Archive for May, 2012

Rasulullah saw. bersabda :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِــامْرَأَةٍ إِلاَّ كَــانَ ثَــالِثَهُمَــا الشَّيْطَــانُ

Artinya: Sungguh tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita, kecuali yang ketiga dari keduanya adalah syetan.

(HR. at-Tirmidzi)

 

Perintah untuk tidak berkhalwat (berdua-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan mahram selama ini dipatuhi seorang mukmin sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, jarang dari kita yang mengetahui alasan ilmiah di balik perintah itu.

Kenapa hal tersebut dilarang dan dianggap berbahaya oleh syariat Islam? Bagian tubuh kita yang mana yang ternyata berpengaruh terhadap kondisi khalwat itu?

Baru-baru ini, sebuah penelitian membuktikan bahaya berkhalwat tersebut.

Para peneliti di Universitas Valencia menegaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya tarik yang akan menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Kortisol adalah hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh. Meskipun subjek penelitian mencoba untuk melakukan penelitian atau hanya berpikir tentang wanita yang sendirian denganya hanya dalam sebuah simulasi penelitian. Namun hal tersebut tidak mampu mencegah tubuh dari sekresi hormon tersebut.

“Cukuplah anda duduk selama lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam peningkatan hormon tersebut,” inilah temuan studi ilmiah baru-baru ini yang dimuat pada Daily Telegraph!

Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah, namun jika meningkat hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dan berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu seksual.

Bentuk yang menyerupai alat proses hormon penelitian tersebut berkata bahwa stres yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanyamemiliki daya tarik lebih besar! Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol. Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria aneh, hormon ini tidak naik. Hanya ketika sendirian dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh!

Para peneliti mengatakan bahwa pria ketika ada perempuan asing disisinya, dirinya dapat membayangkan bagaimana membangun hubungan dengannya (jika tidak emosional), dan dalam penelitian lain, para ilmuwan menekankan bahwa situasi ini (untuk melihat wanita dan berpikir tentang mereka) jika diulang, mereka memimpin dari waktu ke waktu untuk penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.

Nabi saw Mengharamkan Khalwat

Kita semua tahu hadits yang terkenal yang mengatakan: “Tidaknya ada orang yang seorang laki-laki berkhlawat dengan wanita kecuali setan adalah yang ketiga”. Hadits ini menegaskan diharamkannya berkhalwat bagi seorang pria dengan wanita asing atau bukan mahramnya. Karena itu Nabi saw melalui syariat ini menginginkan kita menghindari banyak penyakit sosial dan fisik.

Ketika seorang beriman mampu menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial, dan mencegah individu dari berbagai penyakit …

Meletakkan hukum syariat yang berlaku bagi semua manusia dalam bidang ibadah, muamalah dan segenap urusan mereka, memutuskan persengketaan dan perseteruan di antara mereka adalah hak mutlak Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (Al-A’raf: 59).

Sebagai pencipta, secara otomatis Allah mengetahui ciptaanNya, Allah mengetahui manusia sebagai hambaNya, apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka, sehingga Dia meletakkan tatanan dan aturan sebagai konsekuensi dari rububiyahNya dan manusia patut menerima tatanan dan aturan tersebut sebagai tuntutan dari penghambaan dan demi kemaslahatan mereka sendiri.

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. Itulah Allah Tuhanku, kepadaNya lah aku bertawakkal dan kepadaNyalah aku kembali.” (Asy-Syura: 10).

Karena hak menetapkan syariat hanya di tangan Allah, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mengakui hak tersebut, baik dengan perkataannya atau dengan perbuatannya melalui peletakan undang-undang yang bertentangan dengan syariat Allah. Siapa yang melakukan hal itu maka dia telah mensejajarkan diri dengan Allah di bidang peletakan hukum syariat dan hal ini berarti penentangan yang nyata kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala telah mengingkari hamba-hambaNya yang menjadikan selainNya sebagai peletak syariat, Dia berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (As-Syura: 21).

Dari sini maka tidak patut bagi seorang muslim menerima tatatan kehidupan selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah, barangsiapa melakukan itu berarti dia telah menjadikan peletaknya sama dengan Allah di bidang tersebut.

Tatanan apa pun yang dianut dan undang-undang mana pun yang diterapkan, jika ia bukan tatanan dan undang-undang dari Allah maka ia adalah tatanan thaghut dan undang-undang jahiliyah. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50).

Termasuk dalam pengakuan memiliki hak membuat syariat dan hukum adalah menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. Ini adalah hak Allah secara mutlak juga dan tidak seorang pun berserikat dengan Allah di dalamnya. Maka barangsiapa berani menyatakan ini halal dan itu haram tanpa mempunyai ilmu dari Allah, berarti dia telah mengaku berserikat dengan Allah dalam hal tersebut.

Orang-orang Nashara telah diingkari oleh Allah manakala mereka menaati ahli agama dan ahli ibadah mereka yang menghalalkan dan mengharamkan tanpa ilmu dari Allah, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selainNya. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31).

Rasulullah saw menafsirkan ayat di atas kepada Adi bin Hatim, “Bukankah mereka itu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah lalu kalian mengikuti mereka?” Manakala Adi mengakui hal itu, Nabi saw bersabda, “Itulah ibadah kalian kepada mereka.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.

