Archive for April, 2012

TAUBAT

Da’i Kuwait yang kondang, Syaikh Usman al-Khamis menegaskan bahwa sejumlah besar dari Syiah itsnay asyriyyah mulai meninggalkan syiah berpindah ke ahlussunnah waljama’ah. Syekh al-Khamis berkata: ucapan ini berasal dari hasil sensus yang valid bagi kita di Mabarrah al-Aal wal-Ashhabdi Kuwait, dengan bekerja sama dengan para da’i dan para penuntut ilmu di Saudi, Bahrain dan negara-negara teluk lainnya.

Al-Khamis menambahkan: sesungguhnya jumlah orang Kuwait yang meninggalkan syiah menuju sunnah mencapai 400 orang, di Saudi 4000 orang, di Bahrain 700 orang, di Ahwaz (Arabistan, yang dicaplok Iran) berjumlah seratus ribu syiah (100.000) meninggalkan madzhab syiah menjadi ahlu sunnah waljamaah, di tengah Iran bahkan di Teheran puluhan orang syiah bertaubat menjadi ahlussunnah. Bahkan di Irak ada ratusan syiah yang secara sembunyi-sembunyi menjadi ahlussunnah tidak berani menampakkan diri karena takut milisi-milisi syiah yang biasa menteror dan membunuh.

Adapun yang berpindah menjadi ahlusunnah dan tidak berani membuka diri maka kata al-Khamis: jumlah mereka lebih dari tiga ribu orang di Saudi, 400 di Kuwait, dan 1200 orang di Bahrain, dan ribuan di daerah ahwaz (Arab jajahan Iran). Angka-angka ini diumumkan oleh al-Khamis dalam ceramahnya yang disampaikan dalam Ahadiyyah Muhammad al-Jabr al-Rasyid di Riyad, dengan judul Mengapa Sektarian? (Limadza al-Thaifiyyah?) yang menfokuskan tentang pentingnya mendakwahi syiah agar berubah menjadi ahlusunnah waljamaah.

 

Download : Fatwa MUI Jatim tentang Kesesatan Syiah

Ada keraguan dari sebagian da’i dan penuntut ilmu tentang penafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al Baqarah ayat 30 :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٠)

            “Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Rabb-mu berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ada yang berpendapat, bahwa mahluk yang diciptakan sebelum Adam dan berbuat kerusakan serta menumpahkan darah adalah jin. Akan tetapi jin tidak memiliki darah seperti manusia sehingga tidak menumpahkan darah. Jika yang dimaksud adalah jenis malaikat, maka malaikat diciptakan dari cahaya, tidak merusak dan tidak menumpahkan darah, apalagi malaikat dalam ayat tersebut mempertanyakan keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala Bagaimanakah memahami ayat tersebut?

Jawab:

Para ahli tafsir telah menyebutkan sisi lain dari penafsiran ayat diatas:

Pertama: Para malaikat berkata demikian setelah diberitahu Allah Subhanahu wa Ta’ala perihal tabiat anak cucu Adam, bahwa mereka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, Ibnu Juraij, Ibnu Zaid, dll yang dinukil oleh al-Qurthubi dan Ibnu Katsir. Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu dan Ibnu Mas’ud menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku ingin menciptakan khalifah di muka bumi!” Para malaikat bertanya: “Bagaimana (tabiat) khalifah tersebut?” Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: “Ada diantara anak cucunya yang berbuat kerusakan dan saling membunuh”. Qatadah mengatakan: Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahu mereka bahwa diatas permukaan bumi nanti ada yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Oleh karena itu, para malaikat bertanya: “Apakah Engkau menciptakan (mahluk) yang berbuat  kerusakan?”

Kedua: Para melaikat ketika mendengar lafazh khalifah, maka mereka memahami bahwa diantara anak cucu Adam ada yang berbuat kerusakan, karena yang dimaksud khalifah adalah yang memperbaiki dan meninggalkan kerusakan, sehingga ada diantara manusia yang berbuat kezhaliman, dosa dan maksiat.

Ketiga: Apa yang dinukil oleh al-Qurthubi dan lainnya, bahwa malaikat telah mengetahui kerusakan apa yang telah diperbuat oleh jin, karena bumi telah ditempati oleh jin yang suka merusak dan menumpahkan darah sebelum diciptakannya Adam. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Iblis beserta bala tentaranya untuk mengusir mereka ke arah pantai dan ke puncak gunung. Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Abu Al ‘Aliyah.

