Archive for the ‘Bunga Rampai’ Category

kimia_small.jpgSiapa yang tidak mengenal ilmu kimia? Bagi para murid jurusan IPA, kimia adalah salah satu mata pelajaran yang sedikit menguras tenaga dan fikiran. Karena tak jarang di dalamnya membahas sesuatu yang sangat kecil bahkan sampai sesuatu yang tidak tampak di mata kita. Rumus-rumus yang menghiasinya pun menyilaukan mata. Memang banyak para murid yang menyukai pelajaran tersebut dan menjadikannya sebuah tantangan yang harus dikerjakan, tapi tak sedikit pula murid yang tidak menyukainya. Namun sejak dua tahun yang lalu, suka atau tidak suka para murid harus mempelajarinya semaksimal mungkin, karena pemerintah memutuskan untuk memasukkanya ke dalam mata pelajaran yang di Ujian Nasionalkan. Siapakah sebenarnya orang besar di balik ilmu rumit tersebut?

Namanya Jabir bin Hajjan. Nama yang tidak dapat dihapus begitu saja dari sejarah Islam. Karya-karya cemerlangnya pun tak bisa hanya dipandang sebelah mata. Sebab sejarah telah menjadi saksi, bahwa Jabir adalah seorang ahli kimia Islam yang begitu berjasa pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Oleh karena itu tidak berlebihan jika kita menyebutnya “Bapak Kimia Islam”.

Sebagai seorang ilmuwan, Jabir tidak puas begitu saja dengan teori-teori sarjana sebelumnya. Ia terus mengadakan experiment. Ternyata hasilnya mampu menumbangkan dan melebihi teori-teori sebelumnya. Sekalipun dalam mengemukakan hasil akhir experiment nya ia terkenal ekstrim. Namun sikapnya yang demikian selalu diikuti dengan bukti-bukti yang nyata.

Jabir bin Hajjan dilahirkan di Khurasan, tahun 120 H. Ketika itu ayahnya, Hajjan al-Attar, tengah mengadakan perjalanan berkampanye untuk Bani Abbas. Untungnya waktu itu pihak penguasa di Baghdad sangat menaruh perhatian pada para ulama dan sarjana untuk mempergiat usaha penyebaran ilmu pengetahuan melalui tulisan dan mulai menerjemahkan buku-buku penting karya sarjana sebelumnya.

Di Negara Arab, Jabir begitu tekun mempelajari ilmu kimia lewat gurunya, Ja`far as-Sadik. Di samping mempelajari kimia, ia juga mendalami ilmu kedokteran, filsafat, dan ilmu pasti. Tampaknya di bidang ilmu kimia inilah Jabir paling menonjol. Hingga akhirnya mengantarkan nama Jabir disebut-sebut orang sebagai peletak dasar ilmu kimia.

Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Jabir adalah ketelitian dan kejujurannya dalam mengadakan experiment. Dalam penelitiannya, ia tidak mudah untuk tergesa-gesa. Ia senantiasa menyejajarkan antara teori dan praktek. Sebab menurutnya, untuk mencapai suatu pengetahuan haruslah dengan percobaan dan praktek.

Pantaslah jika akhirnya Jabir mampu menciptakan konsep yang jelas mengenai teori-teori yang diketengahkan para sarjana kimia sebelumnya. Berdasarkan penyelidikan para sarjana Yunani, pada waktu itu hanya dikenal teori kimia tentang empat unsur terjadinya wujud, yakni wujud air, tanah, api, dan udara. Selanjutnya dikenal sifat yang empat pula, yaitu sejuk, panas, kering, dan lembab.

Sementara Aristoteles menambahkan, ada unsur pertengahan antara api dan tanah, yakni asap. Sedangkan antara udara dan air, yakni konsistensi air. Kesimpulan Aristoteles menerangkan, bahwa terjadinya mineral disebabkan melarutnya “kedua cara” perantaraan tersebut dalam perut bumi.

Namun teori tersebut dibantah oleh sarjana-sarjana muslim. Sebab menurut penyelidikan, teori tersebut tidak banyak memberi bukti. Menurut Jabir, mineral itu tidak mungkin terdiri dari dua unsur tersebut. Bahkan ia berubah ke dalam dua unsur baru, yaitu air raksa dan belerang. Karena pelarutan keduanya di perut bumi akan menjadi mineral.

