Archive for August, 2012

kimia_small.jpgSiapa yang tidak mengenal ilmu kimia? Bagi para murid jurusan IPA, kimia adalah salah satu mata pelajaran yang sedikit menguras tenaga dan fikiran. Karena tak jarang di dalamnya membahas sesuatu yang sangat kecil bahkan sampai sesuatu yang tidak tampak di mata kita. Rumus-rumus yang menghiasinya pun menyilaukan mata. Memang banyak para murid yang menyukai pelajaran tersebut dan menjadikannya sebuah tantangan yang harus dikerjakan, tapi tak sedikit pula murid yang tidak menyukainya. Namun sejak dua tahun yang lalu, suka atau tidak suka para murid harus mempelajarinya semaksimal mungkin, karena pemerintah memutuskan untuk memasukkanya ke dalam mata pelajaran yang di Ujian Nasionalkan. Siapakah sebenarnya orang besar di balik ilmu rumit tersebut?

Namanya Jabir bin Hajjan. Nama yang tidak dapat dihapus begitu saja dari sejarah Islam. Karya-karya cemerlangnya pun tak bisa hanya dipandang sebelah mata. Sebab sejarah telah menjadi saksi, bahwa Jabir adalah seorang ahli kimia Islam yang begitu berjasa pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Oleh karena itu tidak berlebihan jika kita menyebutnya “Bapak Kimia Islam”.

Sebagai seorang ilmuwan, Jabir tidak puas begitu saja dengan teori-teori sarjana sebelumnya. Ia terus mengadakan experiment. Ternyata hasilnya mampu menumbangkan dan melebihi teori-teori sebelumnya. Sekalipun dalam mengemukakan hasil akhir experiment nya ia terkenal ekstrim. Namun sikapnya yang demikian selalu diikuti dengan bukti-bukti yang nyata.

Jabir bin Hajjan dilahirkan di Khurasan, tahun 120 H. Ketika itu ayahnya, Hajjan al-Attar, tengah mengadakan perjalanan berkampanye untuk Bani Abbas. Untungnya waktu itu pihak penguasa di Baghdad sangat menaruh perhatian pada para ulama dan sarjana untuk mempergiat usaha penyebaran ilmu pengetahuan melalui tulisan dan mulai menerjemahkan buku-buku penting karya sarjana sebelumnya.

Di Negara Arab, Jabir begitu tekun mempelajari ilmu kimia lewat gurunya, Ja`far as-Sadik. Di samping mempelajari kimia, ia juga mendalami ilmu kedokteran, filsafat, dan ilmu pasti. Tampaknya di bidang ilmu kimia inilah Jabir paling menonjol. Hingga akhirnya mengantarkan nama Jabir disebut-sebut orang sebagai peletak dasar ilmu kimia.

Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Jabir adalah ketelitian dan kejujurannya dalam mengadakan experiment. Dalam penelitiannya, ia tidak mudah untuk tergesa-gesa. Ia senantiasa menyejajarkan antara teori dan praktek. Sebab menurutnya, untuk mencapai suatu pengetahuan haruslah dengan percobaan dan praktek.

Pantaslah jika akhirnya Jabir mampu menciptakan konsep yang jelas mengenai teori-teori yang diketengahkan para sarjana kimia sebelumnya. Berdasarkan penyelidikan para sarjana Yunani, pada waktu itu hanya dikenal teori kimia tentang empat unsur terjadinya wujud, yakni wujud air, tanah, api, dan udara. Selanjutnya dikenal sifat yang empat pula, yaitu sejuk, panas, kering, dan lembab.

Sementara Aristoteles menambahkan, ada unsur pertengahan antara api dan tanah, yakni asap. Sedangkan antara udara dan air, yakni konsistensi air. Kesimpulan Aristoteles menerangkan, bahwa terjadinya mineral disebabkan melarutnya “kedua cara” perantaraan tersebut dalam perut bumi.

Namun teori tersebut dibantah oleh sarjana-sarjana muslim. Sebab menurut penyelidikan, teori tersebut tidak banyak memberi bukti. Menurut Jabir, mineral itu tidak mungkin terdiri dari dua unsur tersebut. Bahkan ia berubah ke dalam dua unsur baru, yaitu air raksa dan belerang. Karena pelarutan keduanya di perut bumi akan menjadi mineral.

