Archive for July, 2012

Ahad, 6 Agustus 2009 diadakan kajian ilmiah dengan tema “Sudahkah Kita Sholat Subuh Tepat pada Waktunya?”. Acara menghadirkan pembicara Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi dari Mekkah Saudi Arabia. Beberapa bulan terakhir memang issu atau wacana soal waktu sholat shubuh, mulai mengemuka, baik dalam diskusi nyata maupun via dunia maya, di web resmi maupun blog dan juga FB serta lainnya.

Dalam kaidah Ushul Fiqh, disebutkan bahwa semua urusan agama pada awalnya Haram, kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

Sebaliknya dalam urusan dunia, semuanya Halal, kecuali ada dalil yang melarangnya.

Kaitannya dengan waktu shubuh, maka semua hal harus ada dalil yang memerintahkannya. Perintah sholat shubuh adalah bila saatnya sudah masuk, yakni saat kita melihat fajar shodiq. Fajar yang menandai telah berlalunya waktu malam dan akan masuknya waktu siang.

1. DUA FAJAR BERBEDA:

Kata kunci untuk waktu sholat shubuh adalah Fajar. Rasululloh SAW –yang hidup di zaman yang belum secanggih kini pengetahuan astronomi ummat manusia– sudah menjelaskan tentang adanya dua jenis fajar.

  1. Fajar Kadzib atau Fajar yang membohongi, alias fajar itu munculnya akan hilang lagi. Bahasa Astronominya Cahaya Zodiak / Zodiacal Light
  2. Fajar Shodiq atau Fajar yang benar, karena fajar ini akan berlanjut kepada muncul atau terbitnya matahari. Bahasa Astronominya Astronomical Twilight.

Berikut gambaran kedua fajar tersebut:

Fajar Kadzib/Zodiacal Light:

Fajar Kadzib atau Zodiacal Light

 

Fajar Shadiq/Astronomical Twilight:

Fajar Shadiq yg saya ambil di depan rumah

ICOP beberapa bulan terkahir juga sudah mulai merintis kampanye untuk ‘koreksi’ waktu sholat Shubuh ini melalui IFOC. Bahkan di ICOP, kampanye tidak sebatas waktu sholat Shubuh, namun juga waktu sholat Isya’. Waktu Isya’ dan Shubuh memang identik. Isya’ ditandai dengan posisi matahari sekitar -18°  setelah sunset, sementara Shubuh ditandai dengan posisi matahari sekitar -18° sebelum sunrise.

Kriteria ketinggian Matahari saat Isya’ dan Shubuh yang selama ini beredar di dunia, bermacam-macam:

  1. Kriteria Standar (ilmu astronomi) mengambil sudut Isya’ = -18, dan Shubuh = -18°.
  2. Mesir mengambil sudut Isya’ = -17.5°, dan Shubuh = -19.5°.
  3. Masyarakat Islam Amerika Utara, sudut Isya’ = -15°, dan Shubuh = -15°.
  4. Liga Muslim Dunia, Isya’ = – 17°, dan Shubuh = -18°.
  5. Depag RI, Isya’ = -18°, dan Shubuh = -20°.

 

2. AWAL-AKHIR WAKTU SHOLAT:

Waktu Sholat ditentukan posisi Matahari

Dari sudut pandang Fiqih waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih adalah sebagi berikut :

Waktu Subuh Waktunya diawali saat Fajar Shadiq sampai matahari terbit (syuruk). Fajar Shadiq ialah terlihatnya cahaya putih yang melintang  mengikut garis lintang ufuk di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut Fajar Kadzib atau Fajar Semu yang terjadi akibat pantulan cahaya matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Mars . Beberapa menit kemudian cahaya ini seolah menyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shadiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari  ( s° ) sebesar 18° di bawah horizon Timur sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk Mar’i / visible horizon). Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut  s=20°.

Waktu Zuhur Disebut juga waktu Istiwa (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa juga dikenal dengan sebutan Tengah Hari (midday/noon). Pada saat Istiwa, mengerjakan ibadah shalat (baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah Istiwa, yakni ketika matahari telah condong ke arah Barat. Waktu tengah hari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi piringan matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (Istiwa). Secara teoritis, antara Istiwa dengan masuknya Zuhur ( z° ) membutuhkan waktu 2 menit, dan untuk faktor keamanan biasanya pada jadwal shalat waktu Zuhur adalah 4 menit setelah Istiwa terjadi atau z=1°.

