Memasuki bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal, dan pusat-pusat hiburan bersibuk-ria dan berlomba-lomba untuk menarik perhatian para remaja. Tepat pada tanggal 14 Februari, tidak sedikit di antara mereka berhura-hura menggelar pesta perayaan hingga larut malam, bahkan ada juga yang di dalamnya berlangsung pesta seks bebas. Na’udzu billahi min dzalik. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day. Biasanya mereka saling mengucapkan, “selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling curhat, saling bertukar pasangan, menyatakan sayang atau cinta karena beranggapan, bahwa saat itu adalah “hari kasih sayang”. Benarkah demikian?

Sejarah Valentine’s Day

The World Book Encyclopedia, vol. 20 (1993) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day.

Adalah perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda dan pemudi saling mencari pasangan dengan undian. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala.

Ketika agama Nashara masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Nashara. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Constantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, vol. 12, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Nashara, pada tahun 496 M, Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang mati pada 14 Februari. (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan telah mati pada masa Romawi. Namun demikian, tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Versi pertama, Kaisar Claudius II menangkap St. Valentine, karena menyatakan tuhannya adalah Isa al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II melarang para pemuda untuk menikah agar lebih tabah dan kuat dalam pertempuran. Tetapi St. Valentine diam-diam menikahkan banyak pemuda, sehingga ia dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, vol 20, 1993).

Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan, “Kata Valentine berasal dari bahasa Latin yang berarti: ‘Yang Maha Perkasa’, ‘Maha Kuat’ dan ‘Maha Kuasa’”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “Be my valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan, karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa” dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Adapun “Cupid” (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan, sehingga diburu wanita, bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu mengapa kita masih juga menyambut hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita -remaja putra-putri Islam- yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Allah berfirman, artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al Isra’: 36).

 

Hukum Merayakan Valentine’s Day

Tidak semua yang dilakukan dan dipandang baik oleh kebanyakan manusia harus kita ikuti, bahkan hal tersebut menjadi tercela dan diharamkan dalam Islam, jika perbuatan atau orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan (Aqidah). Rasulullah telah melarang umatnya mengikuti tata cara peribadatan selain Islam dan segala sesuatu yang menjadi kekhususan mereka dan agama mereka, beliau bersabda, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. at-Tirmidzi).

Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali St.Valentine, maka tidak diragukan lagi bahwa ia telah terjerumus ke dalam kekafiran. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian, maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. seperti memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka dengan mengucapkan, ‘Selamat hari raya!’ dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak, itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.”

Rasulullah saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath. Biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Sebagian sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa; ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. at-Tirmidzi, hasan shahih).

Maka wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ (loyalitas kepada kaum muslimin dan berlepas diri dari orang-orang kafir) yang merupakan dasar aqidah para as-Salaf ash-Shalih. Yaitu dengan mencintai orang-orang mukmin dan membenci serta tidak menyerupai orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku mereka.

Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: Ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka, sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap rakaat shalatnya telah mengucapkan, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka (para nabi, shidiqin, syuhada` dan shalihin); bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani).” (QS. al-Fatihah: 6-7)

Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan orang-orang yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati serta rendah diri kepada mereka. Dan ini semua merupakan salah satu wujud nyata kekalahan iman dalam wala’dan bara’. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine day-menjawab,

“Tidak boleh merayakan Valentine’s Day karena sebab-sebab berikut:
Pertama: Bahwa itu adalah hari raya bid’ah tidak ada dasarnya dalam syari’at.
Kedua: Bahwa itu akan menimbulkan kecengengan dan kecemburuan.
Ketiga: Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf.

Karena itu pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah ataupun yang lainnya.

Hendaknya setiap muslim merasa mulia dengan agamanya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuk-Nya.
Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, tanggal 5/11/1420 H yang beliau tanda tangani. [Lihat: Fatwa-Fatwa Terkini, Jilid 2, hal. 461, Darul Haq, Jakarta]

Allah berfirman, artinya, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (QS. al-Mujadilah: 22)

Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadits qudsi, Allah berfirman, artinya, “Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling berkorban karena Aku dan yang saling mengunjungi karena Aku.” (HR. Ahmad).

 

Sumber : alsofwah.or.id


 Alhamdulilah Allah telah mengaruniakan kepada kita seorang Nabi dan Rasul Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya; 107).