Meskipun kesimpulan Jabir terkesan aneh, tapi pada akhirnya diakui oleh para kimiawan. Bahkan menjadi dasar teori “Phlogiston” yang berkembang selanjutnya. Teori ini menyatakan, semua substansi yang bisa terbakar dan mineral-mineral yang dapat membeku karena zat-zat air, raksa, garam dapur, dan belerang.

Banyak hal yang disumbangkan Jabir untuk menambah perbendaharaan ilmu kimia ketika itu. Selain melakukan percobaan-percobaan, ia pun membuat alat-alat yang akan digunakan dengan tangannya sendiri. Melalui beragam percobaannya, Jabir mengungkapkan tentang penguapan, penyulingan -atau dalam istilah kimianya biasa disebut destilasi-, dan pengkristalan. Ia pun berhasil mengeluarkan zat-zat kimia, seperti nitrat perak (silver nitrate) dan asam nitrat (nitrate acid). Ia lah yang pertama kali menemukan teori pelarutan garam nitrat perak dengan pelarutan garam dapur yang kelak menjadi penyebab adanya pengendapan putih dan tembaga yang menghasilkan nyala hijau.

Begitulah sosok Jabir bin Hajjan. Kecemerlangan pikiran dan kesungguhannya belajar membuat orang lain merasa kagum. Ia telah menulis tak kurang dari 80 buah buku dan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dari penemuan-penemuannya inilah yang akhirnya di kemudian hari menjadi referensi penting bagi perkembangan ilmu kimia modern di Eropa.

Jabir adalah salah satu di antara putra-putra Islam pilihan. Ia meninggal dalam usia 90 tahun, setelah mewariskan banyak ilmu kepada kita semua. Berkat jasa-jasanya pula ia selalu dikenang oleh para pengagumnya, dan terukir sempurna di hati para pencintanya sepanjang zaman. Maha Benar Allah yang berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” Wallahuta`ala a`lam bisshowaab.

 

sumber : isykarima.com

Zakat yang diwajibkan atas setiap muslim seiring dengan datangnya waktu fithr (berbuka) di akhir bulan Ramadhan, karena itulah zakat ini disebut dengan zakat fithri.

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alai mewajibkan zakat fithri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin, beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat ke (tempat) shalat.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Hadits ini menjelaskan:
1- Hukum zakat fithri, bahwa ia wajib.
2- Kadar yang diwajibkan, yaitu satu sha’.
3- Dengan apa ia ditunaikan, yaitu dengan makanan pokok suatu negeri.
4- Kepada siapa ia diwajibkan, kaum muslimin tanpa kecuali.
5- Waktu pembayaran, yaitu sebelum berangkat shalat Idul Fitri.

Hikmah

Abdullah bin Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari laghwu dan rafats dan sebagai pemberi makan bagi orang-orang miskin.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Zakat untuk Orang yang Wajib Dinafkahi

Pada dasarnya zakat fitrah diwajibkan atas setiap pribadi kaum muslimin, yakni setiap muslim harus membayar zakatnya sendiri, sekalipun dia masih anak-anak berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas, namun karena keterbatasan anak-anak, wanita dan hamba sahaya, maka zakat mereka ditanggung oleh pihak yang wajib menafkahi mereka.

Waktu Pembayaran

Waktu wajib, yaitu waktu berbuka, saat matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan, maka siapa pun yang mendapatkan waktu ini, dia wajib membayar zakat fithri, seandainya janin lahir di waktu ini, maka orang tuanya menunaikan zakat untuknya, bila sesudahnya, maka zakatnya mustahab, dianjurkan.

Waktu utama, sebelum berangkat shalat, sebagai mana dalam hadits Ibnu Umar di atas.

Waktu jawaz (boleh), diperselisihkan.

Pendapat pertama: Satu atau dua hari sebelum Idul Fitri menurut Malikiyah dan Hanabilah.
Pendapat kedua: Di awal bulan menurut Syafi’iyah dan sebagian Hanabilah.
Pendapat ketiga: Mutlak, sekalipun sebelum Ramadhan, ini adalah madzhab Hanafiyah.