Waktu Ashar Menurut Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara Madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri.

Waktu Maghrib Diawali saat matahari terbenam di ufuk sampai hilangnya cahaya merah di langit Barat. Secara astronomis waktu maghrib dimulai saat seluruh piringan  matahari masuk ke horizon  yang terlihat (ufuk Mar’i / visible horizon) sampai waktu Isya yaitu saat kedudukan matahari  sebesar i° di bawah horizon Barat.  Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria waktu isya’ pada sudut i=18° di bawah horison Barat.

Waktu ‘Isya Diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit Barat, hingga terbitnya Fajar Shiddiq di Langit Timur. Secara astronomis, waktu Isya  merupakan kebalikan dari waktu Subuh yaitu dimulai saat kedudukan matahari  sebesar i° (Indonesia : 18°) di bawah horizon Barat sampai pertengahan malam.

 

3. SOLUSI WAKTU SHUBUH KINI..?

Pertama, Dari FB Pak Thomas Djamaluddin:

Penentuan waktu shubuh diperlukan untuk penentuan awal shaum (puasa) dan shalat. Tentang waktu awal shaum disebutkan dalam Al-Quran, “… makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS 2:187). Sedangkan tentang awal waktu shubuh disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Umar, “… dan waktu shalat shubuh sejak terbit fajar sampai sebelum terbit matahari” (HR Muslim).
Fajar yang bagaimana yang dimaksudkan tersebut? Hadits dari Jabir merincinya, “Fajar ada dua macam, pertama yang melarang makan, tetapi membolehkan shalat, yaitu yang terbit melintang di ufuk. Lainnya, fajar yang melarang shalat (shubuh), tetapi membolehkan makan, yaitu fajar seperti ekor srigala” (HR Hakim). Dalam fikih kita mengenalnya sebagai fajar shadiq (benar) dan fajar kidzib (palsu).

Para ulama ahli hisab dahulu sudah merumuskan definisi fajar shadiq dengan kriteria beragam, berdasarkan pengamatan dahulu, berkisar sekitar 17 – 20 derajat. Karena penentuan kriteria fajar tersebut merupakan produk ijtihadiyah, perbedaan seperti itu dianggap wajar saja. Di Indonesia, ijtihad yang digunakan adalah posisi matahari 20 derajat di bawah ufuk, dengan landasan dalil syar’i dan astronomis yang dianggap kuat. Kriteria tersebut yang kini digunakan Departemen Agama RI untuk jadwal shalat yang beredar di masyarakat.

Lalu fajar shadiq seperti apakah yang dimaksud Rasulullah SAW? Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari disebutkan, “Rasulullah SAW shalat shubuh saat kelam pada akhir malam, kemudian pada kesempatan lain ketika hari mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukan pada waktu gelap sampai beliau wafat, tidak pernah lagi pada waktu mulai terang.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad yang shahih). Lebih lanjut hadits dari Aisyah, “Perempuan-perempuan mukmin ikut melakukan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi SAW dengan menyelubungi badan mereka dengan kain. Setelah shalat mereka kembali ke rumah tanpa dikenal siapapun karena masih gelap.” (HR Jamaah).

Karena saat ini waktu-waktu shalat lebih banyak ditentukan berdasarkan jam, perlu diketahui kriteria astronomisnya yang menjelaskan fenomena fajar dalam dalil syar’i tersebut. Perlu penjelasan fenomena sesungguhnya fajar kidzib dan fajar shadiq. Kemudian perlu batasan kuantitatif yang dapat digunakan dalam formulasi perhitungan untuk diterjemahkan dalam rumus atau algoritma program komputer.

Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat.

Fajar apakah sebagai pembatas awal shaum dan shalat shubuh? Dari hadits Aisyah disebutkan bahwa saat para perempuan mukmin pulang dari shalat shubuh berjamaah bersama Nabi SAW, mereka tidak dikenali karena masih gelap. Jadi, fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam.