Beliau adalah seorang Nabi yang sangat kasih sayang.
Pembaca yang budiman…
Bila Anda ditanya, “Cintakah Anda kepada beliau?” “Tentu saja,” inilah jawaban yang tentunya akan Anda sampaikan. Namun, sudah benarkah kecintaan Anda kepadanya? Inilah pertanyaan yang mudah-mudahan akan terjawab melalui tulisan ini.

Pembaca yang budiman…
Bukti cinta seseorang kepada Nabi memiliki tanda-tanda. Di antara tanda-tanda tersebut yaitu,

Pertama, mengikuti Sunnah dan berpegang teguh dengan petunjuknya

Allah berfirman, yang artinya,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Al-Hafizh Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, ayat yang mulia ini merupakan pemutus bagi orang yang mengaku cinta kepada Allah sedang ia berada di luar jalan Muhammad, maka sesungguhnya ia seorang pendusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syariat Muhammad dan agamanya baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hal ini telah disebutkan dalam hadits Shahih, bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.” (Muttafaq ‘alaih)

Oleh karena itu, Allah berfirman, yang artinya, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS. Ali Imran: 31) (Tafsir al-Qur’an al ‘Azhim, Ibnu Katsir)

Kedua, Banyak menyebut namanya dan ingin melihatnya

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِه

“Di antara umatku yang paling cinta kepadaku adalah orang-orang yang hidup sesudahku, yang salah seorang di antara mereka ingin melihatku walau harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR. Muslim)

Banyak menyebut manaqib (kisah hidup) dan kepribadian beliau yang mulia, menjalankan sunnah-sunnahnya yang agung, dan banyak bershalawat kepadanya.

Ibnu al-Qayyim di dalam kitabnya, “Jalaul Afham” berkata, “Setiap kali seorang hamba banyak menyebut nama yang dicintainya dan menghadirkan kebaikan-kebaikannya di dalam hati; mengingat sisi-sisi positifnya, niscaya akan bertambahlah kecintaannya kepada yang dicintainya tersebut dan akan menambah pula kerinduannya untuk berjumpa de- ngannya. Ini semua akan menguasai semua relung hatinya.”

Ketiga, Mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an serta adab-adabnya

Imam al-Baihaqi meriwayatkan di dalam kitabnya, “al-Adab”, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,

لاَ يَسأَلُ أَحَدٌ عَن نَفسِهِ إِلاَّ القُرآنُ، فَإِن كَانَ يُحِبُ القُرآنَ فَهُوَ يُحِبُ اللَّهَ وَرَسُولَه

“Hendaknya seseorang tidak bertanya tentang dirinya kecuali (tentang kedudukan) al-Qur’an(di hatinya). Jika ia mencintai al-Qur’an, maka ia akan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Keempat, Cinta kepada orang yang mencintai beliau dan membenci orang yang membencinya

Rasulullah bersabda,

مَنْ أَحَبَّ عَلِيًّا فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَبْغَضَ عَلِيًّا فَقَدْ أَبْغَضَنِي

“Barangsiapa mencintai Ali, sungguh ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci Ali sungguh ia telah membenciku” (HR. al-Hakim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda,

مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي

“Barangsiapa mencintai keduanya(yakni: al Hasan dan al Husain, cucu Nabi-pen), sungguh ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa membenci keduanya, sungguh ia telah membenciku” (HR.Ahmad)

Rasulullah bersabda,

مَنْ أَحَبَّنِى فَلْيُحِبَّ أُسَامَةَ

“Barangsiapa mencintaiku, maka hendaklah ia mencintai Usamah” (HR.Muslim)

Mencintai sahabat, keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan ulama, ahli ibadah, orang-orang yang zuhud, dermawan, maupun orang-orang yang baik, ini semua merupakan suatu bentuk kecintaan terhadap orang yang mencintai beliau.

Demikian pula mencintai amal, adab, muamalah dan semua perbuatan yang dicintai beliau.

Demikian pula, membenci orang-orang yang buruk dan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan. karena hal itu termasuk yang dibenci beliau.

