Archive for July, 2012

Observasi Hilal

Tahun 1433 H atau 2012 ini akan menjadi perhatian yang cukup serius ketika ummat Islam Indonesia akan memasuki bulan suci Ramadhan, karena secara hisab awal Ramadhan 1433 H akan ada beda antara kriteria Imkan Rukyah dan Hisab hakiki, atau tenarnya antara Hisab vs Rukyat. Hisab akan memulai Ramadhan lebih dahulu ketimbang Rukyat.

 

HILAL PENUTUP ROJAB 1433 H:

Untuk menentukan kapan awal Ramadhan, mari kita awali dari penentuan tgl 1 Sya’ban 1433 H. Dan untuk memastikan permulaan Sya’ban, saya mencoba melakukan observasi terhadap Bulan penutup Rojab 1433 H. Kegiatan ini tidak jamak dilakukan, namun bagi saya ini hobi saja, namun secara sains juga bisa dimanfaatkan untuk memahami makna Yaasiin:39, “the waning crescent marks the end of Rajab – Urjunil Qadim (Quran 36: 39)“.

Hasil dari observasi terhadap Hilal Akhir Rojab, adalah sebagai berikut:

Hilal Penutup bulan Rojab 1433 H

Cahaya Bumi, pada gambar di atas terlihat dari bentuk bulat Bulan di atas sabit hilal itu adalah cahaya Matahari yang dipantulkan Bumi menuju ke permukaan Bulan, yang akhirnya kita lihat lagi dari Bumi.

Hilal di atas termati pada Senin 18 Juni 2012 selepas Shubuh. Dan pada 19 Juni 2012, Hilal yang sama sudah tidak bisa diamati lagi, dus malamnya akan terjadi Konjungsi atau Ijtimak akhir Rojab 1433 H pada jam 22:03 WIB.

Karena Ijtimak terjadi pada malam hari, maka pada sore-petangnya (maghrib, 19 Juni 2012) hilal masih negatif karena usianya masih -4 jam 33 menit.

HILAL PEMBUKA SYA’BAN 1433 H:

Bulan baru astronomis untuk Sya’ban terjadi pada tanggal 19 Juni 2012, jam 15:02 UT (Selasa, 19 Juni 2012, jam 22:03 WIB).

Visibiltas Hilal:

Hampir semua wilayah dunia tidak akan ada yang bisa menyaksikan munculnya bulan sabit baru pada petang hari tanggal 19 Juni 2012. Baru pada keesokan harinya: Rabu, 20 Juni 2012 (maghrib) bulan sabit akan lebih mudah dilihat.


Untuk wilayah Indonesia dan sekitarnya, perlu bantuan alat-alat optis untuk bisa menemukan hilal bulan Sya’ban ini, karena Indonesia berada di warna abu-abu.

Foto Hilal Sya’ban 1433 H:

Pengamatan yang punya peluang melihatnya adalah pada Rabu, 20 juni 2012. Namun di Indonesia cuaca kurang mendukung, Solo mendung. Ada yang berhasil melihat yakni di Kudus. Kudus Astro Club berhasil melihat dan mengabadikannya.

Hilal 1 Sya’ban 1433 H terlihat dari Kudus, dan berhasil diabadikannya dalam foto dan video times-laps.

Hilal 1 Syaban 1433 H
Hilal 1 Syaban 1433 H dari Kudus
Hilal 1 Syaban 1433 H dari Tanzania
Hilal 1 Syaban 1433 H dari Tanzania
Hilal 2 Syaban 1433 H
Hilal 2 Syaban 1433 H dari Juwiring-Klaten

Hisab-Rukyat: Sepakat Awal Sya’ban

Secara Hisab dan Rukyat, ada kesepakatan dalam mengawali bulan Sya’ban 1433 H ini. Awal Syaban di Indonesia dimulai secara serempak yakni pada Kamis, 21 Juni 2012. Tanggal 15 Syaban 1433 H akan jatuh pada  Kamis, 4 Juli 2012 selepas maghrib sampai Jum’at, 5 Juli 2012 menjelang maghrib.

HISAB-RUKYAT ->  1 Syaban 1433 H = 21 Juni 2012 M

Hisab-Rukyat: Beda Akhir Sya’ban

Secara Hisab dan Rukyat, akhirnya harus berbeda dalam mengakhiri bulan Sya’ban 1433 H ini. Akhir Sya’ban 1433 H di Indonesia diakhiri secara HISAB pada Kamis, 19 Juli 2012 – saat maghrib. Sementara secara Rukyah, Akhir Sya’ban 1433 H akan jatuh pada Jum’at, 20 Juli 2012 -saat maghrib.

HISAB -> 29 Sya’ban 1433 H =  19 Juli 2012 M

RUKYAT ->  30 Sya’ban 1433 H = 20 Juli 2012 M

KAPAN RAMADHAN 1433 H ?