Dalil pendapat pertama: Ibnu Umar berkata, “Orang-orang membayar zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fitri.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Mendahulukan zakat satu atau dua hari tidak meniadakan hikmah disyariatkannya zakat fithri, yaitu membuat orang-orang fakir berkecukupan sehingga mereka tidak meminta-minta di hari Idul Fitri.

Dalil pendapat kedua: Sebab zakat fithri adalah puasa dan berbuka, bila salah satu dari keduanya sudah ada, maka boleh membayar zakat fithri, seperti zakat mal setelah memiliki nishab.

Dalil pendapat ketiga: Sebab diwajibkannya zakat ini telah terwujud, yaitu seseorang yang wajib mengeluarkannya, sehingga menyegerakan setelah terwujudnya sebab dibolehkan seperti menyegerakan zakat.

Pendapat pertama adalah pendapat yang rajih, yaitu tidak boleh mendahulukan zakat fithri sebelum Idul Fitri lebih dari dua hari, karena hal tersebut diriwayatkan dari para sahabat, di samping ia sejalan dengan hikmah disyariatkannya zakat ini.

Zakat Fithri dengan Uang

Pertama: Tidak boleh membayar zakat fithri dengan uang, tetapi dengan bahan makanan, ini adalah pendapat jumhur dari madzhab Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

Kedua: boleh membayar zakat fithri dengan uang secara mutlak, ini adalah pendapat Hanafiyah.

Pendapat pertama berdalil kepada hadits Ibnu Umar di atas yang menetapkan bahan makanan sebagai zakat, bukan uang, juga hadits Abu Said al-Khudri, “Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha’ kurma atau sha’ gandum atau satu sha’ susu kering atau sha’ kismis.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Pendapat kedua beralasan, hikmah zakat fithri adalah mencukupi hajat orang fakir miskin, dan mencukupi tidak harus dengan bahan makanan, karena uang juga bisa mencukupi.

Pendapat pertama rajih, karena:

1- Zakat fithri dengan makanan ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan diamalkan para sahabat, padahal saat itu uang sudah ada, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyinggungnya.

2- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa orang fakir tidak hanya butuh makan, dia juga butuh uang, namun beliau menunjuk bahan makanan.

3- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan beberapa jenis makanan yang harganya berbeda, hal ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin makanan itu sendiri, bukan uang. Wallahu a’lam.

Segala pujian dan sanjungan hanya bagi Allah Rabb para pendahulu dan seluruh penghuni bumi hingga akhir zaman. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan dan teladan kita Nabi Agung Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam seorang hamba yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta, demikian pula semoga tercurah kepada seluruh keluarga dan para shahabatnya.

Dengan risalah singkat ini penulis mengharapkan agar dapat memberi manfaat, secara khusus bagi pribadi penulis dan umumnya kepada kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh amalan kita pemberat timbangan kebajikan kelak nanti di akherat, Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Makna i’tikaf

Menurut bahasa i’tikaf punya arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: Al A’raf ayat 138:
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab: “Sesung-guhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. (QS.7:138)

Sedangkan menurut syara’ i’tikaf berarti menetapnya seorang muslim didalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Hukum i’tikaf

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya tiap tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pahalaNya. Terutama pada hari-hari di bulan Ramadhan dan lebih khusus ketika memasuki sepuluh akhir dari bulan suci itu. Demikian tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Yang wajib beri’tikaf

Sebagaimana dimaklumi bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk menunaikan nadzar tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Umar bin Khaththab Radhiallaahu ‘anhu yang diriwayatkan imam Al Bukhari dan Muslim.

Di sebutkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan i’tikaf semenjak beliau sampai di Madinah hingga akhir hayat.

Tempat i’tikaf

I’tikaf tempatnya di setiap masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama’ah kaum laki-laki, firman Allah Ta’ala:
“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangang Allah, maka janganlah kamu mendekatinya” (Al-Baqarah: 187)

Orang yang beri’tikaf pada hari Jum’at disunnahkan untuk beri’tikaf di masjid yang di gunakan untuk shalat Jum’at. Tetapi jika ia beritikaf di masjid yang hanya untuk shalat jama’ah lima waktu saja maka hendaknya ia keluar hanya sekedar untuk shalat jum’at (jika telah tiba waktunya), kemudian kembali lagi ke tempat i’tikafnya semula.