Kelima, Tidak ghuluw(berlebih-lebihan) dalam mencintai dan mengangkat beliau di atas kedudukan yang semestinya yang telah diberikan Allah

Anas (bin Malik-pen) meriwayatkan bahwa sekelompok orang pernah mengatakan, “Wahai Rasulullah, wahai orang terbaik dikalangan kami, anak orang terbaik di kalangan kami, sayyid kami, dan anak sayyid kami.” (mendengar ungkapan ini) maka beliau bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا بِقَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، وَرَسُولُ اللهِ، وَاللهِ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَا رَفَعَنِي اللهُ

“Wahai manusia, hati-hatilah dari ucapan kalian, dan janganlah kalian diperdayakan oleh setan! Saya adalah Muhammad, hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah Allah berikan kepadaku.” (HR. Ahmad)

Keenam, Menghindarkan diri dari bid’ah dan mengikuti hawa nafsu

Abdullah bin Mas’ud berkata,

اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

“Berittiba’lah (ikutilah Rasulullah-red) kalian dan jangan melakukan kebid’ahan, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan” (HR.ad-Darimiy)
Beliau juga berkata,

الإِقْتِصَادُ فِي السُنَّةِ خَيرٌ مِنَ الإِجتِهَادِ فِي البِدعَةِ

“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam melaksanakan bid’ah” (HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang mengikuti beliau, orang-orang yang beriman kepadanya dan orang-orang yang benar kecintaan kepadanya. Semoga pula Allah menghidupkan kita di atas sunnahnya dan mematikan kita di atasnya pula. Semoga pula Allah mengumpulkan kita di bawah benderanya pada hari kiamat nanti. Semoga Allah mengaruniakan syafa’at beliau kepada kita. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita. Sesungguhnya Dia Maha mendengar doa, Dzat yang layak diharapkan. Cukuplah Dia menjadi Penolong kita dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.

[Sumber: Buletin AnNur Edisi Th. XVIII No. 896/ Shafar 1434 H/ 11 Januari 2013 M]


Biomarkers

Biomarkers are a group of compounds, primarily hydrocarbons, found in oils, rock extracts, Recent sediment extracts, and soil extracts. What distinguishes biomarkers from other compounds in oil is that biomarkers can reasonably be called “molecular fossils”. Biomarkers are structurally similar to, and are diagenetic alteration products of, specific natural products (compounds produced by living organisms). Typically, biomarkers retain all or most of the original carbon skeleton of the original natural product, and this structural similarity is what leads to the term “molecular fossils”.

Biomarkers have a variety of applications in petroleum exploration. For example:

  1. When samples of oil and candidate source rocks are available, biomarkers can be used to make oil-source rock correlations, or
  2. When samples of candidate source rocks are NOT available, the biomarker distribution in an oil can be used to infer characteristics of the source rock that generated the oil WITHOUT examining the source rock itself. Specifically, biomarkers in an oil can reveal (1) the relative amount of oil-prone vs. gas-prone organic matter in the source kerogen, (2) the age of the source rock, (3) the environment of deposition as marine, lacustrine, fluvio-deltaic or hypersaline, (4) the lithology of the source rock (carbonate vs. shale), and (5) the thermal maturity of the source rock during generation (e.g., Peters and Moldowan, 1993). Such data may be key inputs to effective basin modeling of a prospect or block.

 

Petroleum Biomarkers Indicative of Source Rock Organic Matter Input and Depositional Conditions (Table 1)

Below are a few examples of oil biomarker parameters that provide information about the depositional environment of the source rock and the origin of the organic matter in the source rock.