Apakah posisi matahari 18 derajat mutlak untuk fajar astronomi? Definisi posisi matahari ditentukan berdasarkan kurva cahaya langit yang tentunya berdasarkan kondisi rata-rata atmosfer. Dalam kondisi tertentu sangat mungkin fajar sudah muncul sebelum posisi matahari 18 di bawah ufuk, misalnya saat tebal atmosfer bertambah ketika aktivitas matahari meningkat atau saat kondisi komposisi udara tertentu – antara lain kandungan debu yang tinggi – sehingga cahaya matahari mampu dihamburkan oleh lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Akibatnya, walau posisi matahari masih kurang dari 18 derajat di bawah ufuk, cahaya fajar sudah tampak.

Kalau saat ini ada yang berpendapat bahwa waktu shubuh yang tercantum di dalam jadwal shalat dianggap terlalu cepat, hal itu disebabkan oleh dua hal: Pertama, ada yang berpendapat fajar shadiq ditentukan dengan kriteria fajar astronomis pada posisi matahari 18 derajat di bawah ufuk, karena beberapa program jadwal shalat di internet menggunakan kriteria tersebut, dengan perbedaan sekitar 8 menit. Kedua, ada yang berpendapat fajar shadiq bukanlah fajar astronomis, karena seharusnya fajarnya lebih terang, dengan perbedaan sekitar 24 menit. Pendapat seperti itu wajar saja dalam interpretasi ijtihadiyah.


Kedua, Observasi Pak AR Sugeng Riyadi (RHI Surakarta):

Selama ini kita menggunakan jadwal waktu shubuh dengan sudut matahari sebesar -20°. Sudut ini adalah posisi atau letak Matahari di bawah ufuk timur. Sudut sebesar 20° ini adalah ijtihadnya seorang ahli falak dari Sumatera yakni Sa’adoeddin Djambek, sebagai bentuk kehati-hatian supaya di bulan puasa kaum muslimin tidak kebablasan waktunya dalam makan sahur. Jadi selama ini sudut 20° belum pernah dibuktikan melalui observasi di lapangan.

Dengan kata lain  sudut ini baru kesepakatan dan hasil kerja keras pak Saadoe’ddin Djambek dalam memperkenalkan hisab awal waktu shalat. Angka-angka dari pak Djambek kalau mau ditelusuri lebih lanjut, berasal dari sudut-sudut Matahari yang diperkenalkan Ibn Yunus di Mesir, pada 10 abad silam.

Ibn Yunus memang sudah memasukkan parameter meteorologis untuk awal waktu Shubuh-nya, namun kita harus melihat bahwa beliau melakukan studinya di Mesir, yang terletak di garis balik utara (GBU) 23,5° LU dan relatif kering (karena punya gurun pasir, meskipun di utara ada Laut Tengah).

Baru belakangan ini, di Indonesia, mulai ramai keinginan orang untuk melakukan Rukyah Fajar Shadiq. Maka mari kita kampanyekan sholat shubuh tepat waktu, bukan sebelum waktunya.

Namun sebelumnya harus disepakati terlebih dahulu tentang metode dan definisi awal waktu Shubuh. Ada 3 usulan sejauh ini :

1. Awal Shubuh adalah saat bintang-bintang redup (segitiga bintang tertentu, konstelasi bintang tertentu) mulai menghilang –> seperti definisi dari ICOP

2. Awal Shubuh adalah saat terjadinya overlapping antara cahaya zodiak (fajar kadzib) dan cahaya fajar (fajar shadiq) –> usulan dari Pak Ma’rufin (RHI dan BHRD Kebumen)

3.Awal Shubuh adalah saat birunya langit mulai kelihatan, meskipun sedikit, demikian juga dengan bagian terkecil dari horizon timur. (Pak AR  mengusulkan yang ini….)

Dari usulan pada kriteria no 3 ini, maka Pak AR mendapatkan hasil berikut:

Koleksi Fajar dari 5 file terakhir di bawah ini,  hasil rukyah di depan rumah Pak AR, desa yang minimal dari polusi cahaya. (Silahkan klik pada foto untuk melihat lebih jelas)

fajar_18_pakarfisikafajar_17_pakarfisikafajar_16_pakarfisika
fajar_15_pakarfisikafajar_14_pakarfisika

Dari hasil rukyah fajar di atas, terlihat bahwa:

Fajar Shadiq baru mulai terlihat setelah sudut di atas -17°. Sebab kalau masih di sekitar 18°, warna langit masih terlalu gelap.

