nonpolar column).

Column, terdiri dari polar column dan nonpolar column. Polar column, digunakan untuk pra-separasi oxygenates terhadap volatile hydrocarbons. Polar column berupa TCPE micro-package column 560 mm, 1.6 mm outside diameter, 0.76 mm inside diameter, SS tube package with 0.14-0.15 g of 20% TCEP on 80% mesh chromosorb P (AW). Nonpolar column atau analytical colum, terbuat dari WCOT Methyl silicone column (capilary), 30-m long, 0.53 mm inside diameter fused silica WCOT column with 2.6 micron film thicness of cross-linked methyl silixane.

Control system, terdiri dari flow control & indicator, pressure regulator dan automatic valve switching & backflushing valve.

Detector, berupa TCD atau FID, dengan spec sensitivity min 2 mm.

Data aquisition, bisa berupa computer, recorder, analog electronic atau secara manual.

Berikut adalah contoh GC untuk aplikasi ASTM D-4815 dari beberapa vendor.

 

Baca artikel terkait : GC, Pemisahan Berdasarkan Titik Didih ?

GC, dalam Pandangan Instrument Engineer

Secara umum, chromatography  merupakan suatu istilah yang menggambarkan teknik yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dari suatu campuran/sample. Dalam gas chromatography (GC), gas (yang biasa disebut carrier gas) digunakan untuk membawa sample melewati lapisan (bed) material. Karena gas yang bergerak, maka disebut mobile phase (fasa bergerak), sebaliknya lapisan material yang diam disebut stationary phase (fasa diam). Ketika mobile phase membawa sample melewati stationary phase, sebagian komponen sample akan lebih cenderung menempel ke stationary phase dan bergerak lebih lama dari komponen lainnya, sehingga  masing-masing komponen akan keluar dari stationary phase pada saat yang berbeda. Dengan cara ini komponen-komponen sample dipisahkan.

Secara umum, peralatan GC terdiri dari: 1) Injection System; 2) Oven; 3) Control System; 4) Column; 5) Detector; dan 6) Data Acquisition System.

Injection system digunakan untuk memasukkan/menyemprot gas dan sample kedalam column.  Ada beberapa jenis injection system:
1) Packed column injector; umumnya digunakan dengan package column atau capillary column dengan diameter yang agak besar; injeksi dilakukan secara langsung (direct injection).
2) Split/Splitless capillary injector, digunakan dengan capillary column; sebagian gas/sample dibuang melalui split valve.
3) Temperature programmable cool on-column, digunakan dengan cool capillary column, injeksi dilakukan secara langsung.

Oven, digunakan untuk memanaskan column pada temperature tertentu sehingga mempermudah proses pemisahan komponen sample.

Column, berisi stationary phase dimana mobile phase akan lewat didalamnya sambil membawa sample. Secara umum terdapat 2 jenis column, yaitu:
1) Packed column, umumnya terbuat dari glass atau stainless steel coil dengan panjang 1 – 5 m dan diameter kira-kira 5 mm.
2) Capillary column, umumnya terbuat dari purified silicate glass dengan panjang 10-100 m dan diameter kira-kira 250 mm. Beberapa jenis stationary phase yang sering digunakan: a) Polysiloxanes untuk nonpolar analytes/sample.  b) Polyethylene glycol untuk polar analytes/sample. c) Inorganic atau polymer packing untuk sample bersifat small gaseous species.

Control system, berfungsi untuk: 1) Mengontrol pressure dan flow dari mobile phase yang masuk ke column. 2) Mengontrol temperature oven.

