Archive for April, 2012

Dalam rangka menyambut tahun keketuaan dan ketuanrumahan Indonesia di Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) pada tahun 2013, Kementerian Luar Negeri RI, didukung oleh APEC Business Advisory Council (ABAC) Indonesia, akan menyelenggarakan Sayembara Logo APEC Indonesia 2013. Sayembara terbuka untuk umum, kecuali pegawai Kementerian Luar negeri RI, 18 April-18 Mei 2012.

Sayembara diharapkan menghasilkan sebuah logo yang merefleksikan keketuaan dan ketuanrumahan Indonesia pada forum APEC di tahun 2013, dinamika perdagangan, investasi dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik, serta pencapaian Bogor Goals.

Pemenang utama sayembara akan mendapatkan sertifikat dari Kementerian Luar Negeri dan hadiah uang sebesar 30 juta rupiah dari ABAC Indonesia, dan dua pemenang harapan masing-masing akan mendapatkan sertifikat dari Kementerian Luar Negeri dan hadiah uang sebesar 10 juta rupiah dari ABAC Indonesia.

Proses penjurian dan penilaian logo akan dilakukan oleh para pemangku kepentingan yang selama ini terlibat aktif mewakili Indonesia pada forum-forum utama APEC.

Keketuaan dan ketuanrumahan Indonesia di APEC pada tahun 2013 merupakan kali kedua sejak berdirinya forum kerja sama yang beranggotakan 21 Ekonomi tersebut. Pada keketuaan dan ketuanrumahan Indonesia yang pertama tahun 1994, para Pemimpin Ekonomi APEC menyepakati Bogor Goals yang merupakan tujuan dan garis haluan utama kerja sama APEC.

Di bawah keketuaan Indonesia di tahun 2013, Indonesia akan berkontribusi dalam menentukan arah kerja sama ekonomi dan perdagangan di kawasan Asia-Pasifik, sejalan dengan prioritas dan kepentingan nasional Indonesia.

Persyaratan, kriteria dan seleksi sayembara klik di sini

Walaupun sudah banyak yang meneliti mengenai beras analog (produk mirip beras), Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui F-Technopark mengembangkan beras analog by design dengan menggunakan teknologi ekstruder. Teknologi ekstrusi menggunakan tween screw extruder dengan dye yang didesain khusus.

“Beras analog ini bisa didesain sesuai kebutuhan. Misal untuk penderita diabetes, bisa didesain khusus dengan mengatur kondisi proses dan formulanya agar indeks glikemiksnya rendah. Selain itu, keunggulan lainnya adalah mesin ekstruder yang kami gunakan merupakan produk lokal dari Tangerang,” ujar peneliti IPB, Dr. Slamet Budijanto di F-Technopark, Kampus IPB Darmaga (13/4).

Di luar negeri seperti China dan Philipina telah diproduksi beras serupa dari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu. Namun, beras analog IPB dibuat dari tepung lokal selain beras dan terigu.

“Produk didesain khusus untuk menghasilkan sifat fungsional dengan menggunakan bahan tepung lokal seperti tepung sorgum, sagu, umbi-umbian dan atau dapat ditambahkan berbagai ingredient pangan seperti serat, antioksidan dan ingredient lainnya seperti yang diinginkan,” tambah Direktur F-Technopark IPB ini.

Cara memasak beras analog sama persis dengan beras biasa yakni bisa menggunakan rice cooker atau memasak konvensional. Namun sedikit perbedaan, beras ini tidak perlu dicuci sehingga lebih praktis dan hemat air. Selain itu, beras ini lebih awet, menggunakan produk lokal 100% dan kandungan nilai gizi pun mudah diatur sesuai kebutuhan.

“Dalam penelitian yang pernah saya buat, nilai gizi beras analog dari tepung sorgum dan tepung mocaf memiliki kandungan gizi yang lebih besar dari beras biasa. Yakni energi per 100 gram (Kalori) beras analog sebesar 378 dan untuk beras biasa sebesar 350,” tambahnya.

Namun memang masih ada kelemahan dalam produk ini, yakni warnanya yang belum menyerupai beras biasa (bulir beras analog berwarna coklat) sedangkan beras biasa berwarna putih. Harganya pun masih terbilang mahal sekitar Rp. 9.000-Rp.14.000 tergantung dari ingredient yang
digunakan.

“Memang pasar yang kami tuju adalah menengah ke atas. Karena kalangan ini lebih mementingkan sifat fungsionalnya dan tidak terlampau memikirkan harga. Kalangan menengah ke bawah biasanya memiliki pemikiran bahwa jika mampu makan nasi putih berarti tidak miskin. Selain itu, jika ada orang menengah ke bawah makan ubi atau jagung maka akan disorot oleh media (kekurangan pangan), sedangkan jika ada orang kaya makan jagung atau makan steak tanpa nasi, tidak ada yang
menyoroti (biasa saja). Oleh karenanya, kami berharap makin banyak orang kaya yang makan beras analog maka akan diikuti oleh orang lain.” jelasnya.