Jadi, kita sholat shubuh setelah posisi Matahari sekitar 17° di bawah ufuk, atau sekitar 12 menit lebih mundur dari jadwal kini yang memakai -20°.

|(-20°) – (-17°)| = 3° x 4 menit = 12 menit

Hasil riset di Timur Tengah, baik Mesir, Saudi, dan juga Tim Majalah Qiblati maupun lainnya menyebutkan angka rata-rata fajar shadiq baru terlihat pada saat matahari di posisi 14,6° (atau dibulatkan 15) di bawah ufuk timur.

Dari hasil riset ini, maka bila kita selama ini menggunakan jadwal waktu sholat berdasar kriteria posisi matahari di bawah ufuk 20° akan ada selisih :

20° – 15° = 5° x 4 menit = 20 menit.

Kalau masih ragu dengan hasil observasi Pak AR yang 17°  maka silahkan ambil sudut 15° sebagaimana hasil observasi yang telah disampaikan oleh Tim Majalah Qiblati, mengingat hal ini terkait dengan sah-tidaknya shalat. InsyaAllah ini yang lebih selamat.

Wallahu a’lam

dikutip dari Tulisan Pak AR Sugeng Riyadi dengan beberapa perubahan

 

Baca juga : Shubuh di Indonesia Terlalu Pagi

Baca Makalah : Koreksi Awal Waktu Shubuh

Download : Jadwal Shalat 5 Waktu (isi sudut shubuh dengan 15)

 

Kurma, Buah Penuh BerkahDibalik kerasnya iklim padang pasir terdapat butiran anugerah yang diberikan Allah SWT. Siapa sangka padang pasir yang tandus dan gersang menghadirkan timbunan minyak bumi, unta-unta yang setia, dan yang tak kalah penting, pohon kurma.

Firman Allah SWT yang termaktub dalam al-Quran surat an-Nahl ayat 16 yang berbunyi, “Dan Dialah (Allah SWT) yang menundukan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar darinya, dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”

Firman tersebut menyiratkan rasa sayang teramat besar yang diberikan Dzat Maha Esa atas umatnya di dunia. Rasa sayang itu juga diberikan kepada umatnya yang mendiami jazirah padang pasir. Bila dipandang secara logika, mungkinkah tanpa ada pertolonganya, manusia bisa bertahan hidup dilokasi yang demikian ekstrim.

Berbicara tentang tiga hal tadi, rasanya cukup tepat bila memilih kurma sebagai bahasan menarik. Pasalnya, kurma seperti halnya unta merupakan produk asli buatan alam padang pasir. Siapa sangka, dari buah berukuran sebesar ibu jari orang dewasa ini menyimpan begitu banyak hikmah didalamnya. Tak hanya memerdukan aliran keimanan tapi juga keduniawian melalui perpektif ilmu pengetahuan.

Keistimewaan kurma telah dijamin oleh al-Quran melalui surat Al-Mukminun ayat 19 yang mengatakan,” Lalu kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur, kamu peroleh didalamnya buah-buahan yang banyak dan sebagian kamu makan,”. Tak hanya itu, kata kurma juga disebutkan 26 kali dalam al-Quran. Para ahli agama dan kalangan medis sepakat, penyebutan al-Quran tentang kurma menunjukan peran penting kurma.

Keistimewaan kurma bahkan menyisipi legenda jazirah arab. Legenda itu menyebutkan, ketika Allah SWT menciptakan Adam AS sebagai kalifah pertama di dunia, Dia menggunakan sisa bahan yang digunakan membentuk Adam dipakai kembali untuk menciptakan pohon kurma. Itu sebabnya, masyarakat Arab percaya kurma merupakan Nakhla yang bermakna pohon kehidupan.

Secara karakteristik, tumbuhan bernama latin Phoeniz Dactylifera ini tergolong berbatang tunggal dan masuk dalam keluarga Arecaceae. Umumnya, pohon kurma memiliki tinggi rata-rata mencapai 15-25 meter. Tanaman kurma tidak akan pernah berhenti tumbuh dan tumbang sendiri jika sudah terlalu tinggi dan tua. Daunnya berukuran besar, panjangnya 4-5 meter, dan  berbentuk seperti sisir. Ujung daun runcing dan tajam seperti jarum.

Sekali berbunga, satu pohon kurma mampu menghasilkan ratusan buah kurma dengan berat total 6-8 kilogram, ada juga jenis kurma yang menghasilkan 1000 buah dengan berat 52 kg. Dalam setahun, rata-rata pohon kurma mampu menghasilkan buah kurma lebih dari 300 kilogram.