Meskipun kesimpulan Jabir terkesan aneh, tapi pada akhirnya diakui oleh para kimiawan. Bahkan menjadi dasar teori “Phlogiston” yang berkembang selanjutnya. Teori ini menyatakan, semua substansi yang bisa terbakar dan mineral-mineral yang dapat membeku karena zat-zat air, raksa, garam dapur, dan belerang.

Banyak hal yang disumbangkan Jabir untuk menambah perbendaharaan ilmu kimia ketika itu. Selain melakukan percobaan-percobaan, ia pun membuat alat-alat yang akan digunakan dengan tangannya sendiri. Melalui beragam percobaannya, Jabir mengungkapkan tentang penguapan, penyulingan -atau dalam istilah kimianya biasa disebut destilasi-, dan pengkristalan. Ia pun berhasil mengeluarkan zat-zat kimia, seperti nitrat perak (silver nitrate) dan asam nitrat (nitrate acid). Ia lah yang pertama kali menemukan teori pelarutan garam nitrat perak dengan pelarutan garam dapur yang kelak menjadi penyebab adanya pengendapan putih dan tembaga yang menghasilkan nyala hijau.

Begitulah sosok Jabir bin Hajjan. Kecemerlangan pikiran dan kesungguhannya belajar membuat orang lain merasa kagum. Ia telah menulis tak kurang dari 80 buah buku dan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dari penemuan-penemuannya inilah yang akhirnya di kemudian hari menjadi referensi penting bagi perkembangan ilmu kimia modern di Eropa.

Jabir adalah salah satu di antara putra-putra Islam pilihan. Ia meninggal dalam usia 90 tahun, setelah mewariskan banyak ilmu kepada kita semua. Berkat jasa-jasanya pula ia selalu dikenang oleh para pengagumnya, dan terukir sempurna di hati para pencintanya sepanjang zaman. Maha Benar Allah yang berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” Wallahuta`ala a`lam bisshowaab.

 

sumber : isykarima.com

Wilayah Bogor

Lokasi 1 : Kampus Diploma IPB Cilibende (Lodaya)
Alamat : Jl. Kumbang 14 Bogor (Belakang hotel Pangrango 3 atau McDonald Pajajaran)
Daftar Peserta
No Ujian Peserta Ruang
BOGR 0 0001 – 0040 CA B01
BOGR 0 0041 – 0060 CA K01
BOGR 0 0061 – 0080 CA K02
BOGR 0 0081 – 0100 CA K03
BOGR 0 0101 – 0120 CA K04
BOGR 0 0121 – 0140 CA K05
BOGR 0 0141 – 0160 CA K06
BOGR 0 0161 – 0200 CA B02
BOGR 0 0201 – 0240 CA B03
BOGR 0 0241 – 0280 CA B04
BOGR 0 0281 – 0300 CA K07
BOGR 0 0300 – 0320 CA K08
BOGR 0 0321 – 0360 CA B05
BOGR 0 0361 – 0400 CA B06
BOGR 0 0401 – 0440 CB B01
BOGR 0 0441 – 0480 CB B02
BOGR 0 0481 – 0500 CB K01
BOGR 0 0501 – 0520 CB K02
BOGR 0 0521 – 0560 CB B03
BOGR 0 0561 – 0600 CB B04
BOGR 0 0601 – 0620 CB K03
BOGR 0 0621 – 0640 CB K04
BOGR 0 0641 – 0660 CB K05
BOGR 0 0661 – 0680 CB K06
BOGR 0 0681 – 0700 CB K07
BOGR 0 0701 – 0720 CB K08
BOGR 0 0721 – 0760 CB B05
BOGR 0 0761 – 0800 CB B06
Lokasi 2 : Kampus Diploma IPB Gunung Gede
Alamat : Jl. Raya Pajajaran Bogor (depan Telkom Bogor)
Daftar Peserta :
No Ujian Peserta Ruang
BOGR 0 0801 – 0840 GG B01
BOGR 0 0841 – 0880 GG B02
BOGR 0 0881 – 0920 GG B03
BOGR 0 0921 – 0960 GG B04
BOGR 0 0961 – 1000 GG B05
BOGR 0 1001 – 1040 GG B06
BOGR 0 1041 – 1060 GG K01
BOGR 0 1061 – 1080 GG K02
BOGR 0 1081 – 1100 GG K03
BOGR 0 1101 – 1120 GG K04
BOGR 0 1121 – 1140 GG K05
BOGR 0 1141 – 1160 GG K06
BOGR 0 1161 – 1200 GG B08
BOGR 0 1201 – 1220 GG K07
BOGR 0 1221 – 1240 GG K08
BOGR 0 1241 – 1260 GG K09
BOGR 0 1261 – 1280 GG K10
BOGR 0 1281 – 1300 GG K11
BOGR 0 1301 – 1340 GG B09
BOGR 0 1341 – 1380 GG B10
Lokasi 3 : Kampus IPB Baranangsiang
Alamat : Jl. Raya Pajajaran Bogor (dekat Botani Square / Tugu Kujang)
Daftar Peserta :
No Ujian Peserta Ruang
BOGR 0 1381 – 1420 BS B01
BOGR 0 1421 – 1460 BS B02
BOGR 0 1461 – 1500 BS B03
BOGR 0 1501 – 1540 BS B04
BOGR 0 1541 – 1580 BS B05
BOGR 0 1581 – 1620 BS B06
BOGR 0 1621 – 1660 BS P01
BOGR 0 1661 – 1700 BS P02

