Institut Pertanian Bogor
IPB Badge
Program Diploma IPB
IPB Badge
Kalender
Oktober 2014
MSSRKJS
« Sep  
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Posts Tagged ‘jadwal shalat 5 waktu’

Dr.Muhammad bin Musa Alu Nasr hafidzhahullah pada Senin 11 Oktober 2009 dalam acara Liqa Maftuh di Daurah Syar’iyyah ke-10 di Trawas Mojokerto pernah berkata terkait jadwal subuh yang terlalu cepat, ”30 menit itu terlalu banyak, kalau dikatakan selisihnya adalah 20 menit maka itu mungkin (beliau sepertinya tidak tahu Indonesia menggunakan sudut (-20°) sedangkan di Yordania (-18°), jadi berselisih 10 menit-red). Sebenarnya dahulu aku beranggapan problem ini hanya ada di negeri kami, Syam. Akan tetapi kemanapun aku pergi kujumpai problem ini. Suatu hal yang disayangkan…Aku tidak tahu siapa aktor di balik konspirasi terhadap umat Islam ini untuk merusak shalat mereka.”

Pertanyaan dan misteri di balik ini sedikit terkuak dan terungkap pada Kajian Koreksi Waktu Shubuh yang digelar di Masjid Al-Sofwa pada tanggal 26 Februari 2012 M/05 Rabi`uts Tsani 1433 H dengan pembicara al-Ustadz Agus Hasan Bashari, Lc. MAg yang telah melakukan observasi fajar shadiq di beberapa daerah di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bima, Lombok dan Bali, Papua dan daerah-daerah lainnya. Acara yang dihadiri sekitar 400-an orang ini juga menampilkan foto-foto hasil lima kali observasi fajar shadiq di Papua.

Memanglah sejak zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kaum muslimin senantiasa menentukan waktu-waktu sholat dengan cara melihat pergerakan matahari dan pergerakan benda-benda langit. Namun sejak pemerintah kolonial Inggris di Mesir menugaskan Lehman dan Melthe (1908-1909) untuk menetapkan penanggalan termasuk waktu-waktu shalat, kaum muslimin cenderung mengandalkan perhitungan tersebut dan mulai meninggalkan cara-cara tradisional yang mengandalkan pada fenomena alam.

Dr. Ismail Khalifah, pakar ilmu ukur Fakultas Teknik Universitas Al-Azhar Mesir dan Ketua Badan Otoritas Pengukuran Umum Mesir dalam tulisannya Muqaddimah Falakiyah halaman 8 menjelaskan,”Sesungguhnya Badan Otoritas Pengukuran Umum Mesir mengadakan perhitungan tentang jadwal shalat shubuh (fajar shadiq) ketika matahari dalam posisi (-19°) di bawah ufuk. Ini berdasarkan rekomendasi dua pakar asing, yaitu Lehman dan Melthe yang diperintahkan untuk mengadakan kajian di Aswan tentang syafaq pada musim hujan tahun 1908, keduanya menerbitkan hasil riset dan merekomendasikannya pada tahun 1909.”

Ketika itu penetapan ini diakui oleh masyarakat Mesir menyelisihi waktu-waktu shalat yang dipakai pada masa Muhammad Ali Basya dan Negara Turki Utsmaniyah yang mengandalkan bayangan matahari dan analoginya serta berdasarkan terbitnya fajar shadiq. Terlebih lagi penetapan ini juga berseberangan dengan ilmu astronomi yang mematok sudut (-18°) di bawah ufuk sebagai awal munculnya hamburan cahaya di atas langit.(Lihat Fajar Astronomi versi USNO ; juga lihat Definition of Twilight). Jadi penetapan Lehman dan Melthe benar-benar lebih dini dan jauh lebih malam dari kriteria ilmu astronomi itu sendiri. Hasil riset dua insinyur Inggris inilah yang akhirnya ditiru dan diterapkan oleh hampir semua negara muslim tanpa dilakukan observasi dan uji keilmiahan sebelumnya.

