Archive for May, 2012

Many HPLC methods can be used with an LC-MS with little or no modification. However, there are some things that don’t work, and some things where you may find that slight changes improve your signal wonderfully:

  • LC-MS relies on drying away all the solvent. It therefore follows that you cannot use solvents with non-volatile components. Phosphate buffers and salts are bad. They will crystalize out as the solvent is dried away, and fill the ion source with solid gunk. Ion exchange chromatography is therefore unlikely to work. But you can try changing non-volatile salts to volatile ones, such as ammonium acetate.
  • All the solvent must be dried away, so the less solvent there is, the better. Consider reducing your flow rate. Electrospray mass spec signals depend on concentration, not total amount of stuff squirted into source per minute, so reducing flow rate will also increase sensitivity!
  • You are no longer dependant on perfect separation of peaks, and good retention time, for the identification of your chemical of interest. But the machines are more expensive and in demand. Consider sacrificing a little separation for improved throughput. Most LC-MS people use very short columns, 100mm maximum, often less.

 

What matters to retention time is how fast the solvent flows linearly along the column. You can calculate a flow rate for a narrower column very easily.
The cross-sectional area of the column is πr2
The cross-section of a 4.6 mm column is about five times that of a 2.1 mm column.
Therefore you should use a flow of about one fifth, i.e. 200 µl.min-1 instead of 1000µl.min-1

Note that 200 µl.min-1 is absolutely ideal for most mass specs. Buy 2mm columns instead of 4.6mm where ever possible!

 

Written by : Dr. Lionel Hill (JIC, UK)

Salah satu fitnah besar yang menimpa umat ini adalah fitnah taklid buta (mengekor), tasyabuh, menyerupai atau meniru yang tercela kepada adat-adat musuh Islam secara umum dan orang-orang yahudi dan nashara secara khusus. Tidak diragukan bahwa terjerumus ke dalam kubangan taklid adalah kekalahan dari dalam, terkecoh dan tertipu oleh penampilan semu dan terjerembab ke dalam kotoran hawa nafsu dan syahawat.

Jika umat telah tertunduk malu memandang sumber kemuliaan dan kemenangannya, ia mengambil dasar-dasar dan nilai-nilai umat yang tersesat, maka ketahuilah bahwa Kiamat sudah dekat.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Kiamat tidak datang sehingga umatku mengikuti umat-umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, orang Persia dan Romawi?” Nabi menjawab, “Lalu siapa lagi?” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Dari Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, “Demi Allah niscaya kalian akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka masuk lubang biawak niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Jengkal, hasta dan masuk ke lubang biawak yang disebutkan oleh Nabi tidak lain hanyalah isyarat yang menunjukkan kuatnya taklid dan mengekor kepada umat-umat yang tersesat.

Sekarang ini kebanyakan dari apa yang telah diprediksi oleh Nabi telah terbukti. Mengekor dan meniru dalam banyak bidang kehidupan, sampai dalam batas bahwa kebanyakan dari mereka merasa kagum dengan segala sesuatu yang berbau barat, mereka berkiblat kepada kemajuan asing hanya karena ia asing. Mereka melihat kekuatan dan kemajuan materi dimiliki oleh barat, mereka membandingkannya dengan kehidupan lingkungannya yang terbelakang. Maka muncullah perasaan kalah yang membunuh akibat hilangnya kepercayaan diri.

Agama yang lurus memperingatkan dan melarang taklid dengan keras karena agama Islam berusaha menciptakan kepribadian muslim yang kuat yang merasa bangga dengan agama dan akhlak yang dimiliki, memberi pengaruh kepada orang lain dan menolak keras terpengaruh dengan orang lain.

Karena alasan yang masuk akal ini, Allah melarang orang-orang mukmin meniru orang-orang Yahudi dalam urusan doa kepada Allah agar tidak terjadi kesamaan walaupun hanya dalam lafadz doa. Supaya orang-orang mukmin memiliki ciri khusus dalam berdoa kepada Allah dengan cara yang khusus sehingga ditiru oleh orang lain.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan, ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah, ‘Unzhurna’, dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 104).

Ketika kaum muslimin demikian maka kedudukan mereka terhormat, kekuasaan mereka kuat dan menduduki posisi pengendali di bidang kehidupan beragama, sosial, ekonomi, ilmu dan politik. Mereka adalah kekuatan yang benar-benar berpengaruh. Peradaban-peradaban masa lalu luruh di depannya.

Kaum muslimin tidak terjerembab ke dalam kondisi mereka yang memilukan seperti ini, kelemahan, ketakutan dan keterbelakangan kecuali setelah mereka memutuskan hubungan dengan agama mereka, mereka kehilangan kepercayaan diri, karena bodoh atau pura-pura bodoh, mereka mengira bahwa mengikuti barat dan timur adalah jalan kemajuan dan kemuliaan. Sikap meniru ini masih terus menuntun mereka kepada kemerosotan dan kebinasaan, sampai akhirnya mereka berada dalam kondisi seperti sekarang ini: kehilangan kepribadian dan membuang nilai-nilai Islam.

Inilah yang secara pasti diisyaratkan oleh pendidik kebaikan bagi manusia, Muhammad di mana beliau menjelaskan akibat-akibat buruk taklid dan pengaruhnya yang merusak. Nabi bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad.

Keterangan yang baik dan berguna telah ditulis oleh Ustadz Muhammad Asad ketika dia membahas masalah taklid, dia berkata, “Permasalahan yang dihadapi oleh kaum muslimin pada hari ini adalah permasalahan musafir yang berada di persimpangan jalan, di mana di situ terdapat sebuah rambu bertuliskan, ‘menuju kemajuan barat.’ Jika dia mengikuti jalan ini dia harus mengucapkan selamat berpisah kepada masa lalunya untuk selama-lamanya, dia bisa memilih jalan lain dengan rambu yang bertuliskan ‘menuju hakekat Islam’. Jalan ini adalah satu-satunya jalan yang mengajak orang-orang yang masih meyakini masa lalu dan mereka tetap bisa berkembang menuju masa depan yang baik.” Dalam bukunya ath-Thariq ila Makkah.