Sedang apa yang telah disebutkan, bahwa jin tidak memiliki darah untuk ditumpahkan adalah tidak benar. Karena jin makan, minum dan menikah, juga merasakan panas dan dingin sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Berlalu dihadapanku satu setan, kemudian aku memegangnya dan mencekiknya, sehingga aku merasakan dingin lisannya di tanganku”, maka jin tersebut berkata: “Kamu menyakitiku, kamu menyakitiku!”. Walaupun jin diciptakan dari api, tetapi tidak menghalangi itu semua. Demikian pula manusia diciptakan dari tanah, namun juga terdiri dari daging, darah, dan merasakan panas, dll.

Ini semua adalah sisi masyhur yang disebutkan oleh para ahli tafsir.

Dan perlu diketahui, ucapan malaikat ini bukan untuk menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun hal tersebut seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir: “Pertanyaan untuk mencari tahu hikmah itu semua.” Mereka berkata: “Wahai Pencipta kami, apa hikmah dari penciptaan mereka, padahal ada diantara mereka yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah? jika yang Engkau kehendaki adalah beribadah kepada-Mu, bukankah kami senantiasa mensucikan-Mu dan tidak melakukan kemaksiatan, bukankah cukup kami saja?”

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab pertanyaan tersebut: “Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” atau “Aku mengetahui kebaikan dari penciptaan jenis ini dibandingkan dengan kerusakan yang telah kalian sebutkan, yang kalian tidak mengetahuinya, karena Aku akan mengutus nabi dan rasul di tengah mereka. Ada diantara mereka para shiddiquun, orang-orang sholih, syuhada’, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang yang baik, al muqorrabuun (yang mendekatkan diri), ulama’, orang-orang yang beramal, orang-orang khusyuk, orang-orang yang mencintai, dan orang-orang yang mengikuti para rasul-Nya.”

(Majalah Qiblati Edisi 10 Tahun I)

GC-MS and LC-MS typically use totally different mechanisms for ionisation. In GC-MS the sample is usually ionised directly (Electron Impact, EI), or indirectly (Chemical Ionization, CI) by an electron beam. The high-energy electrons cause the formation of free radical ions. These are ions because they’ve lost an electron, so they have the same mass as the parent, but an odd number of electrons.

In fact the electron beam is often energetic enough to cause substantial fragmentation. The fragments are also free radicals, and form the “fingerprint” that is used in confirmation of identity. This fingerprint is compared with library fingerprints; NIST is probably the most widely used library.

An example might be Aspirin, acetyl-salicylate. By EI in GC-MS, this has a tiny peak at 180amu, corresponding to the molecular ion (free radical; the MWt of acetyl salicylate is 180Da). But the major peaks are all fragments: 120, 138, 92, 43amu, and many others.

In contrast, the spectrum below is acetyl-salicylate measured in LC-MS, using electrospray ionisation, ESI (in negative mode):

Notice that the major ion is now 179amu. This is a pseudomolecular ion, formed by loss of H+. This is quite typical in electrospray: the major ion is formed without fragmentation (unlike EI), and it is formed by loss of H+ in negative mode, or by gain of H+, Na+, or some other ion (ammonium and potassium are quite common) in positive mode. Very often in positive mode, one sees a mixture. Peaks 22amu apart nearly always mean the H+ and Na+ ions of the same thing.

Acetyl salicylate is a very easily fragmented molecule, so two fragments are still visible even under the mild conditions of ESI. These are the ions at 137 and 93amu. Unfortunately ESI collision-induced fragmentations are often not very peak-rich, so they are often not such good “fingerprints” as EI spectra. They can also vary with instrument and conditions.

Notice also the peaks at 225 and 381amu. These are adducts. Unfortunately analytes often associate weakly in the spray-chamber in ESI, and then appear as adducts of two things together. 225amu is probably a formate acid adduct of acetyl salicylate (46+179), and 381 is a sodium dimer (179+179+23; notice there is still a single negative charge). Adducts are most problematic at high concentrations.

 

Download (gift from Dr. Lionel Hill, John Innes Centre, UK) :

1. Modul Training HPLC

2. Modul Training MS