Download materi kuliah ke-10

Slightly viscous liq. Sweet taste. Poisonous! Do not swallow! Considerably hygroscopic: Absorbs twice its weight of water at 100% relative humidity. d0 1.1274 . d10 1.1204 . d20 1.1135 . d30 1.1065 . One gallon weighs 9.3 lbs. Flash pt, open cup: 240oF (115oC). mp -13o . bp760 197.6o ; bp97 140o ; bp18 100o ; bp3.0 70o ; bp0.06 20o . nD15 1.43312 ; nD25 1.43063 . Viscosity in centipoises: 26 at 15o; 21 at 20o; 17.3 at 25o. Dielectric constant at 20o and 150 meters wavelength: 38.66 esu. Dipole moment 2.20. Spec heat (20degrees): 0.561 cal/g/oC. Heat of formation -108.1 kcal/mol. Heat of fusion 44.7 cal/g. Heat of vaporization 191 cal/g. Heat of soln -6.5 cal/g of soln at 17o when 37 parts are mixed with 63 parts H2O (w/w). Parachor 148.9 (theory 152.2). Surface tension at 20o = 48.4 dynes/cm. Miscible with water, lower aliphatic alcohols, glycerol, acetic acid, acetone and similar ketones, aldehydes, pyridine and similar coal tar bases. Slightly sol in ether (1:200). Practically insol in benzene and its homologs, chlorinated hydrocarbons, petr ether, oils. Density and freezing point of ethylene glycol-water mixtures: 10.15% ethylene glycol by wt ( d20, fp): 1.013 ,-3.5o; 20.44% ethylene glycol: 1.027 , -8o;  29.88% ethylene glycol: 1.040 , -15o; 40.23% ethylene glycol: 1.054 ,-24o; 50.18% ethylene glycol: 1.067 , -36o; 58.37% ethylene glycol: 1.0770 , -48o. LD 50 in rats, guinea pigs (g/kg ): 8.54 , 6.61 orally (Smyth); in mice ( ml/kg ): 13.79 orally (Bornmann).

No. Kelarutan etilen glikol dalam … Tingkat kelarutan (larut/sedikit larut/tidak larut*)*pilih salah satu
1 Air
2 Benzene
3 Gliserol
4 Eter
5 Petroleum eter
6 aseton
7 Alkohol
8 Asam asetat
No. Titik didih (oC)  Pada tekanan …
9 197,6 … torr
10 140 … atm
11 100 … atm
No. Densitas (g/mL) Pada suhu …
12 1,1204 oFahrenheit
13 1,1135 … Kelvin
14 1,1065 oCelcius
No. Entalpi Energi
15 Kalor pembentukan … kalori/mol
16 Kalor fusi … Joule/gram
17 Kalor penguapan … kilokalori/gram
18 Kalor pelarutan …Joule/ gram

Permasalahan utama kebersihan yang selama ini masih belum terselesaikan secara tuntas, salah satunya merupakan sampah. Kebersihan dapat terjaga dengan pengelolaan sampah terpadu. Pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan hanya berupa penimbunan sampah secara besar-besaran tanpa ada pemilahan atau pun pengelolaan sampah lebih lanjut. Pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, organik dan non-organik, pendaurulangan sampah, pembakaran sampah pada suhu sangat tinggi, ataupun penggunaan reaktor biogas untuk mendegradasikan sampah merupakan beberapa cara pengelolaan sampah secara terpadu yang dapat dilakukan untuk menggantikan penimbunan sampah yang menghasilkan banyak permasalahan.

Reaktor biogas yang mempergunakan sampah sebagai sumber penghasil gas, merupakan solusi bagi permasalahan sampah organik. Persentase sampah organik yang cukup besar, sekitar 64%, merupakan potensi yang cukup baik bagi pengolahan sampah organik dengan mempergunakan reaktor biogas. Dengan mempergunakan reaktor biogas, pengolahan sampah organik dapat ditangani dengan lebih baik.