Menaati dalam menghalalkan atau mengharamkan sesuatu selain Allah merupakan sebuah bentuk ibadah yang hanya patut diberikan kepada Allah semata, manakala ia diberikan kepada selainNya berarti ia disekutukan dengan Allah, salah satu hak Allah telah dirampas dariNya dan diberikan kepada selainNya.

Tunduk kepada hukum Allah, menerima syariatNya dan kembali kepada kitabNya dan sunnah RasulNya manakala terjadi perselisihan dan persengketaan adalah salah satu konsekuensi beriman kepadaNya. Allah adalah Hakim dan hanya kepadanyalah hukum itu diserahkan dan dikembalikan. Dari sini maka pemimpin sebagai pelaksana hukum harus memutuskan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah, sementara rakyat sebagai obyek hukum berkewajiban meminta agar segala persoalan ditetapkan dengan apa yang diturunkan oleh Allah.

Tentang hak pemimpin, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (An-Nisa`: 58). Menetapkan hukum dengan adil adalah menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah, karena ia merupakan keadilan, adapun selainnya maka ia adalah kezhaliman.

Tentang hak rakyat, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59).

Allah Ta’ala telah menetapkan kafir, zhalim dan fasik kepada siapa yang tidak menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. “Barangsiapa tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah maka dia adalah orang kafir.” (Al-Maidah: 44) “…Maka dia adalah orang yang zhalim.” (Al-Maidah: 45) “…Maka dia adalah orang yang fasik.” (Al-Maidah: 47).

Menetapkan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah mencakup masalah-masalah ijtihadiyah yang diperselisihkan oleh para ulama, kita menerima pendapat mereka setelah memastikan kesesuaiannya dengan al-Qur`an dan sunnah tanpa fanatik buta kepada madzhab tertentu atau imam tertentu. Hal ini juga berlaku bagi kaum muslimin yang mengaku mengikuti madzhab tertentu atau imam tertentu, hendaknya mereka mengembalikan ijtihad madzhab atau imam kepada al-Qur`an dan sunnah, lalu apa yang sesuai atau dekat kepada keduanya diambil, sedangkan yang tidak sesuai atau jauh dari kedua ditolak. Hal ini semata-mata sebagai bentuk kesiapan untuk kembali kepada hukum Allah dan hukum Rasulullah saw, yang pertama merupakan tuntutan la ilaha illallah dan yang kedua adalah tuntutan risalah Muhammad saw.

 

Sumber: Kitab Tauhid, Jilid 3 karya Dr. Shalih al-Fauzan

Introduction

An LC-MS is an HPLC system with a mass spec detector. The HPLC separates chemicals by conventional chromatography on a column. Usually the method will be reverse phase chromatography, where the metabolite binds to the column by hydrophobic interactions in the presence of a hydrophilic solvent (for instance water) and is eluted off by a more hydrophobic solvent (methanol or acetonitrile). As the metabolites appear from the end of the column they enter the mass detector, where the solvent is removed and the metabolites are ionised. The metabolites must be ionised because the detector can only work with ions, not neutral molecules. And ions only fly through a very good vacuum, so removal of the solvent is a vital first step. The mass detector then scans the molecules it sees by mass and produces a full high-resolution spectrum, separating all ions that have different masses.

Why chromatography?

Since mass spectrometers can differentiate a lot of chemicals all mixed together on the basis of mass, it is tempting not to bother separating chemicals first with hplc. There are however two good reasons why chromatography is a very good thing.
  • Most biologically interesting chemicals exist as isomers. Isomers have exactly the same mass and cannot normally be differentiated by a mass detector, no matter how expensive it is. Therefore it helps if you can additionally separate the isomers before hand by chromatography.
  • When a mixture of chemicals enters the process of ionisation, the chemicals can interact and affect one another’s chances of getting properly ionised. This is called ion suppression. It is usually a problem where you are trying to detect one minor, or poorly ionised chemical in the presence of a large amount of something else, maybe a buffer from the sample. Some pre-purification of the ionisation mixture can get the suppressed away from the suppressors. There are ways to recognise ion suppression.

And why is the chromatography usually reverse-phase?

The first thing that happens to the flow from the HPLC when it enters the mass detector is that the solvent is squirted through a fine needle and evaporated away, to leave metabolites floating free. If the solvent contains non-volatile salts, they will appear, solid and horrible and clog up the system. Therefore ion-exchange chromatography is not really compatible with LC-MS. If you must have salts present, low concentrations of volatile things, such as ammonium acetate, can be tolerated.

Why bother with mass spectroscopy?

HPLC separates things, but provides little extra information about what a chemical might be. In fact, it is hard in hplc to be certain that a particular peak is pure, and contains only a single chemical. Adding a mass spec to this tells you the masses of all the chemicals present in the peak, which can be a very good starting point for identifying them, and an excellent method to check for purity. You can also use even a simple mass spec as a mass-specific detector, specific for your chemical of interest.

More sophisticated mass detectors such as triple quadrupole and ion-trap instruments can be set up to carry out more detailed structure-dependant analyses on what is eluting from the HPLC system.

After HPLC separation the sample goes straight into a mass detector. Mass specs detect ions in a vacuum, so the first tasks in the LC-MS are to

  • remove the solvent and ionize the metabolites.
  • get the ions into a vacuum.

Historical note:
GC-MS came before LC-MS because it is comparatively easy to pump off a small amount of GC carrier gas, but quite difficult to pump off all the vapour that can be created from even a small amount of liquid. One ml water will produce 1.3 litres of vapour at room temperature and pressure…

 

Written by : Dr. Lionel Hill, John Innes Centre UK