Awal Ramadhan 1433 H – HISAB:

Dari perbedaan akhir Sya’ban 1433 H di atas, maka awal Ramadhan 1433 H sudah dapat diprediksi akan berBEDA.

Secara Hisab, konjungsi atau ijtimak akhir Sya’ban 1433 H akan jatuh pada Kamis 19 Juli 2012 jam 11:25 WIB. Maka awal Ramadhan 1433 H akan jatuh pada Jum’at 20 Juli 2012, karena perhitungan ilmu falak kontemporer, Hilal pada sore hari Kamis 19 Juli 2012 sudah positif di seluruh wilayah Indonesia.

Ormas yang menggunakan kriteria HISAB ini akan memulai berpuasa pada Jum’at , 20 JULI 2012.

Awal Ramadhan 1433 H – Rukyat: -Istikmal Sya’ban 1433 H

Dari pelabuhan Ratu:  Hilal pada Kamis 19 Juli 2012 baru setinggi 1,5 derajat. Meski elongasi di atas 4 derajat, namun karena usia juga baru 6,5 jam ; maka dipastikan secara Imkan Rukyah juga mustahil terlihat/terpenuhi. Sehingga sore harinya, atau esok harinya Jum’at 20 Juli 2012 masih masuk bulan Sya’ban 1433 H alias Istikmal untuk Sya’ban 1433 H.

Sehingga, Pemerintah RI yang menggunakankriteria Imkan Rukyah dan ormas yang menggunakan kriteria Rukyat akan mulai berpuasa pada Sabtu, 21 juli 2012.

Simulasi Visibiltas Hilal dari Surakarta, pada hari pertama Rukyah (hari konjungsi/ijtimak):

Visibiltas Hilal Ramadhan 1433 H, 19 Juli 2012

KESIMPULAN RAMADHAN 1433 H:

HISAB –> 1 Ramadhan 1433 H = Jum’at, 20 Juli 2012 M

RUKYAH –> 1 Ramadhan 1433 H = Sabtu, 21 Juli 2012 M

 

Dikutip dari tulisan Pak AR Sugeng Riyadi, Koordinator RHI Surakarta

Nama dan nasabnya

Para ulama sejarah berbeda pendapat perihal nama beliau, ada yang mengatakan namanya adalah Ar-Rumaishah, ada yang mengatakan Sahlah, ada yang mengatakan Unaifah dan ada yang mengatakan Rumaitsah. Beliau radhiyallahu ‘anha adalah anak dari Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin ‘Amir bin Ganim bin ‘Adi bin An-Najjar al-Anshariyah al-Huzrijiyah.

Beliau adalah seorang ibu dari pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu shahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu .

Prinsip dan keutamaan beliau

Beliau adalah wanita yang mempunyai berbagai prinsip, wanita mulia yang memiliki berbagai keutamaan dan seorang yang mempunyai garis keturunan yang suci dari bani Adi bin Nazar. Beliau salah seorang yang terdahulu meraih kemuliaan bergabung bersama orang-orang yang suci dan termasuk kelompok pertama dari kalangan mereka yang di berkahi.

Diantara prinsip dan keutamaan beliau:

1. Ketika wanita yang mulia ini memeluk Islam, maka suaminya “Malik bin Nadhar” yang masih kafir saat itu, ia berkata kepada istrinya: “Apakah engkau telah murtad dari agama nenek moyangmu?”, maka dia menjawab: “Aku tidak murtad tetapi aku beriman kepada laki-laki ini (Nabi Muhammad -red)”.

Ia mengajarkan anaknya Anas dengan mengatakan: “Katakan kalimat tidak ada tuhan yang berhak di sembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Maka sang anak menirukan apa yang diajarkan sang ibu, sehingga sang Malik bin Nadhar mengatakan kepada istrinya: “Jangan kau rusak anakku”, maka ia menjawab: “Aku tidak merusaknya”.

Betapa mulia cita-citanya dan betapa kokoh tekadnya, dan sikap-sikap tersebut tidak di miliki kecuali oleh wanita-wanita mulia seperti Ummu Sulaim.

2. Di antara sikap terpuji Ummu Sulaim adalah ketika suami beliau Malik bin Nadhar terbunuh, ia berkata: “Aku tidak akan menyapih Anas sampai ia melepaskan puting susu karena malu, dan aku tidak akan menikah sampai Anas menyuruhku”.

Maka Anas setelah itu mengatakan: “Semoga Allah membalas ibuku yang telah merawatku dengan baik.”

Sang ibu memenuhi janjinya dia tidak menikah sampai sang anak dewasa dan melepaskan puting susunya.

3. Di antara prinsip Ummu Sulaim yang menakjubkan adalah prinsipnya ketika hari yang dia nantikan tiba, yaitu hari di mana datang kepadanya seorang laki-laki yang ingin melamarnya, laki-laki tersebut tidak lain adalah Abu Thalhah al-Anshari yang mana ketika itu dalam keadaan musyrik.

