Archive for March 26th, 2012

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’,  dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri ia berkata: telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abdullah bin ‘Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya:

Bahwa Heraclius mengundang rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam, pada saat berlakunya perjanjian Hudaibiyah antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya’ mereka menemui Heraclius atas undangan Heraclius untuk didiajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi.

Heraclius berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraclius berkata:

Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?.
Abu Sufyan berkata, “maka aku menjawab”, Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia.

Heraclius berkata: Dekatkanlah dia denganku dan tempatkan sahabat-sahabatnya di belakangnya.

Lalu Heraclius berkata melalui penerjemahnya: Katakan kepada mereka bahwa aku akan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap orang ini, jika ia berdusta kalian katakanlah bahwa ia berdusta !

Ia (Abu Sufyan) berkata: “Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya.

Abu Sufyan berkata: Maka yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah:

Bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?

Aku jawab: Dia berasal dari keturunan mulia.

Tanyanya lagi: Apakah ada orang lain yang menyerukan ajaran ini  sebelum dia? Aku jawab: Tidak ada.

Tanyanya lagi: Adakah di antara bapak-bapaknya yang berasal dari keturunan raja? Jawabku: Tidak ada.

Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang lemah? Jawabku: Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang yang lemah.

Dia bertanya lagi: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang? Aku jawab: Pengikutnya terus bertambah.

Dia bertanya lagi: Apakah ada yang murtad disebabkan benci terhadap agamanya? Aku jawab: Tidak ada.

Dia bertanya lagi: Apakah kalian menuduhnya sebagai seorang pendusta sebelum ia menyerukan ajaran ini? Aku jawab: Tidak.

Dia bertanya lagi: Apakah dia pernah berkhianat? Aku jawab: Tidak pernah, sekarang ini kami berada dalam ikatan perjanjian dengannya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan perjanjian tersebut.

Abu Sufyan berkata : Aku tidak kuasa menambah-nambah perkataan selain dari kalimat tersebut.

Dia bertanya lagi: Apakah kalian berperang melawannya? Aku jawab: Iya.

Dia bertanya lagi: Bagaimana kesudahan perang tersebut?

Aku jawab: Perang antara kami dan dia seimbang. Terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia.

Dia bertanya lagi: Apa yang diperintahkannya kepada kalian?

Aku jawab: Dia menyuruh kami: ‘Sembahlah Allah semata dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. ‘

Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturrahim.

Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang nasab orang itu, lalu kamu katakan bahwa orang itu dari keturunan mulia. Demikianlah keadaan para Rasul, meraka diutus dari nasab yang mulia di antara kaumnya.

Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang yang menyerukan ajaran ini sebelumnya, kamu jawab, “Tidak”. Seandainya ada orang lain yang menyerukan ajaran ini sebelumnya, niscaya aku katakan bahwa orang ini hanya meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa.

Aku tanyakan juga kepadamu adakah dari bapak-bapaknya yang berasal dari keturunan raja, maka kamu jawab, “Tidak”. Sekiranya ada salah seorang dari bapaknya yang berasal dari keturunan raja, niscaya aku katakan bahwa ia hanya seorang yang menuntut kerajaan bapaknya.

Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian menuduhnya pendusta sebelum menyerukan ajaran ini, kamu menjawabnya, “Tidak”. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah.

Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang lemah? Kamu menjawab, “orang-orang yang lemah yang mengikutinya. Memang begitulah pengikut para Rasul.

Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah pengikutnya bertambah atau berkurang, kamu menjawab, “Pengikutnya terus bertambah”.

Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna.

Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan benci terhadap agamanya setelah memeluknya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati.

Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin berkhianat.

Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturrahim.

Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa dia pasti akan muncul, namun aku tidak menduga jika dia berasal dari bangsa kalian. Seandainya aku bisa sampai ke sana, tentu aku akan berusaha keras menemuinya. Dan sekiranya aku telah bertemu, pasti aku akan basuh kedua kakinya.

 

bersambung…
(insyaAllah tentang Surat Rasulullah kepada Heraclius)

 

Dikutip dari : Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari), Kitab Permulaan Wahyu, Hadits ke 7
Terjemahan Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari, Terbitan Pustaka Imam Syafi’i