Archive for the ‘Nuansa Islam’ Category

Segala pujian dan sanjungan hanya bagi Allah Rabb para pendahulu dan seluruh penghuni bumi hingga akhir zaman. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan dan teladan kita Nabi Agung Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam seorang hamba yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta, demikian pula semoga tercurah kepada seluruh keluarga dan para shahabatnya.

Dengan risalah singkat ini penulis mengharapkan agar dapat memberi manfaat, secara khusus bagi pribadi penulis dan umumnya kepada kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh amalan kita pemberat timbangan kebajikan kelak nanti di akherat, Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Makna i’tikaf

Menurut bahasa i’tikaf punya arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: Al A’raf ayat 138:
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab: “Sesung-guhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. (QS.7:138)

Sedangkan menurut syara’ i’tikaf berarti menetapnya seorang muslim didalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Hukum i’tikaf

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya tiap tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pahalaNya. Terutama pada hari-hari di bulan Ramadhan dan lebih khusus ketika memasuki sepuluh akhir dari bulan suci itu. Demikian tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Yang wajib beri’tikaf

Sebagaimana dimaklumi bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk menunaikan nadzar tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Umar bin Khaththab Radhiallaahu ‘anhu yang diriwayatkan imam Al Bukhari dan Muslim.

Di sebutkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan i’tikaf semenjak beliau sampai di Madinah hingga akhir hayat.

Tempat i’tikaf

I’tikaf tempatnya di setiap masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama’ah kaum laki-laki, firman Allah Ta’ala:
“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangang Allah, maka janganlah kamu mendekatinya” (Al-Baqarah: 187)

Orang yang beri’tikaf pada hari Jum’at disunnahkan untuk beri’tikaf di masjid yang di gunakan untuk shalat Jum’at. Tetapi jika ia beritikaf di masjid yang hanya untuk shalat jama’ah lima waktu saja maka hendaknya ia keluar hanya sekedar untuk shalat jum’at (jika telah tiba waktunya), kemudian kembali lagi ke tempat i’tikafnya semula.

Waktu i’tikaf

I’tikaf di sunnahkan kapan saja di sembarang waktu, maka diperbolehkan bagi setiap muslim untuk memilih waktu kapan ia memulai i’tikaf dan kapan mengakhirinya. Namun yang paling utama adalah i’tikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Inilah waktu i’tikaf yang terbaik sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu ‘anhua)

Sunnah-sunnah bagi orang yang sedang i’tikaf

Di sunnahkan bagi para mu’takif supaya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir, membaca Al Qur’an, mengerjakan shalat sunnah (terkecuali pada waktu-waktu terlarang), serta memperbanyak tafakur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan masa mendatang. Juga banyak-banyak merenungkan tentang hakekat hidup di dunia ini dan kehidupan akhirat kelak.

Hal-hal yang harus dihindari mu’takif

Orang yang sedang i’tikaf dianjurkan untuk menghindari perkara-perkara yang tidak bermanfaat seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna sehingga mengganggu konsentrasi i’tikafnya. Karena i’tikaf bertujuan mendapatkan keutamaan bukan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak di sunnahkan.

Ada sebagian orang yang beri’tikaf namun dengan meninggalkan tugas dan kewajibannya. Hal ini tidak dapat di benarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah. Oleh karena itu orang yang i’tikaf hendaknya ia menghentikan i’tikafnya jika memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dikerjakan.

Hal-hal yang mebolehkan mu’takif keluar dari masjid

Seorang mu’takif diperbolehkan meninggalkan tempat i’tikafnya jika memang ada hal-hal yang sangat mendesak. Diantaranya; buang hajat yaitu keluar ke WC untuk buang air, atau untuk mandi, keluar untuk makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya, dan pergi untuk berobat jika sakit. Demikian pula untuk keperluan syar’i seperti; shalat Jum’at jika tempat ia beri’tikaf tidak digunakan untuk shalat Jum’at, menjadi saksi atas suatu perkara dan juga boleh membantu keluarganya yang sakit jika memang mengharuskan untuk dibantu. Juga keperluan-keperluan semisalnya yang memang termasuk kategori dharuri (harus).

Larangan-larangan dalam i’tikaf

Orang yang sedang bei’tikaf tidak diperbolehkan keluar dari masjid hanya untuk keperluan sepele dan tidak penting, artinya tidak bisa dikategorikan sebagai keperluan syar’i. Jika ia memaksa keluar untuk hal-hal yang tidak perlu tersebut maka i’tikafnya batal. Selain itu ia juga dilarang melakukan segala perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), tajassus (mencari-cari kesalahan orang), membaca dan memandang hal-hal yang haram. Pendeknya semua perkara haram diluar i’tikaf maka pada saat i’tikaf lebih ditekankan lagi keharamannya. Mu’takif juga di larang untuk menggauli istrinya, karena hal itu membatalkan i’tikafnya.