Lantas apa yang membuat Kurma begitu istimewa? Dalam buku “Khasiat dan Keajaiban Kurma” yang ditulis Ir Rosita dan Tim Redaksi Qanita disebutkan, sebutir kurma mengandung sekitar 23 kalori, mengonsumsi 5 atau 6 kurma sama saja mengkonsumsi buah satu porsi. Bahkan, Institut Nasional Kanker AS merekomendasikan masyarakatnya untuk mengkonsumsi kurma guna menjamin kebutuhan 5 porsi buah dan sayur dalam sehari.

Lalu apa saja yang dikandung kurma hingga memiliki keistimewaan seperti itu? Perlu diketahui, kurma merupakan buah yang paling banyak mengandung gula alami di antara semua jenis buah-buahan.

Konsentrasi gula dalam kurma mencapai 70% sedangkan buah-buahan lain hanya sekitar 20-30%. Gula dalam kurma juga mengandung fruktosa, glukosa dan sukrosa. Zat-Zat ini mampu memasok energi bagi tubuh dengan cepat. Sebab itulah, kurma begitu disarankan sebagai santapan utama saat berbuka.

Tak hanya itu, kurma juga mengandung potasium dengan kadar paling tinggi diantara buah-buahan lain. Potasium adalah mineral penting yang diperlukan tubuh untuk kontraksi otot termasuk otot jantung. Kandungan ini juga diperlukan untuk menjaga kesehatan sistem saraf dan membantu metabolisme tubuh.

Kandungan lain yang begitu esensial adalah serat. Berdasar sifatnya, serat terbagi dua jenis yakni serat larut dan serat tak larut. Kedua jenis serat ini ada didalam kurma. Fungsi serat sendiri penting bagi tubuh yakni melancarkan pencernaan, menurunkan kadar gula dalam darah dan menurunkan kolesterol.

Penyembuh Penyakit

Beberapa hadis menerangkan kurma adalah obat. Hadis pertama menyebutkan,” Kurma dari cabang yang tinggi adalah kurma,”. Hadis lain menyebutkan, “Barang siapa makan 7 buah kurma pada pagi hari, ia akan terhindar dari racun penyakit dan kejahatan.”

Dua hadis ini, tentu merangsang peneliti untuk menggali potensi obat dalam buah kurma. Hadis ini pula yang mengundang pemikiran masyarakat arab untuk menggunakannya sebagai obat penyembuh berbagai penyakit.

Buku Khasiat dan Keajaiban Kurma yang tuliskan Ir. Rostita dan Timnya menyebutkan penyakit kelas berat macam Jantung, Stroke, kanker dan darah tinggi bisa diminimalisir resikonya bila mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium 400 miligram sehari. Kandungan itu terpenuhi dengan hanya mengkonsumsi 5 butir kurma atau 65 gram kurma perhari.

Sebuah hadis yang diriwayatkan sahabat menceritakan sebuah kisah ketika salah seorang sahabat Rasullah SAW mengeluh padanya. Saat itu, Rasullah segera meletakan tangannya di dada sahabat tersebut sembari berkata,”Engkau menderita sakit pada jantung, berobatlah kepada Al Haris Ibn Kalada, Ia ahli mengobati dan Gunakan 7 buah kurma Ajwah yang dihaluskan dengan bijinya untuk engkau makan.”

Tak hanya bermanfaat bagi pencegahan dan penyembuhan  penyakit kelas berat, kurma juga dianjurkan untuk diberikan pada ibu hamil. Sebuah hadis yang diriwayatkan H.R Bukhari,”Sesungguhnya, makanan Siti Maryam tatkala melahirkan Nabi Isa AS Adalah buah kurma. Sekiranya, Allah SWT menjadikan suatu buah yang lebih baik dari pada buah kurma, maka Allah telah memberikan makan buah itu pada Maryam.”

Hadis itu memperkuat firman Allah SWT dalam surat Maryam ayat 25 yang mengatakan,” Dan Goyangkanlah pangkal pohin kurma itu ke arah mu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang matang kepada mu.”