Pada tahun 1975 dengan alasan kehati-hatian, Saadoedin Djambek yang oleh sebagian orang disebut sebagai mujaddid al-hisab Indonesia menambah kriteria Mesir yang memang sudah menyalahi ilmu astronomi itu menjadi (-20°) di bawah ufuk sehingga menjadi semakin dini dan lebih malam lagi.

Sudah tepatkah penetapan sudut -20°, -19° ,-18° di bawah ufuk itu? Nyatanya di Inggris sendiri, yang berpatokan pada (-18°) di bawah ufuk untuk fajar astronomi, organisasi Islam di University of Anglia Norwich berdasarkan observasi yang melibatkan pakar astronomi menerapkan (-15°) untuk awal waktu shubuh! Demikian juga ISNA (Masyarakat Islam Amerika Utara) menetapakan (-15°) serta penelitian di Dahna’ (150 km dari Riyadh) Lembaga Penelitian Falak dan Geofisika Al-Malik Abdul Aziz di Madinah KSA pada tahun 2005 menemukan bukti bahwa waktu shubuh (fajar shadiq) muncul pada sudut (-14,6°) !!!

Hasil observasi kaum muslimin di atas ternyata sejalan dengan temuan Tim Qiblati dan banyak tim privateer lainnya yang telah melakukan observasi di berbagai wilayah di Indonesia yang menunjukkan bahwa fajar shadiq terlihat jelas pada posisi (-15°) sampai (-14°) di bawah ufuk. (Silakan lihat kembali Shubuh di Indonesia Terlalu Pagi )

“Alhamdulillah, kami telah menulis surat resmi kepada Kementerian Agama dan MUI serta telah bertemu dengan Menteri Agama, Dirjen Kemennag dan Ketua-ketua dan pengurus harian MUI terkait permasalahan waktu shubuh dan mereka semua sangat apresiatif dan mendukung upaya-upaya observasi ilmiah untuk kemashlahatan umat,” kata al-Ustadz Agus Hasan Bashari, Lc. M.Ag. “Insya Allah, geliat perbaikan dan observasi berjalan terus dan semakin meningkat. Khususnya terkait dengan Mukernas Rukyatul Hilal Indonesia di Yogyakarta dan Musyawarah Kerja Badan Hisab dan Rukyat Kemennag mendatang,” tambah ustadz yang juga dijadwalkan sebagai salah satu pembicara pada acara tersebut. (sd).

لَعَّلَكُمْ سَتَدْرِكُوْنَ أقْوَامًا يُصَلُّوْنَ صَلاَةً لِغَيْرِ وَقْتِهَا فَإذَا أدْرَكْتُمُوْهُمْ فَصَلُّوْا فِيْ بُيُوْتِكُمْ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تَعْرِفُوْنَ ثُمَّ صَلُّوْا مَعَهُمْ وَاجْعَلُوْهَا سُبْحَةً.

“Barangkali kalian akan menjumpai kaum-kaum yang melakukan shalat di luar waktunya; jika kalian menjumpai mereka maka shalatlah di rumah-rumah kalian pada waktu yang kalian kenal, kemudian shalatlah bersama mereka dan jadikanlah itu sebagai sunnah.” (HR.Ahmad 1/379).
Sumber : alsofwah.or.id

Secara astronomi, hamburan cahaya matahari di akhir malam mulai terlihat pertama kali ketika matahari berada pada posisi sekitar (-18°) di bawah ufuk; adapun pada posisi di bawah itu atau lebih malam lagi maka belum terlihat hamburan cahaya itu.

