Retardaction factor, alias Rf, adalah sesuatu yang menjadi target mahasiswa dalam suatu praktikum KLT. Rf analog dengan waktu retensi pada GC atau HPLC, yang menunjukkan ketertahanan senyawa pada fasa diam. Rf diperoleh dari perbandingan jarak tempuh spot senyawa terhadap jarak tempuh eluen pada plat KLT. Rf inilah yang dianggap sebagai sesuatu yang khas dan menjadi identitas dari suatu senyawa, oleh karena itu biasa dijadikan patokan dalam analisis kualitatif.

Mungkin selama ini pemanfaatan KLT baru sebatas itu, paling tidak itu yang terjadi pada sebagian mahasiswa, membandingkan spot-spot yang dihasilkan oleh sampel terhadap spot standard. Kalau ada spot yang Rf-nya sama dengan Rf standard, berarti sampel tadi “diduga” mengandung senyawa yang sama dengan standard. Tapi jangan berhenti sampai disini !

Anda pernah melihat pipa kapiler yang ada ukuran volumenya, untuk menotolkan sampel pada plat KLT? Atau sejenis pipet mikro yang biasa digunakan untuk mengambil sampel dengan volume yang sangat kecil.

Ya, itu adalah salah satu komponen penting dalam pemanfaatan KLT lebih jauh.

 

Dengan mengetahui ukuran pipa kapiler atau pipet mikro, kita akan tahu kuantitas standard. Misalnya kita buat larutan standard terlebih dahulu dengan konsentrasi 1000 ppm, atau 1000 mg/L atau 1000 μg/mL atau 1000 ng/µL. Bingung? Jangan bingung, ini hanya konversi sederhana.

 

Sekarang kita berandai-andai punya pipa kapiler berukuran 2 µL. Kalau kita ambil larutan standard dengan pipa kapiler sebanyak satu kali, lalu kita totolkan pada plat KLT, berapa ng berat standard yang ada pada plat? 2000 ng bukan? Atau 2 μg. Perhatikan bahwa makna 1 totol di sini adalah 1 pipa kapiler terisi penuh lalu kita totolkan sampai habis pada plat KLT.

Mari berandai-andai lebih jauh. Kalau kita punya standard klorofil 1000 ppm, kemudian kita totolkan dengan pipa kapiler 2 µL sebanyak 5 kali, berapa berat standard yang ada pada plat? Ya tinggal dikalikan aja, 2000 ng kali 5 jadi 10000 ng atau 10 μg. Lalu disebelahnya kita totolkan sebanyak 10 kali, jadi ada 20 µg. Dan di sebelahnya lagi kita totolkan 20 kali, jadi ada 40 μg. Jadi kita akan punya 3 spot standard yaitu spot 10 μg, 20 μg, dan 40 μg. Kira-kira apakah intensitas warnanya akan sama? Owh, tentu tidak. Menurut logika yang masih sehat, intensitas warnanya kurang lebih akan proporsional dengan kuantitas (berat) standard. Jadi perbandingan intensitas warnanya kurang lebih 1 : 2 : 4.

Mulai terbayang kan? Kira-kira bisa gak KLT digunakan untuk analisis kuantitatif? Sepertinya bisa, kan kolorimetri visual juga bisa digunakan untuk analisis kuantitatif, dasarnya juga mirip yaitu intensitas warna.

bersambung …


2 Responses to “KLT, Bukan Sekedar Analisis Kualitatif (bag.1)”

  • Le says:

    menurut saya, kolometri visual masih belum merepresentasikan analisa kuantitatif, karena disana masih belum terminimalisis human eror dalam hal ini adalah mata.

    Mata setiap orang akan berbeda2 dalam menangkap spektrum warna. Belum lagi yang buta warna tapi tidak sadar…

    piss wae

  • Ashadi Sasongko says:

    metode ini masih sering digunakan karena sederhana.
    dia termasuk analisis kuantitatif meski tak dapat dipungkiri bahwa faktor subjektifitas menyebabkan perbedaan hasil analisis.
    silahkan buka kembali Vogel: Analisis Kuantitatif Anorganik

Leave a Reply