Menentukan syarat dalam i’tikaf

Seorang mu’takif diperbolehkan menentukan syarat sebelum melakukan i’tikaf untuk melakukan sesuatu yang mubah. Misalnya saja ia menetapkan syarat agar makan minum harus dirumahnya, hal ini tidak apa-apa. Lain halnya jika ia pulang dengan tujuan menggauli istrinya, keluar masjid agar bisa santai atau mengurusi dagangannya maka i’tikafnya menjadi batal. Karena semua itu bertentangan dengan makna dan pengertian i’tikaf itu sendiri.

Hikmah dan Manfaat i’tikaf

I’tikaf memiliki hikmah yang sangat besar yakni menghidupkan sunnah Rasul n dan menghidupkan hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manfaat i’tikaf diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.

  • Mendatangkan ketenangan, keten-traman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.

  • Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala . Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayangNya

  • Orang yang beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan inayahNya kepada kita agar dapat menjalankan i’tikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam , terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Sumber : alsofwa.com

Berpuasa pada bulan Ramadhan bagi kaum Muslimin, secara hakikat, bukan hanya menahan dahaga dan lapar mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi lebih dari itu adalah suatu latihan psikis, mental dan tentu saja fisik biologi. Secara psikis orang yang menjalankan puasa akan semakin memiliki juwa dan perilaku sehat dan tentunya menjauhkan pikiran dan perbuatan dari hal-hal yang bisa mencederai hakikat berpuasa, sehingga ke depan bisa menjadi yang berakhlak mulia.

Secara biologi,selama melaksanakan puasa tubuh mengalami proses metabolisme atau makanan diduar ulang dalam sistem pencernaan sekitar delapan jam, dengan perincian empat jam, makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dengan bantaun asam lambung, untuk selanjutnya dikirim  ke usus, empat jam kemudian makanan diubah wujudnya menjadi makanan sari-sari makanan di usus kecil kemudian diabsorsi oleh pembuluh darah yang dikirim keseluruh tubuh. Waktu sisa 6 jam merupakan waktu yang ideal bagi sistem percernaan untuk istirahat.
Puasa Ramadhan menjadi hal yang penting dipahami manfaatnya. Apalagi jika dilakukan secara ikhlas dan disertai kepercayaan dan pengetahuan yang memadai tentang manfaat pelaksanaan puasa bagi kesehatan tubuh, khususnya dalam metabolisme dan sistem endokrim

Manfaat fisik

Dengan menjalankan puasa, berarti suatu akativitas fisik dan biologis, usaha untuk mengatur dan memperbaiki metabolisme tubuh. Hal ini dapat dimengerti, karena pelaksaan puasa mengajarkan dan melatih tubuh secara disiplin untuk makan dan minum secara tidak berlebihaan dan mengatur kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Dengan demikian maka puasa akan memberi manfaat kesehatan bagi orang yang menjalankannya.

Bepuasa akan melatih seseorang untuk hidup teratur dan disiplin serta mencegah kelebihan makan. Menurut penelitian. Puasa akan menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa, karena ada fase istirahat setelah fase pencernaan normal, yang diperkirakan 6 sampai 8 jam,maka pada fase tersebut terjadi degradasi dari lemak dan glukosa darah.

Demikian pula secara peningkatan High Density Lipoprotein (HDL) and apoprotein alfa1,dan penurunan low Density Lipoprotein (LDL),hal ini sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, karena HDL berefek baik bagi kardiovaskuler sedangkan LDL berefek negative bagu kesehatan pembuluh darah.

Kondisi tersebut akan menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah. Bagi penyakit kardiovaskuler, tidak ada penanggulangan yang lebih baik selaim ,mencegahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki hidup sehat, melakasanakan pula makanan yang sehat, serta dilanjutkan dengan olahraga atau akativitas yang teratur.

Demikia pula secara psikologis yang tenang, teduh, dan tidsak di penuhi dengan rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Sebab, saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat . Adrenalin akan memeperkecil kontaksi potot empedu, menyampitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial, dan menambah volume darah kejantung dan jumlah detak jantung, Adrenalin juga menambah pembentukan kolestrol dari lemak protein berkepadatan rendah.