Wilayah Luar Bogor

No Lokasi/kota Alamat No. Telp  Petugas Diploma
1 SMAN 2 Cirebon Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 1 Cirebon 0231-203301/239814 Undang (085885443144)
Sainan R (085711550451)
2 SMAN 1 Tasikmalaya Jl. Rumah Sakit Umum No. 28 Tasikmalaya 0265-331690/314861 Heryudianto (081380873496)
Lulus W (085776013031)
3 SMAN 5 Pekanbaru Jl. Bawal No. 5 Pekanbaru 0761-32075 Daden S (08129875108)
Edi Pramono (081510798056)
4 SMAN 6 Padang Jl. Sutan Sjahrir 0751-62551 Budi S.Kom (08567275942)
Teguh Pamungkas (085220852320)
5 SMAN 1 Madiun Jl. Mastrip No. 19 Madiun 0351-454393 Aldi Kamal (085711727562)
Afrizal (085710207095)
6 SMAN 1 Magelang Jl. Cempaka No. 1 Magelang 0293-362531 Hudi (081387188437)
M.Abd. Goni (085691918746)
7 SMAN 1 Purwakarta Jl. Kaka Singawanita No. 113 Purwakarta 0264-200025 Aidil (085277909303)
Suhendra (085715742244)
8 MAN 1 Medan Jl. Willem Iskandar No. 7B Medan 061-4159623 Yuliatiningsih (081804927625)
Tiza novia(085716939486)
9 Denpasar Kontak b. Dewi Sarastani (0812 1302 106) / b. Nindya (0812 9032 671)
10 Bojonegoro Kontak b. Luki (0815 1341 4553)
11 Pasuruan Kontak Bpk. Purana Indrawan (0813 8088 8528)

Ahad, 6 Agustus 2009 diadakan kajian ilmiah dengan tema “Sudahkah Kita Sholat Subuh Tepat pada Waktunya?”. Acara menghadirkan pembicara Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi dari Mekkah Saudi Arabia. Beberapa bulan terakhir memang issu atau wacana soal waktu sholat shubuh, mulai mengemuka, baik dalam diskusi nyata maupun via dunia maya, di web resmi maupun blog dan juga FB serta lainnya.

Dalam kaidah Ushul Fiqh, disebutkan bahwa semua urusan agama pada awalnya Haram, kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

Sebaliknya dalam urusan dunia, semuanya Halal, kecuali ada dalil yang melarangnya.

Kaitannya dengan waktu shubuh, maka semua hal harus ada dalil yang memerintahkannya. Perintah sholat shubuh adalah bila saatnya sudah masuk, yakni saat kita melihat fajar shodiq. Fajar yang menandai telah berlalunya waktu malam dan akan masuknya waktu siang.

1. DUA FAJAR BERBEDA:

Kata kunci untuk waktu sholat shubuh adalah Fajar. Rasululloh SAW –yang hidup di zaman yang belum secanggih kini pengetahuan astronomi ummat manusia– sudah menjelaskan tentang adanya dua jenis fajar.