Awal kemunculan hamburan cahaya di langit ini dinamakan sebagai Fajar Kadzib yang datang mendahului Fajar Shadiq. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda terkait dengan Fajar Kadzib dan Fajar Shodiq ini,

لَيْسَ الْفَجْرُ الْمُسْتَطِيْلُ فِيْ الأُفُقِ وَلَكِنَّهُ الْمُعْتَرِض الأَحْمَر

“Bukanlah fajar itu cahaya yang meninggi di ufuk (yakni fajar kadzib), akan tetapi (fajar shadiq)yang membentang berwarna merah (putih kemerah-merahan) .” (HR. Ahmad; hadits hasan, lihat takhrijnya di Bayan al-Fajr as-Shadiq, Syaikh Abul Fadhl Umar ibn Mas’ud al-Hadusy).

Juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وكُلُوْا واشْرَبُوا وَلاَ يَهْدِنَّكُمُ الْسَاطِعُ الْمُصْعِدُ فكُلُوْا واشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأحْمَرُ

“Makan dan minumlah, janganlah cahaya yang menjulang tinggi ke atas mengganggumu (menghalangimu dari makan dan minum)(yakni fajar kadzib); makan dan minumlah hingga nampak membentang pada kalian garis merah (yakni fajar shadiq).” (HR. at-Tirmidzi: 705, Abu Dawud: 2348, Silsilah ash-Shahihah, 5/52 no. 2031)

The U.S. Naval Observatory juga menegaskan di bawah (-18°) hamburan cahaya sulit terlihat: “Astronomical twilight is defined to begin in the morning, and to end in the evening when the center of the Sun is geometrically 18 degrees below the horizon. Before the beginning of astronomical twilight in the morning and after the end of astronomical twilight in the evening the Sun does not contribute to sky illumination; for a considerable interval after the beginning of morning twilight and before the end of evening twilight, sky illumination is so faint that it is practically imperceptible.” (http://www.usno.navy.mil)

Hal ini juga ditegaskan oleh Dr. T. Djamaluddin, pakar astronomi anggota BHR Depag RI/Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN, di dalam tulisannya untuk Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI menyatakan bahwa awal munculnya hamburan cahaya di langit di mana cahaya bintang mulai meredup adalah ketika matahari berada sekitar (-18°) di bawah ufuk; namun beliau menyebut awal hamburan cahaya di malam hari ini sebagai fajar shadiq bukan fajar kadzib (lihat kembali hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas).

Namun saat ini kenyataannya kebanyakan masjid-masjid di Indonesia kriteria yang digunakan untuk Fajar Shadiq sebagai awal masuk waktu shubuh adalah posisi matahari (-20°) di bawah ufuk, padahal hamburan cahaya di langit saja baru mulai muncul pada posisi (-18°) di bawah ufuk. Penetapan kriteria ini juga jauh lebih dini dan lebih malam dari pada negara-negara lain di dunia yang menetapkan pada posisi antara (-18°) hingga (-15°). Akibatnya waktu shalat Shubuh di Indonesia menjadi lebih cepat dan lebih dini antara 8 menit hingga 24 menit dari kriteria yang dianut oleh masyarakat internasional.

Fakta ini didukung oleh hasil observasi (rukyat) di lapangan membuktikan bahwa ternyata pada kriteria -20° langit masih gelap. Hal ini juga dididukung oleh Sugeng Riyadi, anggota Himpunan Fisikawan Indonesia dan Rukyatul Hilal Indonesia yang menuangkan salah satu hasil observasinya dalam tulisan berjudul Minus 17° pun Fajar Shadiq Belum Nyata! (Lihat tulisan beliau di Majalah Qiblati edisi 05/tahun V. Beliau juga anggota organisasi astronomi ICOProject-Yordania, Moonsighting USA dan Hilalsighting.org.)