Selain itu, produk ini juga bisa dijadikan sebagai kendaraan diversifikasi pangan. Karena pada jangka panjang jika produksinya sudah massal (biaya produksi akan turun), maka dapat digunakan untuk semua lapisan masyarakat.

Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga

merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup. Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g.

Minyak dan lemak terdiri atas trigliserida campuran, yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantaipanjang. Minyak dan lemak dapat diperoleh dari hewan maupun tumbuhan. Minyak nabati terdapat dalam buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman, dan sayuran. Trigliserida dapat berwujud padat atau cair, bergantung pada komposisi asam lemak yang menyusunnya. Sebagian besar minyak nabati berbentuk cair karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh, sedangkan lemak hewani pada umumnya berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak mengandung asam lemak jenuh.

Kacang-kacangan (Leguminoceae) merupakan bahan pangan yang kaya akan protein dan lemak. Agar asam-asam lemak dalam kacang-kacangan dapat ditentukan, terlebih dahulu dilakukan ekstraksi minyak dan lemak antara lainekstraksi dengan pelarut (solvent extraction) menggunakan heksan dan seperangkat soklet. Selanjutnya dilakukan esterifikasi untuk mengubah asam-asam lemak trigliserida menjadi bentuk ester. Pengubahan bentuk ini dilakukan untuk mengubah bahan yang nonvolatil menjadi volatil.

Untuk menentukan jenis asam lemaknya dapat digunakan kromatografi gas. Pemisahan akan terjadi untuk setiap komponen asam lemak yang terdapat pada kacang-kacangan mengikuti ukuran panjang rantai asam lemak, dari yang terkecil sampai yang terbesar yang dibawa oleh fase gerak yang digunakan (H2,N2 dan O2).

BAHAN DAN ALAT

Bahan baku yang digunakan adalah kacang tanah, kacang hijau, kedelai, kacang tunggak, dankacang merah. Bahan kimia dan pereaksi yang digunakan adalah asam sulfat 1,25%, natrium hidroksida 3,25%, heksan, asam sulfat pekat, asam borat 4%, indikator conway, asamklorida 0,1 N, natrium hidroksida dalam metanol, borontriflorida 20%, natrium klorida jenuh dan campuran selen.

Alat yang digunakan dalam analisis ini adalah soklet, tanur, oven, labu destruksi, seperangkat alat destilasi, penangas listrik, rotavapor, desikator, kertas saring, dan alat gelas lain serta kromatografi gas merek Hitachi-263.50 dengan detektor FID.

Metode Analisis

Pada tahap persiapan contoh, contoh dihaluskan menjadi serbuk halus agar homogen.

Analisis contoh mencakup analisis proksimat dananalisis asam lemak. Analisis proksimat meliputi kadar air, kadar abu, lemak, protein, dan serat kasar. Kadar air pada contoh ditetapkan dengan menggunakan oven pada suhu 105oC sampai tercapai bobot tetap. Kadar abu dianalisis dengan cara pengabuan kering dalam tanur, pada pemanasan suhu 500-600oC selama 6 jam. Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan metode soklet dan larutan heksan sebagai pelarut. Protein ditetapkan dengan metode mikro Kjeldhal dan larutan asam klorida sebagai penitar, sedangkan penetapan serat kasar dengan cara hidrolisis contoh dengan larutan asam dan basa encer.

ANALISIS PROKSIMAT DAN ASAM LEMAK PADA BEBERAPA KOMODITAS KACANG-KACANGAN

Analisis asam lemak bertujuan untuk mengetahui kandungan asam lemak dalam bahan yang beberapa di antaranya bermanfaat bagi tubuh karena mengandung omega 3, 6, dan 9. Analisis asam lemak dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan analisis. Tahap persiapan meliputi hidrolisisdan esterifikasi menggunakan pereaksi natrium hidroksida dalam metanol dan katalis boron triflorida sehingga dihasilkan ester asam lemak dalam pelarut heksan. Selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan kromatografi gas yang telah diatur kondisinya.

Cara Kerja Penentuan Kadar Air

Cawan porselin dibersihkan dan dipanaskan dalam oven, lalu ditimbang sebagai bobot kosong. Contoh yang telah dihomogenkan ditimbang sebanyak 3 g dalam cawan dinyatakan sebagai bobot awal, kemudian cawan tersebut dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105oC selama 3-5 jam. Setelah proses pengeringan, cawan dikeluarkan dari oven dan dimasukkan ke dalam desikator, dan setelah dingin ditimbang dan dikeringkan kembali dalam oven sampai diperoleh bobot tetap sebagai bobot akhir.