Detector, berfungsi mendeteksi adanya komponen yang keluar dari column. Ada beberapa jenis detector, yaitu:
1) Atomic-Emission Detector (AED); cara kerjanya adalah: campuran sample-gas yang keluar dari column diberi tambahan energy dengan menggunakan microwave sehingga atom-atomnya bereksitasi; sinar eksitasi ini kemudian diuraikan oleh diffraction grating dan diukur oleh photodiode array; kehadiran komponen dalam sample dapat ditentukan dari adanya panjang gelombang eksitasi komponen tersebut yang diukur oleh photodiode array.
2) Atomic-Emission Spectroscopy (AES) atau Optical Emission Spectroscopy (OES); cara kerjanya: campuran sample-gas yang keluar dari column diberi tambahan energy sehingga atom-atomnya bereksitasi; sumber energy tambahan ini (excitation source) terdiri dari beberapa jenis yaitu direct-current-plasma (DCP), flame, inductively-coupled plasma (ICP) dan laser-induced breakdown (LIBS); sinar eksitasi dari berbagai atom ini kemudian diukur secara simultan oleh polychromator dan multiple detector; polychromator disini berfungsi sebagai wavelength selector.
3) Chemiluminescense Spectroscopy; cara kerjanya sama seperti pada AES yaitu mengukur sinar eksitasi dari sample yang diberi tambahan energy; perbedaan dari AES adalah eksitasi molekul sample bukan atom sample; selain itu, energy tambahan yang diberikan bukan berasal dari sumber energy luar seperti lampu atau laser tetapi dihasilkan dari reaksi kimia antara sample dan reagent; sinar eksitasi molekul sample ini kemudian diukur dengan photomultiplier detector (PTM).
4) Electron Capture Detector (ECD); menggunakan radioactive beta emitter (electron) untuk mengionisasi sebagian gas (carrier gas) dan menghasilkan arus antara biased pair of electron; ketika molekul organik yang mengandung electronegative functional groups seperti halogen, phosphorous dan nitro groups dilewati detector, mereka akan menangkap sebagian electron sehingga mengurangi arus yang diukur antara electrode.
5) Flame Ionization Detector (FID); terdiri dari hydrogen/air flame dan collector plate; sample yang keluar dari column dilewatkan ke flame yang akan menguraikan molekul organik dan menghasilkan ion-ion; ion-ion tersebut dihimpun pada biased electrode (collector plate) dan menghasilkan sinyal elektrik.
6) Flame Photometric Detector (FPD); digunakan untuk mendeteksi kandungan sulfur atau phosphorous pada sample. Peralatan ini menggunakan reaksi chemiluminescent sample dalam hydrogen/air flame; sinar eksitasi sebagai hasil reaksi ini kemudian diukur oleh PMT.
7) Mass Spectrometry (MS); mengukur perbedaan mass-to-charge ratio (m/e) dari ionisasi atom atau molekul untuk menentukan kuantitasi atom atau molekul tersebut.
8.) Nitrogen Phosphorus Detector (NPD); prinsip kerjanya hampir sama dengan FID, perbedaan utamanya adalah hydrogen/air flame pada FID diganti oleh heated rubidium silicate bead pada NPD; sample dari column dilewatkan ke hot bead; garam rubidium yang panas akan memancarkan ion ketika sample yang mengandung nitrogen dan phosphorous melewatinya; sama dengan pada FID, ion-ion tersebut dihimpun pada collector dan menghasilkan arus listrik.
9) Photoionization Detector (PID); digunakan untuk mendeteksi aromatic hydrocarbon atau organo-heteroatom pada sample; sample yang keluar dari column diberi sinar ultraviolet yang cukup sehingga terjadi eksitasi yang melepaskan electron (ionisasi); ion/electron ini kemudian dikumpulkan pada electroda sehingga menghasilkan arus listrik.
10) Thermal Conductivity Detector (TCD); TCD terdiri dari electrically-heated wire atau thermistor; temperature sensing element bergantung pada thermal conductivity dari gas yang mengalir disekitarnya; perubahan thermal conductivity seperti ketika adanya molekul organik dalam sample yang dibawah carrier gas, menyebabkan kenaikan temperature pada sensing element yang diukur sebagai perubahan resistansi. 11) Photodiode Array Detector (PAD); merupakan linear array discrete photodiode pada sebuah IC; pada spectroscopy, PAD ditempatkan pada image plane dari spectroscopy sehingga memungkinkan deteksi panjang gelombang pada rentang yang luas bisa dilakukan secara simultan.

Data Aquisition, berfungsi sebagai: 1) Control automatic calibration; 2) Gas analysis; dan 3) Graphics & Reporting. Data aquisition merupakan perangkat gabungan dari Software dan Hardware (PC, Interface & Communication).

Technical Specification; Beberapa parameter yang menjadi ukuran spesifikasi teknis GC, antara lain:
1) Analytes; menyatakan komponen-komponen yang akan dianalisa/dideteksi.
2) Quantification limit (detectability); menyatakan kemampuan deteksi terkecil, dinyatakan dalam persen.
3) Measurement range; menyatakan kemampuan rentang pengukuran GC.
4) Communication Port ; digital port untuk komunikasi dengan PC atau perangkat digital lainnya.
5) Electrical Power Supply (voltage, phase, frequency, power).

 

Penulis : Ir Yosep Asro Wain
(Mantan Instrument Project Engineer, Kilang Putri Tujuh, UP II Dumai, PT Pertamina)

Baca artikel terkait : GC, Pemisahan Berdasarkan Titik Didih ?

Ada yang beranggapan bahwa kromatografi gas/gas chromatography (GC) merupakan metode analisis & pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih. Kalau seperti itu halnya, mengapa tidak menggunakan distilasi saja?

Jadi apakah anggapan tersebut salah? Tidak sepenuhnya salah. Memang titik didih merupakan salah satu faktor penting dalam pemisahan menggunakan GC. Tapi perlu kiranya kita merujuk pada yang lebih faham tentang hal tersebut. Tidak usah jauh-jauh membuka Modern Analytical Chemistry-nya David Harvey yang bukunya tebal itu, buku tipisnya Prof. Hardjono yang berjudul Kromatografi kiranya cukup untuk menjawabnya. Mari kita simak.

Pada hal.46 Prof.Hardjono menyatakan :

“Kromatografi merupakan cara pemisahan yang mendasarkan partisi cuplikan antara fasa bergerak dan fasa diam”

Berbeda kan dengan distilasi? Dalam distilasi jelas tidak melibatkan fasa diam dan fasa gerak apalagi partisi, yang ada hanya panas dan pengaturan suhu. Lantas mengapa dinamakan GC? Tidak lain dan tidak bukan karena fasa geraknya berupa gas. Lalu bagaimana dengan fasa diamnya?

Pada halaman berikutnya, Prof.Hardjono menyebutkan :

“Kita mengetahui bahwa ada dua jenis dari Kromatografi gas, yaitu :

  1. Kromatografi padatan gas (G.S.C)
  2. Kromatografi cairan gas (G.L.C)

Dalam kedua hal ini sebagai fasa gerak adalah gas (hingga keduanya disebut kromatografi gas), tetapi fasa diamnya berbeda. Meskipun demikian kedua cara tersebut mempunyai banyak persamaan. Perbedaan yang ada adalah hanya tentang cara kerja.

Pada G.S.C kita mempunyai adsorpsi (absorpsi) dan dalam GLC kita mempunyai partisi (larutan).”

Terjawab sudah kan bahwa dasar pemisahan pada GC bukan (hanya) perbedaan titik didih.

Untuk pembahasan lebih detail, kita lanjutkan di lain waktu. Selamat belajar, yakinlah kimia itu mudah.