Seorang muslim harus membuang taklid. Hendaknya dia merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain yang tidak seagama dengannya, dengan kepala tegak dipenuhi oleh kemuliaan, sangat tidak sudi terpengaruh oleh orang. Hendaknya dia berhati-hati supaya tidak termasuk orang-orang yang ber-wala’ kepada yahudi dan nashara dan tertipu dengan penampilan luar yang kosong.

Maksud dari hadits di atas adalah kita wajib berhati-hati dan waspada terhadap musuh-musuh Allah khususnya Yahudi dan Nashara. Karena Yahudi adalah umat yang rusak dan merusak. Tidak ada aliran yang menyimpang dari jalan Allah kecuali Yahudi ada di belakangnya atau menginduk kepada Yahudi, dimulai dengan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi pendiri aliran-aliran yang sangat mengkultuskan Ali bin Abu Thalib RA, lalu Jaad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan para thaghut madzhab-madzhab bid’ah. Guru mereka semua adalah cucu Ibnul A’sham yang telah menyihir Nabi saw.

Disambung oleh kakek Abid bin Abdullah bin Maemun bin Qidah dan cucu-cucunya yang mengikuti madzhab Fatimi dan madzhab kebatinan yang rusak. Dasar mereka adalah Yahudi sampai pada zionisme yang membidik kalangan masyarakat kelas atas dengan berbagai macam kesenangan, permainan, hura-hura, mabuk-mabukan, hubungan bebas, riba dan sekulerisme. Hampir seluruh pengikut agama sesudah mereka mengekor kepada Yahudi dalam masalah pembuatan undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah. Sampai akhirnya khilafah Islam runtuh, dan runtuh pula penegakan hukum Allah, mirip dengan orang-orang Yahudi yang mengamalkan sebagian kitabullah dan membuang sebagian yang lain. Padahal kekufuran adalah pencetus kehinaan dunia sebelum Akhirat.

Walaupun demikian, alhamdulillah, Allah masih memberikan rahmatNya kepada umat meskipun ia tidak terlepas sepenuhnya dari meniru kepada umat lain

Pertama: Akan selalu ada dari umat ini segolongan yang tegak membela kebenaran dan mendapatkan pertolongan Allah, mereka tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menipu dan menentang mereka sampai datang keputusan Allah.

Kedua: Allah telah menyiapkan untuk agamanya orang-orang yang memperbaruinya, melindunginya dari penyelewengan orang-orang yang melebihi batas, rongrongan orang-orang yang ingin menghancurkannya dan ta’wil orang-orang bodoh. Ditambah dengan nikmat terjaganya al-Qur’an dari Allah yang merupakan dasar kemuliaan dan kebahagiaan kita di dunia dan Akhirat.

Wallahu a’lam.

In electrospray ionisation the metabolites are sprayed out of a fine needle, positioned with its end poking into a “cage” formed by metal surround.

There is a big voltage between the needle and the cage, so the little sprayed droplets find themselves in a strong electric field.

There are various theories about how it works. This is the oldest (and best): The ions already floating around in the droplets repel each other, just like the hairs on a child’s head when a physics teacher attaches him/her to the Van der Graff generator.

They find themselves on the outside of the droplet. But meanwhile a stream of drying gas, often heated, is blown around the spray area. The droplets shrink as the solvent evaporates, and the charged ions are forced closer and closer together.

Eventually the repulsive forces between the ions overcome the surface tension of the droplet, and it “explodes” into many tiny droplets, whose solvent disappears even more quickly.

Soon the ions are left free in an atmosphere of drying gas. The important requirement is that the ions should be present in solution before the electrospray process begins. This method requires a high flow of drying gas. In contrast to APCI (Atmospheric Pressure Chemical Ionisation), the drying gas does all the work of removing solvent. The pressure at the nebulising needle needn’t be big, because the needle sticks right into the cage close to where the ions are released, and doesn’t have far to squirt.

The ions that are seen tend to be the ions that this metabolite would normally form in solution. Fortunately, the electrospray needle does act like the electrode in a battery and allow some electrochemistry to go on, creating higher concentrations of these ions than you might normally expect. This is good, as it means you can still detect carboxylic acids by their -COO group, even in the presence of some formic acid, which would normally force most of the groups into their -COOH uncharged state.

Incidentally, as in APCI, the need to form a fine spray does influence the choice of solvent. Some solvents that aren’t usually used in LC-MS are rejected because they don’t have the surface tension characteristics for ES (Electrospray) to work properly.

Atmospheric Pressure Chemical Ionisation

In APCI the sample is sprayed out of a fine needle that is usually a bit shorter than that used in Electrospray. The solvent is then dried away by a heater. The remaining solutes, hopefully also vaporised, are then blown towards a corona discharge, which I think is just a technical name for a spark.

In the spark the vaporised solvent and analyte are ionised. The solvent can play an important role here, because if it has a lower affinity for protons than the analyte, it can pass a proton onto an analyte molecule, creating an [M+H]+ ion.

Since the metabolite of interest has to float its way into the spark in a stream of gas, this method relies on some volatility (unlike electrospray). Ionization events are comparatively rare, so the chances of an ionized metabolite meeting another ionizing species and getting a second charge are even rarer: most ions in APCI are singly charged.

Written by : Dr. Lionel Hill (JIC, UK)