Archive for March 6th, 2012

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tampaknya mulai melunak terkait kewajiban publikasi jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan S-1, S-2, dan S-3. Ketentuan itu diedarkan melalui surat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada 27 Januari. Pro dan kontra datang dari kalangan perguruan tinggi. Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Senin (27/2/2012), menyiratkan bahwa ketentuan tersebut hanya bersifat dorongan. Nuh mengatakan, surat edaran Ditjen Dikti memang tak memiliki kekuatan hukum.

“Surat edaran Dikti memang tidak ada kekuatan hukum. Tapi kita mendorong ke arah sana,” kata Nuh kepada para wartawan di sela-sela Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK), di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Bojongsari, Depok, Senin (27/2/2012).

Akan tetapi, menurutnya, aturan itu berbanding lurus dengan upaya memperbanyak produksi jurnal ilmiah. Nuh mengungkapkan, jurnal ilmiah yang dihasilkan mahasiswa saat ini masih sangat rendah dan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa. Jumlah produksi jurnal ilmiah Indonesia hanya sepertujuh dari jurnal ilmiah yang diterbitkan negara tetangga Malaysia.

Sementara itu, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Idrus Paturusi menjelaskan, MRPTN dan Dirjen Dikti telah menyepakati surat edaran itu hanya sebagai dorongan. Ia mengatakan, karena sifatnya hanya dorongan, maka tidak ada sanksi bagi mahasiswa yang tidak menjalankannya.

Artinya, kata dia, mahasiswa yang bersangkutan tetap bisa lulus meski makalahnya gagal diterbitkan dalam jurnal ilmiah.

“Tidak ada sanksi untuk itu. Hanya mendorong agar mahasiswa membuat makalah dan memasukannya ke jurnal. Baik jurnal internal kampus maupun internasional,” kata Idrus.

Ia menegaskan, surat edaran itu hanya bersifat dorongan untuk membangun kesadaran menulis. Akan tetapi, predikat kelulusan tetap akan berbeda antara mahasiswa yang berhasil dengan mahasiswa yang gagal melakukan publikasi makalah dalam jurnal ilmiah. Gagalnya publikasi makalah dalam jurnal ilmiah akan berpengaruh pada penilaian akhir.

Seperti diberitakan, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdikbud mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan seluruh mahasiswa (S-1, S-2, dan S-3) melakukan publikasi makalah dalam jurnal ilmiah. Alasan utamanya adalah untuk merangsang budaya analisis dan penulisan ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.

 

Sumber : Kompas.com

Bagi penggila buku, khususnya buku yang bernuansakan Islam, jangan lewatkan event pameran buku Islam yang bakal digelar pada 9-18 Maret 2012 mendatang di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Selain pameran buku, juga menjadi ajang pertemuan komunitas antar para penulis buku Islam.

Islamic Book Fair (IBF)  yang digelar di Indonesia memang tak setenar Cairo International Book Fair, namun IBF tak kalah spektakulernya dibanding Cairo International Book Fair. Dari sejumlah pameran buku yang digelar di Indonesia, IBF adalah pameran buku terbesar dan terlengkap.

Di even ke-11 pada 9-18 Maret 2012 akan datang, panitia menargetkan 1.850 judul buku baru dan tidak kurang satu juta buku yang akan dipamerkan di ajang yang akan digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta itu. “Kami menargetkan 1.850-2.000 judul buku baru dari berbagai kategori,” kata Ketua Panitia IBF ke-11 Khaeruddin.

Tak sekadar menarik minat pengunjung dalam negeri, pameran buku terbesar dan terlengkap ini juga menyedot perhatian pengunjung luar negeri, khususnya mereka yang berasal dari negeri jiran, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand dan lainnya. “Alhamdulillah, kita patut bersyukur karena IBF cukup menarik mereka. Ini menunjukkan bahwa IBF sudah diterima mereka,” tambah Khaeruddin.

Selain karena diskon yang super besar, konsep acara juga menjadi daya tarik pengunjung pameran IBF. Untuk IBF tahun ini, panitia memadukan unsur reliji, wisata, edukasi keluarga. Selama 10 hari penyelengaraan, panitia menyediakan dua panggung acara, yaitu panggung utama dan anggrek ditambah acara kids corner di selasar. “Ada 70-an acara yang akan mengisi IBF, baik dari peserta maupun lembaga lainnya,” ujar Khaeruddin.

Selain acara temu tokoh nasional dan internasional, akan ditampilkan juga launching beberapa produk dan bedah buku terbaru dari masing-masing penerbit. Seperti tahun sebelumnya, di tahun ini panitia masih mempertahankan festival nasyid yang dari tahun ke tahun cukup menyedot banyak pengunjung. “Pra acara dilakukan di sejumlah mall, seperti Mall Ekalokasari Bogor, Depok Town Square, dan Metropolitan Square Tangerang. Finalnya di panggung utama acara IBF ke-11,” kata Khaeruddin.

Yang juga cukup unik dari IBF ke-11 tahun 2012 ini, panitia menggelar Festival Studi Islam dan Matematika Anak Muslim (FESMA). Di even pertama kali ini, panitia bekerjasama dengan majalah Gontor.  Hingga saat ini, IBF telah 10 kali diselenggarakan. Setiap tahun angka pengunjung selalu mengalami peningkatan. Di IBF 2012, panitia menargetkan jumlah pengunjung sebesar 285.000-300.000 pengunjung selama sepuluh hari penyelenggaraan dengan total target transaksi meningatkan 15-20% dari tahun sebelumnya. “Tahun kemarin transaksi senilai 95 M. Target tahun ini insya Allah meningkat 15-20%nya,” pungkas Khaeruddin.

Ketua IKAPI DKI Jakarta HE Afrizal Sinaro mengharapkan, IBF ke-11 yang digelar pada 9 Maret 2012 akan datang, tampil lebih baik dan berkelas sehingga pameran buku Islam ini tak hanya menjadi tuan di rumah sendiri, tapi juga menjadi kiblat masyarakat dunia.

 

Sumber : voa-islam

Lihat : Jadwal Acara Islamic Book Fair 2012

Download : Peta Stand IBF 2012