Keterangan :

a= bobot cawan kosong

b= bobot cawan dan contoh sebelum pengabuan

c= bobot cawan dan contoh setelah dioven

Kadar Abu

Cawan yang telah dibersihkan dipanaskan dalam tanur pada suhu 100oC selama 2 jam lalu ditimbang sebagai bobot kosong. Contoh yang telah diuapkan ditimbang teliti + 1g dalam cawan dan dinyatakan sebagai bobot awal, kemudian cawan tersebut dimasukkan ke dalam tanur suhu 600oC selama 5 jam. Setelah pemanasan cawan dimasukkan ke dalam desikator, dan setelah dingin ditimbang dan dipanaskan beberapa kali sampai diperoleh bobot tetap sebagai bobot akhir.

Keterangan:

a= bobot cawan kosong

b= bobot cawan dan contoh

c= bobot cawan dan contoh setelah pengabuan

Kadar Protein

Sampel ditimbang secara teliti sebanyak 200 mg, lalu dimasukkan ke dalam labu Kjeldhal. Selanjutnya ditambahkan selen dan 10 ml asam sulfat pekat dan didestruksi pada pemanas selama 2-3 jam atau sampai larutan menjadi jernih. Setelah proses destruksi lalu dipindahkan ke dalam labu destilasi kemudian diperiksa kandungan nitrogennya dengan menggunakan alat kjeltek.

Keterangan:

a= bobot contoh

b= volume HCl yang digunakan

6,25 = faktor konversi dari nitrogen ke protein

14 = Ar nitrogen

Kadar Lemak

Sampel ditimbang 3 g lalu dimasukkan ke thimble. Labu lemak yang telah bersih dimasukkan ke dalam oven, lalu ditambahkan batu didih dan ditimbang sebagai bobot kosong.

Thimble dimasukkan ke dalam soklet, kemudian labu lemak dihubungkan dengan soklet dan ditambahkan pelarut heksan 150 ml melewati soklet. Labu lemak dan soklet dihubungkan dengan penangas dan diekstrak selama 6 jam. Setelah ekstraksi selesai, labu lemak dievaporasi untuk menghilangkan pelarut. Selanjutnya labu lemak dimasukkan ke dalam oven 1 suhu 105oC selama 1 jam. Setelah dingin ditimbang sebagai bobot akhir (bobot labu dan lemak).

Keterangan:

a= bobot contoh

b= bobot labu lemak dan labu didih

c= bobot labu lemak, batu didih dan lemak

Serat Kasar

Contoh yang telah digunakan pada penetapan lemak ditimbang dengan teliti + 500 mg lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Selanjutnya ditambahkan 100 ml asam sulfat 1,25% dan dipanaskan sampai mendidih. Setelah 1 jam ditambahkan 100 ml natrium hidroksida 3,25%, dipanaskan kembali sampai mendidih selama 1 jam, kemudian didinginkan dan disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah diketahui bobotnya. Endapan dicuci dengan asam sulfat encer dan alkohol, lalu kertas saring dan endapan dikeringkan dalam oven dan ditimbang.

Keterangan :

a = bobot contoh

b = bobot endapan

c =bobot abu

Pada Table 12.1 disajikan contoh hasil analisis kandungan beberapa senyawa dalam kacang-kacangan

Tabel 12.1. Hasil analisis proksimat pada sampel kacang-kacangan (%)

Asam Lemak

Sampel (minyak) ditimbang 0,2 g dalam tabung reaksi tertutup, kemudian ditambahkan 2 ml natrium hidroksida dalam metanol, dipanaskan pada suhu 80oC selama 20 menit, kemudian diangkat dan dibiarkan dingin. Selanjutnya ditambahkan 2 ml larutan boron trifluorida 20% dan dipanaskan kembali selama 20 menit, kemudian diangkat, dibiarkan dingin dan ditambahkan 2 ml natrium klorida jenuh serta 2 ml larutan heksan. Setelah itu campuran dikocok sampai merata, lalu lapisan heksannya diambil dan dimasukkan ke tabung uji (evendop).

Kondisi alat kromatografi gas yang digunakan untuk analisis asam lemak adalah:

Hasil preparasi kemudian diinjeksikan ke alat kromatografi gas ketika suhu menunjukkan 150oC. Tombol start pada rekorder dan alat ditekan, dan hasilnya akan keluar berupa kromatogram. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif.

Berdasarkan kromatogram yang diperoleh, kemudian dilakukan pencocokan waktu retensi yang sama atau mendekati waktu retensi standar asam lemak. Kadar asam lemak dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

Lc = luas area contoh

Ls = luas area standar

Cs = konsentrasi standar

V = volume akhir

b = bobot contoh

Tabel 11.2. Hasil analisis asam lemak pada beberapa contoh kacang-kacangan

 

Disampaikan oleh : Ir. Adam Wiryawan, M.S.
(Mantan Dekan FMIPA Universitas Brawijaya)