Archive for April 9th, 2012

Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah ta’ala berkata:

“Rukun kekufuran ada empat yaitu sombong, hasad, marah, dan syahwat.
▸ Sifat sombong akan mencegah seseorang untuk tunduk
▸ Hasad menghalangi untuk menerima nasihat
▸ Marah akan menghalangi untuk berbuat adil
▸ Syahwat akan menghalangi untuk konsentrasi dalam beribadah.

Apabila hancur pondasi kesombongan akan mudah baginya untuk tunduk.

Apabila pondasi hasad runtuh maka akan mudah baginya menerima nasihat dan melaksanakannya

Apabila pondasi marah runtuh maka akan mudah baginya untuk berbuat adil dan tawadhu’

Apabila pondasi syahwat itu hancur maka akan mudah baginya untuk bersabar,menaha n diri dari maksiat serta istiqamah dalam beribadah.

Memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih ringan, gampang dan mudah dibanding menghilangkan keempat perkara ini bagi orang yang telah terkena. Terlebih bila semua telah menjadi perilaku dan tabiat yang mendarah daging. Bersamaan dengan itu, tidak akan lurus amalan apapunyang dibangun di atasnya dan amalan-amalan tersebut tidak akan dapat membersihkan dirinya.
Setiap kali dia membangun sebuah amalan, maka akan diruntuhkan oleh keempat perkara tersebut, dan segala macam penyakit bermuara darinya.

Bila keempat perkara tersebut menancap di dalam hati maka akan menampilkan kebatilan sebagai kebenaran, kebenaran sebagai kebatilan, ma’ruf dalam bentuk mungkar dan mungkar dalam bentuk ma’ruf, dan duniaakan mendekatinya sedangkan akhirat akan menjauh darinya. Bila kamu meneliti kekufuran umat terdahulu (kamu akan menjumpai) semuanya bermuara dari keempat perkara tersebut. Dan besar kecilnya sebuah adzab tergantung dari besar dan kecilnya keempat sifat tersebut.

Barangsiapa membiarkan keempat rukun kekufuran tersebut pada dirinya, maka dia telah membuka pintu kejahatanpada dirinya. Dan barangsiapa menutupnya maka akan tertutup pintu-pintu kejahatan pada dirinya.

Keempat perkara di atas akan menyebabkan seseorang terhalang untuk tunduk, ikhlas, bertaubat, menerima kebenaran, menerima nasihat dari saudaranya, dan tawadhu’ di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dan di hadapan makhluk.

Keempat sifat tersebut disebabkan kejahilan tentang Rabbnya dan kejahilan tentang dirinya. Jika dia mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna dan Agung, serta dia mengetahui tentang dirinya yang penuh kelemahan dan serba kekurangan, niscaya dia tidak akan menyombongkan diri, tidak akan marah, dan tidak akan iri hati kepada siapapun yang telah mendapatkan anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla.” [Al-Fawa’id karya Ibnul Qoyyim, hal. 174-175]