Pengolahan sampah yang dilakukan dengan cara penimbunan sangat beresiko mencemari udara dan tanah. Pencemaran udara yang dapat ditimbulkan dari penimbunan sampah yaitu aroma yang tidak sedap dan penghasilan gas metan yang merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca. Aroma sampah yang tidak sedap sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Efek rumah kaca yang terjadi pada atmosfer bumi, dapat menyebabkan pemanasan global yang dampaknya sudah mulai kita rasakan sekarang. Sedangkan pencemaran tanah dapat terjadi karena penghasilan lindi yang sangat beracun oleh timbunan sampah. Lindi merupakan cairan hitam berancun yang dapat meracuni air tanah dan menurunkan tingkat kesuburan tanah.

Pemanfaatan reaktor biogas dalam pengelolaan sampah organik dapat menurunkan resiko pencemaran udara maupun tanah. Hal ini dikarenakan proses yang terjadi dalam reaktor biogas tidak menimbulkan bau yang menyengat, sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu. Selain itu, gas metan yang dihasilkan dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sehingga tidak langsung terbang ke udara. Lindi yang dihasilkan oleh proses degradasi sampah pun tertampung dalam reaktor yang bermanfaat untuk memperbesar produksi biogas pada reaktor.

Biogas yang dihasilkan oleh reaktor biogas memiliki persentase gas metan terbesar sekitar 55-75%. Gas metan yang memiliki sifat mudah terbakar ini dapat dipergunakan sebagai pembangkit listrik dan sumber gas pengganti gas elpiji. Potensi gas metan untuk menjadi sumber pembangkit listrik sangat besar di kala krisis energi yang sedang terjadi saat ini. Selain itu, penyuluhan pada masyarakat mengenai manfaat reaktor biogas pada skala kecil dapat sekaligus menangani permasalahan sampah pada sumbernya.

Sisa dari proses degradasi sampah yang terjadi dalam reaktor biogas tidak mencemari lingkungan. Hasil sampingan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berkualitas tinggi. Penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan tidak akan memberi efek penurunan kualitas tanah, bahkan produksi pertanian akan meningkat. Berbeda dengan pupuk kimia yang jika dimanfaatkan secara berlebihan dalam pertanian dapat menurunkan kualitas tanah sehingga mengurangi produksi pertanian.

Seluruh keunggulan di atas menjadikan reaktor biogas salah satu alternatif yang potensial dalam melakukan pengolahan sampah terpadu.

 

sumber: majalah energi


kimia_small.jpgSiapa yang tidak mengenal ilmu kimia? Bagi para murid jurusan IPA, kimia adalah salah satu mata pelajaran yang sedikit menguras tenaga dan fikiran. Karena tak jarang di dalamnya membahas sesuatu yang sangat kecil bahkan sampai sesuatu yang tidak tampak di mata kita. Rumus-rumus yang menghiasinya pun menyilaukan mata. Memang banyak para murid yang menyukai pelajaran tersebut dan menjadikannya sebuah tantangan yang harus dikerjakan, tapi tak sedikit pula murid yang tidak menyukainya. Namun sejak dua tahun yang lalu, suka atau tidak suka para murid harus mempelajarinya semaksimal mungkin, karena pemerintah memutuskan untuk memasukkanya ke dalam mata pelajaran yang di Ujian Nasionalkan. Siapakah sebenarnya orang besar di balik ilmu rumit tersebut?

Namanya Jabir bin Hajjan. Nama yang tidak dapat dihapus begitu saja dari sejarah Islam. Karya-karya cemerlangnya pun tak bisa hanya dipandang sebelah mata. Sebab sejarah telah menjadi saksi, bahwa Jabir adalah seorang ahli kimia Islam yang begitu berjasa pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Oleh karena itu tidak berlebihan jika kita menyebutnya “Bapak Kimia Islam”.

Sebagai seorang ilmuwan, Jabir tidak puas begitu saja dengan teori-teori sarjana sebelumnya. Ia terus mengadakan experiment. Ternyata hasilnya mampu menumbangkan dan melebihi teori-teori sebelumnya. Sekalipun dalam mengemukakan hasil akhir experiment nya ia terkenal ekstrim. Namun sikapnya yang demikian selalu diikuti dengan bukti-bukti yang nyata.