  1. Fajar Kadzib atau Fajar yang membohongi, alias fajar itu munculnya akan hilang lagi. Bahasa Astronominya Cahaya Zodiak / Zodiacal Light
  2. Fajar Shodiq atau Fajar yang benar, karena fajar ini akan berlanjut kepada muncul atau terbitnya matahari. Bahasa Astronominya Astronomical Twilight.

Berikut gambaran kedua fajar tersebut:

Fajar Kadzib/Zodiacal Light:

Fajar Kadzib atau Zodiacal Light

 

Fajar Shadiq/Astronomical Twilight:

Fajar Shadiq yg saya ambil di depan rumah

ICOP beberapa bulan terkahir juga sudah mulai merintis kampanye untuk ‘koreksi’ waktu sholat Shubuh ini melalui IFOC. Bahkan di ICOP, kampanye tidak sebatas waktu sholat Shubuh, namun juga waktu sholat Isya’. Waktu Isya’ dan Shubuh memang identik. Isya’ ditandai dengan posisi matahari sekitar -18°  setelah sunset, sementara Shubuh ditandai dengan posisi matahari sekitar -18° sebelum sunrise.

Kriteria ketinggian Matahari saat Isya’ dan Shubuh yang selama ini beredar di dunia, bermacam-macam:

  1. Kriteria Standar (ilmu astronomi) mengambil sudut Isya’ = -18, dan Shubuh = -18°.
  2. Mesir mengambil sudut Isya’ = -17.5°, dan Shubuh = -19.5°.
  3. Masyarakat Islam Amerika Utara, sudut Isya’ = -15°, dan Shubuh = -15°.
  4. Liga Muslim Dunia, Isya’ = – 17°, dan Shubuh = -18°.
  5. Depag RI, Isya’ = -18°, dan Shubuh = -20°.

 

2. AWAL-AKHIR WAKTU SHOLAT:

Waktu Sholat ditentukan posisi Matahari

Dari sudut pandang Fiqih waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih adalah sebagi berikut :

Waktu Subuh Waktunya diawali saat Fajar Shadiq sampai matahari terbit (syuruk). Fajar Shadiq ialah terlihatnya cahaya putih yang melintang  mengikut garis lintang ufuk di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut Fajar Kadzib atau Fajar Semu yang terjadi akibat pantulan cahaya matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Mars . Beberapa menit kemudian cahaya ini seolah menyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shadiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari  ( s° ) sebesar 18° di bawah horizon Timur sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk Mar’i / visible horizon). Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut  s=20°.

Waktu Zuhur Disebut juga waktu Istiwa (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa juga dikenal dengan sebutan Tengah Hari (midday/noon). Pada saat Istiwa, mengerjakan ibadah shalat (baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah Istiwa, yakni ketika matahari telah condong ke arah Barat. Waktu tengah hari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi piringan matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (Istiwa). Secara teoritis, antara Istiwa dengan masuknya Zuhur ( z° ) membutuhkan waktu 2 menit, dan untuk faktor keamanan biasanya pada jadwal shalat waktu Zuhur adalah 4 menit setelah Istiwa terjadi atau z=1°.

Waktu Ashar Menurut Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara Madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri.

Waktu Maghrib Diawali saat matahari terbenam di ufuk sampai hilangnya cahaya merah di langit Barat. Secara astronomis waktu maghrib dimulai saat seluruh piringan  matahari masuk ke horizon  yang terlihat (ufuk Mar’i / visible horizon) sampai waktu Isya yaitu saat kedudukan matahari  sebesar i° di bawah horizon Barat.  Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria waktu isya’ pada sudut i=18° di bawah horison Barat.

Waktu ‘Isya Diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit Barat, hingga terbitnya Fajar Shiddiq di Langit Timur. Secara astronomis, waktu Isya  merupakan kebalikan dari waktu Subuh yaitu dimulai saat kedudukan matahari  sebesar i° (Indonesia : 18°) di bawah horizon Barat sampai pertengahan malam.