Penjelasan Ulama Terkait Waktu Shalat Shubuh

Allah Ta’ala telah berfirman,

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nisa`: 103)

Ibn Abdil Barr mengatakan, “Shalat tidak sah sebelum waktunya, ini tidak diperselisihkan di antara ulama.” [Dari kitab al-Ijma’ karya Ibn Abdil Barr -Rahimahullah-, hal. 45]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah berkata,

بالنسبة لصلاة الفجر المعروف أن التوقيت الذي يعرفه الناس ليس بصحيح، فالتوقيت مقدم على الوقت بخمس دقائق على أقل تقدير، وبعض الإخوان خرجوا إلى البر فوجدوا ان الفرق بين التوقيت الذي بأيدي الناس وبين طلوع الفجر نحو ثلث ساعة، فالمسألة خطيرة جدا، ولهذا لا ينبغي الإنسان في صلاة الفجر أن يبادر في إقامة الصلاة، وليتأخر نحو ثلث ساعة أو (25) دقيقة حتى يتيقن ان الفجر قد حضر وقته

“Sehubungan dengan shalat Fajar, (Sebagaimana) yang diketahui bahwa penentuan waktu yang dikenal manusia sekarang tidaklah benar. Penentuan waktu tersebut mendahului waktu Fajar yang benar dengan perkiraan minimal 5 menit sebelum masuk fajar shadiq. Sebagian saudara kami pergi keluar menuju ke tanah lapang (pedalaman) dan mereka mendapatkan bahwa selang waktu antara waktu berdasarkan penanggalan yang dikenal manusia dan terbitnya fajar sekitar sepertiga jam (20 menit). Masalah ini sangat serius, karena itu tidak seharusnya seseorang bersegera melaksanakan shalat, dan hendaknya mengakhirkan hingga sepertiga jam (20 menit) atau 25 menit, hingga benar-benar yakin bahwa fajar telah masuk.” (Syarah Riyadhussalihin, 3/216)

Beliau menambahkan, “Yang harus dilakukan adalah meneliti hal ini, karena sangat bermasalah, dan yang tampak bagi saya bahwa adzan Shubuh pada setiap waktu sepanjang tahun dilakukan sebelum waktu yang sebenarnya. Ada pendahuluan sekitar 5 menit sepanjang waktu setahun.” (Liqa` al-bab al-Maftuh, 7/41)

Berikutnya mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani Rahimahullaahu dalam masalah ini, “Saya melihat dengan mata kepala sendiri berkali-kali dari rumah saya di gunung Himlan -sebelah tenggara Amman (Yordania)- hal itu memungkinkan saya untuk meyakinkan kebenaran yang disebutkan sebagian orang yang memiliki kecemburuan terhadap agama, untuk meluruskan ibadah kaum muslimin, bahwa adzan Fajar di sebagian Negara Arab dikumandangkan sebelum fajar shadiq dengan lama waktu berkisar antara 20-30 menit, bahkan sebelum muncul fajar kadzib sekalipun. Sering saya dengar iqamah untuk shalat fajar dari sebagian masjid bersamaan dengan terbitnya fajar shadiq, artinya mereka talah adzan sebelum itu sekitar setengah jam. Dengan demikian, berarti mereka telah shalat sunnah fajar sebelum waktunya, dan bisa jadi mereka menyegerakan melaksanakan kewajiban (puasa) sebelum waktunya di bulan Ramadhan. Dalam hal ini tentu mengandung penyempitan bagi manusia dalam hal menyegerakan menahan diri dari makanan (sahur), serta menyebabkan shalat fajar terancam batal. Semua itu disebabkan karena mengandalkan penentuan waktu berdasarkan perhitungan falak (penanggalan) dan berpaling dari penentuan waktu berdasarkan syariat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah (al-Baqarah: 187). Juga hadits Nabi,

وكُلُوا واشْرَبُوا حتى يَعْتَرِضَ لكُم الأحْمَرُ

“Makan dan minumlah hingga nampak (menghadang) pada kalian garis merah (sinar merah awal pagi, Astronomical Twilight).”

Ini adalah peringatan, sedangkan peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (Silsilah al-Shahihah, nomor 2031, 5/52)

 

Sumber : alsofwah.or.id

 

Baca : Makalah Kajian Koreksi Awal Waktu Shubuh

Download :  Jadwal Shalat Shubuh 2012

Download : Jadwal Shalat 5 Waktu

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin