Walaupun sudah banyak yang meneliti mengenai beras analog (produk mirip beras), Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui F-Technopark mengembangkan beras analog by design dengan menggunakan teknologi ekstruder. Teknologi ekstrusi menggunakan tween screw extruder dengan dye yang didesain khusus.

“Beras analog ini bisa didesain sesuai kebutuhan. Misal untuk penderita diabetes, bisa didesain khusus dengan mengatur kondisi proses dan formulanya agar indeks glikemiksnya rendah. Selain itu, keunggulan lainnya adalah mesin ekstruder yang kami gunakan merupakan produk lokal dari Tangerang,” ujar peneliti IPB, Dr. Slamet Budijanto di F-Technopark, Kampus IPB Darmaga (13/4).

Di luar negeri seperti China dan Philipina telah diproduksi beras serupa dari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu. Namun, beras analog IPB dibuat dari tepung lokal selain beras dan terigu.

“Produk didesain khusus untuk menghasilkan sifat fungsional dengan menggunakan bahan tepung lokal seperti tepung sorgum, sagu, umbi-umbian dan atau dapat ditambahkan berbagai ingredient pangan seperti serat, antioksidan dan ingredient lainnya seperti yang diinginkan,” tambah Direktur F-Technopark IPB ini.

Cara memasak beras analog sama persis dengan beras biasa yakni bisa menggunakan rice cooker atau memasak konvensional. Namun sedikit perbedaan, beras ini tidak perlu dicuci sehingga lebih praktis dan hemat air. Selain itu, beras ini lebih awet, menggunakan produk lokal 100% dan kandungan nilai gizi pun mudah diatur sesuai kebutuhan.

“Dalam penelitian yang pernah saya buat, nilai gizi beras analog dari tepung sorgum dan tepung mocaf memiliki kandungan gizi yang lebih besar dari beras biasa. Yakni energi per 100 gram (Kalori) beras analog sebesar 378 dan untuk beras biasa sebesar 350,” tambahnya.

Namun memang masih ada kelemahan dalam produk ini, yakni warnanya yang belum menyerupai beras biasa (bulir beras analog berwarna coklat) sedangkan beras biasa berwarna putih. Harganya pun masih terbilang mahal sekitar Rp. 9.000-Rp.14.000 tergantung dari ingredient yang
digunakan.

“Memang pasar yang kami tuju adalah menengah ke atas. Karena kalangan ini lebih mementingkan sifat fungsionalnya dan tidak terlampau memikirkan harga. Kalangan menengah ke bawah biasanya memiliki pemikiran bahwa jika mampu makan nasi putih berarti tidak miskin. Selain itu, jika ada orang menengah ke bawah makan ubi atau jagung maka akan disorot oleh media (kekurangan pangan), sedangkan jika ada orang kaya makan jagung atau makan steak tanpa nasi, tidak ada yang
menyoroti (biasa saja). Oleh karenanya, kami berharap makin banyak orang kaya yang makan beras analog maka akan diikuti oleh orang lain.” jelasnya.

Selain itu, produk ini juga bisa dijadikan sebagai kendaraan diversifikasi pangan. Karena pada jangka panjang jika produksinya sudah massal (biaya produksi akan turun), maka dapat digunakan untuk semua lapisan masyarakat.


One Response to “Beras IPB”

Leave a Reply