 

3. SOLUSI WAKTU SHUBUH KINI..?

Pertama, Dari FB Pak Thomas Djamaluddin:

Penentuan waktu shubuh diperlukan untuk penentuan awal shaum (puasa) dan shalat. Tentang waktu awal shaum disebutkan dalam Al-Quran, “… makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS 2:187). Sedangkan tentang awal waktu shubuh disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Umar, “… dan waktu shalat shubuh sejak terbit fajar sampai sebelum terbit matahari” (HR Muslim).
Fajar yang bagaimana yang dimaksudkan tersebut? Hadits dari Jabir merincinya, “Fajar ada dua macam, pertama yang melarang makan, tetapi membolehkan shalat, yaitu yang terbit melintang di ufuk. Lainnya, fajar yang melarang shalat (shubuh), tetapi membolehkan makan, yaitu fajar seperti ekor srigala” (HR Hakim). Dalam fikih kita mengenalnya sebagai fajar shadiq (benar) dan fajar kidzib (palsu).

Para ulama ahli hisab dahulu sudah merumuskan definisi fajar shadiq dengan kriteria beragam, berdasarkan pengamatan dahulu, berkisar sekitar 17 – 20 derajat. Karena penentuan kriteria fajar tersebut merupakan produk ijtihadiyah, perbedaan seperti itu dianggap wajar saja. Di Indonesia, ijtihad yang digunakan adalah posisi matahari 20 derajat di bawah ufuk, dengan landasan dalil syar’i dan astronomis yang dianggap kuat. Kriteria tersebut yang kini digunakan Departemen Agama RI untuk jadwal shalat yang beredar di masyarakat.

Lalu fajar shadiq seperti apakah yang dimaksud Rasulullah SAW? Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari disebutkan, “Rasulullah SAW shalat shubuh saat kelam pada akhir malam, kemudian pada kesempatan lain ketika hari mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukan pada waktu gelap sampai beliau wafat, tidak pernah lagi pada waktu mulai terang.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad yang shahih). Lebih lanjut hadits dari Aisyah, “Perempuan-perempuan mukmin ikut melakukan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi SAW dengan menyelubungi badan mereka dengan kain. Setelah shalat mereka kembali ke rumah tanpa dikenal siapapun karena masih gelap.” (HR Jamaah).

Karena saat ini waktu-waktu shalat lebih banyak ditentukan berdasarkan jam, perlu diketahui kriteria astronomisnya yang menjelaskan fenomena fajar dalam dalil syar’i tersebut. Perlu penjelasan fenomena sesungguhnya fajar kidzib dan fajar shadiq. Kemudian perlu batasan kuantitatif yang dapat digunakan dalam formulasi perhitungan untuk diterjemahkan dalam rumus atau algoritma program komputer.

Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat.

Fajar apakah sebagai pembatas awal shaum dan shalat shubuh? Dari hadits Aisyah disebutkan bahwa saat para perempuan mukmin pulang dari shalat shubuh berjamaah bersama Nabi SAW, mereka tidak dikenali karena masih gelap. Jadi, fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam.

Apakah posisi matahari 18 derajat mutlak untuk fajar astronomi? Definisi posisi matahari ditentukan berdasarkan kurva cahaya langit yang tentunya berdasarkan kondisi rata-rata atmosfer. Dalam kondisi tertentu sangat mungkin fajar sudah muncul sebelum posisi matahari 18 di bawah ufuk, misalnya saat tebal atmosfer bertambah ketika aktivitas matahari meningkat atau saat kondisi komposisi udara tertentu – antara lain kandungan debu yang tinggi – sehingga cahaya matahari mampu dihamburkan oleh lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Akibatnya, walau posisi matahari masih kurang dari 18 derajat di bawah ufuk, cahaya fajar sudah tampak.

Kalau saat ini ada yang berpendapat bahwa waktu shubuh yang tercantum di dalam jadwal shalat dianggap terlalu cepat, hal itu disebabkan oleh dua hal: Pertama, ada yang berpendapat fajar shadiq ditentukan dengan kriteria fajar astronomis pada posisi matahari 18 derajat di bawah ufuk, karena beberapa program jadwal shalat di internet menggunakan kriteria tersebut, dengan perbedaan sekitar 8 menit. Kedua, ada yang berpendapat fajar shadiq bukanlah fajar astronomis, karena seharusnya fajarnya lebih terang, dengan perbedaan sekitar 24 menit. Pendapat seperti itu wajar saja dalam interpretasi ijtihadiyah.