Ketika datang Abu Thalhah ke rumah Anas untuk meminang sang tuan putri, yaitu Ummu Sulaim. Maka sang tuan putri yang cerdas dan bijak berkata kepada Abu Thalhah: “Wahai Abu Thalhah bukankah tuhan yang kamu sembah tumbuh dari bumi?”, ia menjawab: “Ya”, ia berkata: “Tidakah, kamu malu menyembah pohon?”, selanjutnya ia mengatakan lagi: “Jika kamu memeluk Islam maka aku tidak mengharapkan lagi mas kawin selain keislamanmu”, maka Abu Thalhah berkata: “Aku akan pikirkan masalahku ini”, lalu ia pergi dan setelah itu dia kembali lagi dengan mengatakan: “Aku bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”, maka Ummu Sulaim berkata: “Wahai Anas nikahkanlah Abu Thalhah!”, maka Anaspun menikahkannya dengan ibunya.

Maka benar apa yang dikatakan Tsabit al-Banani radhiyallahu ‘anhu: “Kami tidak pernah mendengar yang lebih mulia dari pada mas kawin Ummu Sulaim, yaitu Islam.”

4. Satu lagi sikap mulia yang ditampilkan Ummu Salaim yaitu ketika anaknya dari pernikahannya dengan Abu Thalhah menderita sakit, sedangkan Abu Thalhah berada di masjid, lalu anak itu meninggal, maka ia pun mempersiapkan dan mengurus anaknya tersebut, dia berkata kepada orang-orang: “Jangan sampaikan hal ini kepada Abu Thalhah mengenai kematian putranya”.

Ketika tiba dari masjid, maka Ummu Sulaim mempersiapkan makan malam untuknya, lalu Abu Thalhah berkata: “Apa kabar anak kita?”, maka ia menjawab: “Ia baik- baik saja”, kemudian Ummu Sulaim memberikan makan malam kepada suaminya, dan iapun menyantap hidangan tersebut, lalu Ummu Sulaim memakai wangi-wangian dan berdandan, lalu Abu Thalhah melakukan hubungan dengannya layaknya suami-istri.

Pada pagi harinya, Ummu Sulaim berkata kepadanya: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu dengan keluarga si fulan yang telah meminjam sesuatu, lalu mereka menggunakannya dan ketika barang itu diminta oleh pemiliknya, orang tersebut keberatan untuk mengembalikannya?”, Abu Thalhah menjawab: “Mereka tidak berlaku adil”, Maka akhirnya Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya anakmu adalah pinjaman dari Allah, lalu ia mengambilnya kembali”. Lalu Abu Thalhah mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, demi Allah jadikan aku mengalahkan kesabaran malam ini”.

Lalu ia pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan halnya, lalu Rasulullah bersabda: “Semoga Allah memberkahi mereka berdua pada malam mereka”.

Hari demi hari dan bulan demi bulan Allahpun mengabulkan doa Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kedua suami istri yang bersabar ini melahirkan anak yang diberkahi, yang darinya Allah menganugrahkan tujuh orang anak yang semuanya hafal al-Qur-an.

5. Di antara keutamaannya lagi adalah bahwa beliau seorang yang pemberani dan terkadang ia ikut di dalam peperangan yang langsung dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama suaminya Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu untuk mengobati para perajurit yang terluka dan memberi mereka minuman.

Ummu Sulaim ikut menyaksikan peperangan Hunain bersama suaminya Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu dengan membawa pisau besar yang telah ia persiapkan.

Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim membawa pisaunya”, Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah , aku siapkan pisau ini adalah jika ada salah seorang kaum musyrik menyerangku akan aku tikam keperutnya”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sambil berkata: “Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah mencukupkan hal itu dan dia melakukan yang terbaik”.

Lihatlah keberanian wanita yang terdidik di bawah naungan rindangnya pohon Islam.

6. Keutamaan yang terakhir yang bisa kami sebutkan pada kesempatan kali ini adalah bahwa beliau adalah salah seorang yang mendapatkan kabar gembira dengan Surga Allah Ta’ala, Rasulullah bersabda: “Aku masuk kedalam Surga lalu aku mendengar suara, kemudian aku bertanya: “Suara apa itu?” seorang menjawab: “Itu suara Rumaishah bintu Milhan”.

Wafatnya beliau

Akhirnya lembaran-lembaran yang mencatat semua sikap yang mulia itu dilipat ketika wanita mulia ini memenuhi panggilan Rabbnya, meninggalkan negri yang penuh dengan penderitaan untuk menyambut kehidupan baru bersama para kekasih Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya.

Akhirnya pada tahun 61H, seorang yang benar imannya, yang sering memberikan nasehat, ibu dari orang-orang yang mulia, hiasan kaum wanita, Ummu Sulaim meninggal dunia. Semoga Allah menempatkannya dan kita semua di dalam SurgaNya, Amiin…

[Sumber: alsofwa.com]