Source Information Biomarker Parameter Comments
Marine Source Rock 24-n-propylcholestanes Ubiquitous in oils derived from marine source rocks. (Moldowan et al., 1990)
C4246 Cyclopentylalkanes with odd/even carbon preference (Carlson et al. 1993; Hsieh and Philp, 2001)
Lacustrine Source Rock Botryococcane Presence = lacustrine source. Absence = meaningless. (e.g., Moldowan et al., 1980, Metzger and Laegeau 1999)
b-Carotane Presence = lacustrine source. Absence = meaningless. (Hall and Douglas, 1983; Jiang and Fowler, 1986)
Sterane/Hopanes Low in oils derived from lacustrine source rocks. (Moldowan et al., 1985)
C26/C25 tricyclic terpanes > 1 in many lacustrine-shale-sourced oils. (Zumberge, 1987)
Tetracyclic Polyprenoids High in oils from lacustrine sources. (Holba et al., 2000)
C4246 Cyclopentylalkanes with even/odd carbon preference or with no preference (Carlson et al. 1993; Hsieh and Philp, 2001)
Higher plant input to Source Rock Oleananes, Lupanes, Taraxeranes Biomarkers indicating flowering plant input to source. (e.g., Ekweozor and Udo, 1988)
Bicadinanes Derived from Dipterocarpaceae tree resins. (Cox et al., 1986)
Retene, Cadalene Biomarkers indicating conifer input to source. (Noble et al., 1985)
Tetracyclic diterpanes Biomarkers indicating conifer input to source. (Noble et al., 1985)
C29 steranes High relative to total C27-C29 steranes. (Huang and Meinschein, 1979; Moldowan et al., 1985)
Coal Source Rock Pristane/phytane Very high in coal-sourced oils; e.g., > 3.0 (Hughes et al., 1995)
C31 homohopanes High relative to total C31-C35 in some coal-sourced oils
Hypersaline Depositional Environment Gammacerane High relative to C31 hopanes in oils derived from sources deposited under hypersaline depositional conditions. High values indicate stratified water column during source deposition. (Sinninghe Damste et al., 1995)
Pristane/phytane Very low values (e.g., < 0.5) in oils derived from source rocks deposited under hypersaline conditions (due to contribution of phytane from halophilic bacteria). (ten Haven et al., 1987; 1988)
Anoxic Depositional Environment of Source Rock C35 homohopanes High relative to total hopanes in oils derived from source rocks deposited under anoxic conditions (Peters and Moldowan, 1991). Abundance of C35 homohopanes in oils (Relative to C31-C34 homohopanes) is correlated with source rock Hydrogen Index (Dahl et al., 1994).
Pristane/phytane 1.0 can indicate anoxic conditions, but the ratio is affected by many other factors.
Isorenieratane & related compounds (2,3,6 and 2,3,4 – Trimethylaryl isoprenoids), Chlorobacteria Presence in oil indicates anoxic photic zone during source rock deposition, since these compounds are biomarkers for green sulfur bacteria. (Summons and Powell, 1987; Grice et al., 1998; Koopmans et al., 1996)
V/(V+Ni) Porphyrins High = reducing conditions. (Lewan, 1984)
28,30-bisnorhopane High in certain reducing environments. (Schoell et al., 1992; Moldowan et al., 1984)
Carbonate Source Rock 30-norhopanes High in carbonate-sourced oils; e.g., C29/C30 hopanes ~ 1 (Fan Pu et al., 1987; ten Haven et al., 1988; Subroto et al., 1991)
Diasteranes/steranes Low in carbonate-sourced oils. (Rubinstein et al., 1975; Hughes, 1984)
Dibenzothiophene/phenanthrene > 1.0 in oils derived from high-sulfur carbonates. (Hughes et al., 1995)
2a-methylhopanes High in carbonate derived oils (Summons et al., 1999)
Age of Source Rock Deposition Oleanane Present in oils derived from Late Cretaceous or younger sources (Moldowan et al., 1994)
(24-norcholestanes)/(26-norcholestanes) High in many Tertiary sources. Low values are not age-diagnostic. (Holba et al., 1998A; 1998B)
Dinosteranes, triaromatic dinosteroids Absence always means Pre-Mesozoic, while presence USUALLY means Mesozoic or younger. (Moldowan et al., 1996)
C29 Monoaromatic Steroids High in oils derived from sources older than 350 mybp. (Moldowan et al., 1985)
C11-C19 Paraffins Odd-carbon-number predominance in oil from many Ordovician sources. (Douglas et al., 1991; Fowler, 1992)
(24-isopropylcholestanes)/(24-n-propylcholestanes) High in oils from pre-Ordovician sources. (McCaffrey et al., 1994B)

To characterize charge risk, these biomarker parameters can be used in a variety of innovative ways. For example, specific biomarker parameters can be calibrated against specific kerogen quality parameters in a given basin. Then, the biomarker ratios are measured in an oil sample from the basin, and the values are projected onto calibration curves to quantitatively predict characteristics of the source rock. This approach, pioneered by the founders of OilTracers, allows explorationists to assess whether an oil was generated primarily from an oil-prone or gas-prone organic facies (Dahl et al., 1994; McCaffrey et al., 1994). The information gained from oil biomarkers (source type, age, maturity, kerogen quality) when integrated into a basin model has substantial economic impact because it provides early estimates of oil quantity and GOR for exploration targets in the area of interest.