Makna yang terkadung dari al-Quran dan Hadis lantas diperkuat kembali dengan temuan ilmiah seperti kurma matang mengandung substansi yang mendorong peregangan rahim dan meningkatkan konstraksi. Kurma juga mengandung stimulan yang memperkuat otot rahim hingga mencegah pendarahan.

Kurma juga bisa digunakan sebagai  bahan dasar utama makanan khusus, barbur untuk para ibu yang baru saja melahirkan. Manfaat dari penggunaan kurma ini membuat darah kotor yang berada dalam tubuh ibu segera keluar. Cara membuatnya pun relatif mudah yakni rebus beberapa kurma bersama air sehingga menjadi semacam bubur yang tidak mengeras seperti puding dan tidak terlalu encer seperti sup.

Selain itu, riset lainnya menyebutkan mengkonsumsi kurma usai melahirkan akan memberikan kualitas ASI terbaik sekaligus menggantikan tenaga ibu yang terkuras usai melahirkan dan menyusui.

Banyak sumbangsih yang diberikan kurma terkait masalah kesehatan. Seperti misal, kesehatan anak, masalah penyakit menahun dan hal lainnya.

Jenis-Jenis Kurma

Varietas kurma umumnya terbagi atas 3 jenis, yakni kurma basah, kurma agak kering dan kurma kering. Kurma basah bercirikan berdaging empuk, sangat lembab dan mengandung sedikit gula.  Kurma agak kering bercirikan dagingnya kenyal, tidak berair, berkandungan tinggi. Sementara itu, kurma kering berkadar gula tinggi, berkelembaban rendah, kering berdaging keras.

Ketiga varietas itu tersebar pada puluhan jenis kurma di dunia. Jenis kurma yang banyak beredar di dunia adalah kurma dari Irak, yaitu Zahdi. Keberadaan kurma Zahdi bisa mencapai 43% dari keseluruhan produksi kurma di dunia. Kurma jenis ini memiliki bentuk yang lonjong, berwarna coklat keemasan, berkualitas rendah dan harganya murah.

Jenis lain yang banyak beredar antara lain kurma Ajwah atau kurma Nabi. Konon, Rasullah SAW begitu gemar mengkonsumsi kurma jenis ini. Selain itu ada beberapa jenis kurma lain yang banyak dijual di pasaran dunia, sebut saja kurma Sayer, Hwy, Kadrawi, Khastawi, Brem dan Chip Chap.

Sementara itu, masyarakat Indonesia sangat gemar mengkonsumsi jenis kurna Nabi, ambhar dan safawi. Umumnya, para pedagang kurma di Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebagian besar menjual tiga jenis kurma tersebut.

 

Sumber : Republika

Pak AR Sugeng Riyadi (koordinator RHI Surakarta) kembali menerbitkan Jadwal Imsakiyah versi MS Excel. Untuk 1433 H ini beliau memasukkan pilihan Tahun, Kota, Sudut Shubuh dan Tinggi Hilal. Harapannya, dengan model masukan ini bisa memenuhi keperluan setiap Muslim yang sangat beragam kriterianya di Indonesia ini. Ada yangg mengacu pada hisab, ada yang rukyah. Ada yang Shubuh versi Pemerintah, ada juga versi Majalah Qiblati (-15 derajat), dll.

Berikut sampel tampilan Jadwal dengan kriteria Imkan Rukyah, dan sudut Shubuh -18 dengan kriteria tinggi Hilal awal bulan versi Imkan Rukyah (Pemerintah RI) yaitu 2 derajat, maka akan tampil sampai tanggal 29 Ramadhan saja dan diawali tgl 21 Juli 2012:

Imsakiyah dgn Hilal Imkan, Shubuh -18 

Berikut sampel tampilan Jadwal dengan kriteria Hisab, dan sudut Shubuh -18,  dengan kriteria tinggi Hilal awal bulan versi Hisab (misalnya 1 derajat), maka akan tampil sampai tanggal 30 Ramadhan saja dan diawali tgl 20 Juli 2012:

Imsakiyah dgn Hilal versi Hisab, Shubuh -18. 

Selengkapnya, silakan unduh file Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1433 H di sini.

Untuk Sudut Shubuh disarankan menggunakan sudut 15 (-15 derajat) karena berdasarkan hasil observasi, fajar shadiq baru tampak pada sudut tersebut, atau selisih 20 menit dengan jadwal Kementerian Agama.

 

Baca juga : Shubuh di Indonesia Terlalu Pagi