Waktu i’tikaf

I’tikaf di sunnahkan kapan saja di sembarang waktu, maka diperbolehkan bagi setiap muslim untuk memilih waktu kapan ia memulai i’tikaf dan kapan mengakhirinya. Namun yang paling utama adalah i’tikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Inilah waktu i’tikaf yang terbaik sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu ‘anhua)

Sunnah-sunnah bagi orang yang sedang i’tikaf

Di sunnahkan bagi para mu’takif supaya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir, membaca Al Qur’an, mengerjakan shalat sunnah (terkecuali pada waktu-waktu terlarang), serta memperbanyak tafakur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan masa mendatang. Juga banyak-banyak merenungkan tentang hakekat hidup di dunia ini dan kehidupan akhirat kelak.

Hal-hal yang harus dihindari mu’takif

Orang yang sedang i’tikaf dianjurkan untuk menghindari perkara-perkara yang tidak bermanfaat seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna sehingga mengganggu konsentrasi i’tikafnya. Karena i’tikaf bertujuan mendapatkan keutamaan bukan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak di sunnahkan.

Ada sebagian orang yang beri’tikaf namun dengan meninggalkan tugas dan kewajibannya. Hal ini tidak dapat di benarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah. Oleh karena itu orang yang i’tikaf hendaknya ia menghentikan i’tikafnya jika memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dikerjakan.

Hal-hal yang mebolehkan mu’takif keluar dari masjid

Seorang mu’takif diperbolehkan meninggalkan tempat i’tikafnya jika memang ada hal-hal yang sangat mendesak. Diantaranya; buang hajat yaitu keluar ke WC untuk buang air, atau untuk mandi, keluar untuk makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya, dan pergi untuk berobat jika sakit. Demikian pula untuk keperluan syar’i seperti; shalat Jum’at jika tempat ia beri’tikaf tidak digunakan untuk shalat Jum’at, menjadi saksi atas suatu perkara dan juga boleh membantu keluarganya yang sakit jika memang mengharuskan untuk dibantu. Juga keperluan-keperluan semisalnya yang memang termasuk kategori dharuri (harus).

Larangan-larangan dalam i’tikaf

Orang yang sedang bei’tikaf tidak diperbolehkan keluar dari masjid hanya untuk keperluan sepele dan tidak penting, artinya tidak bisa dikategorikan sebagai keperluan syar’i. Jika ia memaksa keluar untuk hal-hal yang tidak perlu tersebut maka i’tikafnya batal. Selain itu ia juga dilarang melakukan segala perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), tajassus (mencari-cari kesalahan orang), membaca dan memandang hal-hal yang haram. Pendeknya semua perkara haram diluar i’tikaf maka pada saat i’tikaf lebih ditekankan lagi keharamannya. Mu’takif juga di larang untuk menggauli istrinya, karena hal itu membatalkan i’tikafnya.

Menentukan syarat dalam i’tikaf

Seorang mu’takif diperbolehkan menentukan syarat sebelum melakukan i’tikaf untuk melakukan sesuatu yang mubah. Misalnya saja ia menetapkan syarat agar makan minum harus dirumahnya, hal ini tidak apa-apa. Lain halnya jika ia pulang dengan tujuan menggauli istrinya, keluar masjid agar bisa santai atau mengurusi dagangannya maka i’tikafnya menjadi batal. Karena semua itu bertentangan dengan makna dan pengertian i’tikaf itu sendiri.

Hikmah dan Manfaat i’tikaf

I’tikaf memiliki hikmah yang sangat besar yakni menghidupkan sunnah Rasul n dan menghidupkan hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manfaat i’tikaf diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.

  • Mendatangkan ketenangan, keten-traman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.

  • Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala . Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayangNya

  • Orang yang beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan inayahNya kepada kita agar dapat menjalankan i’tikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam , terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Sumber : alsofwa.com