Kedua, Observasi Pak AR Sugeng Riyadi (RHI Surakarta):

Selama ini kita menggunakan jadwal waktu shubuh dengan sudut matahari sebesar -20°. Sudut ini adalah posisi atau letak Matahari di bawah ufuk timur. Sudut sebesar 20° ini adalah ijtihadnya seorang ahli falak dari Sumatera yakni Sa’adoeddin Djambek, sebagai bentuk kehati-hatian supaya di bulan puasa kaum muslimin tidak kebablasan waktunya dalam makan sahur. Jadi selama ini sudut 20° belum pernah dibuktikan melalui observasi di lapangan.

Dengan kata lain  sudut ini baru kesepakatan dan hasil kerja keras pak Saadoe’ddin Djambek dalam memperkenalkan hisab awal waktu shalat. Angka-angka dari pak Djambek kalau mau ditelusuri lebih lanjut, berasal dari sudut-sudut Matahari yang diperkenalkan Ibn Yunus di Mesir, pada 10 abad silam.

Ibn Yunus memang sudah memasukkan parameter meteorologis untuk awal waktu Shubuh-nya, namun kita harus melihat bahwa beliau melakukan studinya di Mesir, yang terletak di garis balik utara (GBU) 23,5° LU dan relatif kering (karena punya gurun pasir, meskipun di utara ada Laut Tengah).

Baru belakangan ini, di Indonesia, mulai ramai keinginan orang untuk melakukan Rukyah Fajar Shadiq. Maka mari kita kampanyekan sholat shubuh tepat waktu, bukan sebelum waktunya.

Namun sebelumnya harus disepakati terlebih dahulu tentang metode dan definisi awal waktu Shubuh. Ada 3 usulan sejauh ini :

1. Awal Shubuh adalah saat bintang-bintang redup (segitiga bintang tertentu, konstelasi bintang tertentu) mulai menghilang –> seperti definisi dari ICOP

2. Awal Shubuh adalah saat terjadinya overlapping antara cahaya zodiak (fajar kadzib) dan cahaya fajar (fajar shadiq) –> usulan dari Pak Ma’rufin (RHI dan BHRD Kebumen)

3.Awal Shubuh adalah saat birunya langit mulai kelihatan, meskipun sedikit, demikian juga dengan bagian terkecil dari horizon timur. (Pak AR  mengusulkan yang ini….)

Dari usulan pada kriteria no 3 ini, maka Pak AR mendapatkan hasil berikut:

Koleksi Fajar dari 5 file terakhir di bawah ini,  hasil rukyah di depan rumah Pak AR, desa yang minimal dari polusi cahaya. (Silahkan klik pada foto untuk melihat lebih jelas)

fajar_18_pakarfisikafajar_17_pakarfisikafajar_16_pakarfisika
fajar_15_pakarfisikafajar_14_pakarfisika

Dari hasil rukyah fajar di atas, terlihat bahwa:

Fajar Shadiq baru mulai terlihat setelah sudut di atas -17°. Sebab kalau masih di sekitar 18°, warna langit masih terlalu gelap.

Jadi, kita sholat shubuh setelah posisi Matahari sekitar 17° di bawah ufuk, atau sekitar 12 menit lebih mundur dari jadwal kini yang memakai -20°.

|(-20°) – (-17°)| = 3° x 4 menit = 12 menit

Hasil riset di Timur Tengah, baik Mesir, Saudi, dan juga Tim Majalah Qiblati maupun lainnya menyebutkan angka rata-rata fajar shadiq baru terlihat pada saat matahari di posisi 14,6° (atau dibulatkan 15) di bawah ufuk timur.

Dari hasil riset ini, maka bila kita selama ini menggunakan jadwal waktu sholat berdasar kriteria posisi matahari di bawah ufuk 20° akan ada selisih :

20° – 15° = 5° x 4 menit = 20 menit.

Kalau masih ragu dengan hasil observasi Pak AR yang 17°  maka silahkan ambil sudut 15° sebagaimana hasil observasi yang telah disampaikan oleh Tim Majalah Qiblati, mengingat hal ini terkait dengan sah-tidaknya shalat. InsyaAllah ini yang lebih selamat.

Wallahu a’lam

dikutip dari Tulisan Pak AR Sugeng Riyadi dengan beberapa perubahan

 

Baca juga : Shubuh di Indonesia Terlalu Pagi

Baca Makalah : Koreksi Awal Waktu Shubuh

Download : Jadwal Shalat 5 Waktu (isi sudut shubuh dengan 15)