Jabir bin Hajjan dilahirkan di Khurasan, tahun 120 H. Ketika itu ayahnya, Hajjan al-Attar, tengah mengadakan perjalanan berkampanye untuk Bani Abbas. Untungnya waktu itu pihak penguasa di Baghdad sangat menaruh perhatian pada para ulama dan sarjana untuk mempergiat usaha penyebaran ilmu pengetahuan melalui tulisan dan mulai menerjemahkan buku-buku penting karya sarjana sebelumnya.

Di Negara Arab, Jabir begitu tekun mempelajari ilmu kimia lewat gurunya, Ja`far as-Sadik. Di samping mempelajari kimia, ia juga mendalami ilmu kedokteran, filsafat, dan ilmu pasti. Tampaknya di bidang ilmu kimia inilah Jabir paling menonjol. Hingga akhirnya mengantarkan nama Jabir disebut-sebut orang sebagai peletak dasar ilmu kimia.

Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Jabir adalah ketelitian dan kejujurannya dalam mengadakan experiment. Dalam penelitiannya, ia tidak mudah untuk tergesa-gesa. Ia senantiasa menyejajarkan antara teori dan praktek. Sebab menurutnya, untuk mencapai suatu pengetahuan haruslah dengan percobaan dan praktek.

Pantaslah jika akhirnya Jabir mampu menciptakan konsep yang jelas mengenai teori-teori yang diketengahkan para sarjana kimia sebelumnya. Berdasarkan penyelidikan para sarjana Yunani, pada waktu itu hanya dikenal teori kimia tentang empat unsur terjadinya wujud, yakni wujud air, tanah, api, dan udara. Selanjutnya dikenal sifat yang empat pula, yaitu sejuk, panas, kering, dan lembab.

Sementara Aristoteles menambahkan, ada unsur pertengahan antara api dan tanah, yakni asap. Sedangkan antara udara dan air, yakni konsistensi air. Kesimpulan Aristoteles menerangkan, bahwa terjadinya mineral disebabkan melarutnya “kedua cara” perantaraan tersebut dalam perut bumi.

Namun teori tersebut dibantah oleh sarjana-sarjana muslim. Sebab menurut penyelidikan, teori tersebut tidak banyak memberi bukti. Menurut Jabir, mineral itu tidak mungkin terdiri dari dua unsur tersebut. Bahkan ia berubah ke dalam dua unsur baru, yaitu air raksa dan belerang. Karena pelarutan keduanya di perut bumi akan menjadi mineral.

Meskipun kesimpulan Jabir terkesan aneh, tapi pada akhirnya diakui oleh para kimiawan. Bahkan menjadi dasar teori “Phlogiston” yang berkembang selanjutnya. Teori ini menyatakan, semua substansi yang bisa terbakar dan mineral-mineral yang dapat membeku karena zat-zat air, raksa, garam dapur, dan belerang.

Banyak hal yang disumbangkan Jabir untuk menambah perbendaharaan ilmu kimia ketika itu. Selain melakukan percobaan-percobaan, ia pun membuat alat-alat yang akan digunakan dengan tangannya sendiri. Melalui beragam percobaannya, Jabir mengungkapkan tentang penguapan, penyulingan -atau dalam istilah kimianya biasa disebut destilasi-, dan pengkristalan. Ia pun berhasil mengeluarkan zat-zat kimia, seperti nitrat perak (silver nitrate) dan asam nitrat (nitrate acid). Ia lah yang pertama kali menemukan teori pelarutan garam nitrat perak dengan pelarutan garam dapur yang kelak menjadi penyebab adanya pengendapan putih dan tembaga yang menghasilkan nyala hijau.

Begitulah sosok Jabir bin Hajjan. Kecemerlangan pikiran dan kesungguhannya belajar membuat orang lain merasa kagum. Ia telah menulis tak kurang dari 80 buah buku dan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dari penemuan-penemuannya inilah yang akhirnya di kemudian hari menjadi referensi penting bagi perkembangan ilmu kimia modern di Eropa.

Jabir adalah salah satu di antara putra-putra Islam pilihan. Ia meninggal dalam usia 90 tahun, setelah mewariskan banyak ilmu kepada kita semua. Berkat jasa-jasanya pula ia selalu dikenang oleh para pengagumnya, dan terukir sempurna di hati para pencintanya sepanjang zaman. Maha Benar Allah yang berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” Wallahuta`ala a`lam bisshowaab.

 

sumber : isykarima.com