 

Using Biomarkers in Oil to Assess Source Thermal Maturity

The relative abundances of certain biomarkers in petroleum change as a function of source rock maturity. As a result, a variety of biomarker parameters have been identified that are very useful for characterizing the source rock maturity simply from analysis of the migrated oil (e.g., Peters and Moldowan, 1993).

Biomarker maturity parameters (e.g., parameters such as those in Table 2) make use of several processes that occur during source rock maturation:

  1. Cracking–large molecules break into smaller molecules
  2. Isomerization–changes in the 3-dimentional arrangements of atoms in molecules.
  3. Aromatization–formation of aromatic rings (loss of hydrogen from naphthenes)

Petroleum Biomarkers Indicative of Source Rock Maturity (Table 2)

Petroleum Fraction (Compound Class) Biomarker Parameter Measured in Petroleum Fraction Effect of Increasing Maturity Comments
Saturated Hydrocarbons C29 Steranes [20S/(20S+20R)] Increase Useful in early to mid oil window. Decreases at very high maturity levels.
C29 Steranes [abb/(abb+aaa)] Increase Useful in early to mid oil window.
Moretane/Hopane Decrease Useful in early oil window.
C31 Hopane [22S/(22S+22R)] Increase Useful in immature rocks to onset of early oil window.
Ts/(Ts+Tm) Increase Also influenced by source lithology.
Tricyclic Terpanes/Hopanes Increase Useful in late oil window; also increases at high levels of biodegradation.
Diasteranes/Steranes Increase Useful in late oil window; also affected by source lithology (low in carbonates, high in shales); also increases at high levels of biodegradation.
Aromatic Hydrocarbons Monoaromatic Steroids: (C21+C22)/ [C21+C22+C27+C28+C29] Increase Useful in early to late oil window; resistant to effects of biodegradation.
Triaromatic Steroids: (C20+C21)/ [C20+C21+C26+C27+C28] Increase Useful in early to late oil window; resistant to effects of biodegradation.
Triaromatic /(Monoaromatic + Triaromatic Steroids) Increase Useful in early to late oil window; resistant to effects of biodegradation.

Several considerations must be kept in mind when using petroleum biomarkers to assess source rock thermal maturity. For example:

  1. The exact relationship between a biomarker parameter and the source maturity is a function of heating rate, source lithofacies, and source organic facies (kerogen type). As a result, the exact maturity (i.e., vitrinite reflectance equivalent) associated with a given value for a biomarker parameter can change from basin to basin. Furthermore, the relationship between a biomarker maturity indicator and source rock maturity is generally non-linear.
  2. With increasing maturity, many biomarker maturity indicators reach terminal values; hence, a given biomarker parameter is applicable only over a specific maturity range.
  3. The concentrations of biomarkers in petroleum decrease with thermal maturity.

Despite these limitations, biomarker indicators of source maturity can be extremely useful. For example, biomarker maturity parameters can be used to determine what the API gravity of a biodegraded oil was prior to biodegradation. This is accomplished by collecting a suite of non-degraded oils from the same petroleum system as the degraded oils. Using the non-degraded oils, the geochemist develops a correlation or “transform” between a biomarker maturity parameter and API gravity. The same biomarker parameter is then measured on a degraded oil, and the original gravity is determined using the transform developed from the non-degraded oil suite. Moldowan, et al. (1992) provide an excellent example of this approach in which they determine the original gravity of degraded Adriatic oils. For this application, the most effective biomarker parameters are those based on compounds that are highly resistant to biodegradation, such as [Triaromatic/(Monaromatic +Triaromatic steroids)].

Source Rock descriptions and source rock maturity information derived from oil biomarkers are often key input data for basin modeling of a prospect or block.

Biomarkers in Petroleum are analyzed by gas chromatography mass spectrometry (GC-MS) or gas chromatography – tandem mass spectrometry (GC-MS-MS). Analyses are typically performed on the saturated hydrocarbon fraction or the aromatic hydrocarbon fractions. The oil fractions are prepared by liquid chromatography.

 

source : Weatherford Laboratories Service