Penelitian endokrinologi menujukan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat roratif menjadi beban dalam akumulasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan,seperti amylase, pangkrease, dan insulin dalam jumlah besar,sehingga akan meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan tubuh. Dengan demikian, puasa bermanfaat menurunkan kadar gula darah,kolesterol,dan mengendalikkan tekanan darah. Itulah sebabnya, pauasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita  penyakit diabetes,kolesterol tinggi, kegemukaan, dan hipertensi.

Sedangkan yang terakhir, manfaat puasa dijelaskan; baik secara lansung maupun tidak langsung Kn memberikan dampak positif. Berdasarkan penelitian plastisitas dan neurogenesis, Yaitu tentang kelenturan dan perkembangan otak, dijelaskan bahwa pada dasarnya synapsis (jaringan/keneksi otak) dapat berkembang berdasarkan faktor lingkungan, kejiwaan, dan makanan yang dikosumsi oleh seseorang. Bahkan, Dr Johanes-Berg, et al (Neuron Journal 2012) menjelaskan bahwa synapsis di otak dapat mengalami perubahahn selama 24 jam terekspose oleh pembelajaran dan latihan

Sehingga, saat seseorang melakasanakan Puasa Ramadhan, selama sebulan penuh, dengan berupa secara maksimal mengatur cara makan serta senantiasa berfikir positif, berfikir optimistis, serta tawadhu, dan berbuat secara ikhlas, maka berdasarkan plastisitas, neurogensi, dan fungsional kompensasi jaringan otak akan diperbarui.Struktur otak makan terbentuk networking atau rute jaringan baru dalam otak, Yng tentunya akan membentuk pribadi dan manusia yang berfikir sempurna sesuai anjuran dan latihan Ramadhan.

Sehingga, setelah bulan Ramadhan, Muslim yang berpuasa akan menjadi orang-orang yang secara biologis , psikologis, fungsional menjadi orang yang baru. Yaitu, manusia yang senantiasa berpikiran lebih baik, yang digambarkan oleh perubahan struktur atau networking ( synapses) otak yang baru: yang senantiasa berpikiran positif, optimistis, tawadhu’ serta berserah diri kepada Tuhannya.

Demikian pula akan bermanfaat meningkatkan daya ingat, mengurangi kematian sel-sel syaraf, bahkan dalam tingkatan tertentu yang mempermudah regenerasi sel-sel syaraf yang baru. Demikian pula karena terjadi penurunan zat-zat lemak seperti kolesterol, trigleserida, LDL, dan terjadi peningkat HDL menyebabkan suasana kesehatan otak akan terhindar dari berbagai penyakit degeneratif, seperti stroke dan hipertention brain.

(Sumber: Puasa Dan Kesehatan Otak, Republika 27 Juli 2012.)

Pak AR Sugeng Riyadi (koordinator RHI Surakarta) kembali menerbitkan Jadwal Imsakiyah versi MS Excel. Untuk 1433 H ini beliau memasukkan pilihan Tahun, Kota, Sudut Shubuh dan Tinggi Hilal. Harapannya, dengan model masukan ini bisa memenuhi keperluan setiap Muslim yang sangat beragam kriterianya di Indonesia ini. Ada yangg mengacu pada hisab, ada yang rukyah. Ada yang Shubuh versi Pemerintah, ada juga versi Majalah Qiblati (-15 derajat), dll.

Berikut sampel tampilan Jadwal dengan kriteria Imkan Rukyah, dan sudut Shubuh -18 dengan kriteria tinggi Hilal awal bulan versi Imkan Rukyah (Pemerintah RI) yaitu 2 derajat, maka akan tampil sampai tanggal 29 Ramadhan saja dan diawali tgl 21 Juli 2012:

Imsakiyah dgn Hilal Imkan, Shubuh -18 

Berikut sampel tampilan Jadwal dengan kriteria Hisab, dan sudut Shubuh -18,  dengan kriteria tinggi Hilal awal bulan versi Hisab (misalnya 1 derajat), maka akan tampil sampai tanggal 30 Ramadhan saja dan diawali tgl 20 Juli 2012:

Imsakiyah dgn Hilal versi Hisab, Shubuh -18. 

Selengkapnya, silakan unduh file Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1433 H di sini.

Untuk Sudut Shubuh disarankan menggunakan sudut 15 (-15 derajat) karena berdasarkan hasil observasi, fajar shadiq baru tampak pada sudut tersebut, atau selisih 20 menit dengan jadwal Kementerian Agama.

 

Baca juga : Shubuh di Indonesia Terlalu Pagi